Tentang Kami

Akhir 2012, kami, para birokrat yang mengaku suka sastra dan jenuh dengan monotonnya ruang kubikel kantor berdiskusi dan memutuskan untuk membuat sebuah wadah untuk belajar dan berbagi passion yang kami miliki dalam bidang tulis-menulis, terutama soal sastra. Wadah yang segera dituangkan ke dalam ruang di dunia maya, yaitu birokreasi.

Segera setelah wadah ini tercipta, muncul dua beban yang muncul di hadapan kami. Masalah pertama jelas, kami akan dibayang-bayangi oleh paradigma birokrat yang selama ini erat dengan gambaran orang yang kaku–pragmatis, susah diajak berkreasi dan bekerja sama dalam belajar. Masalah kedua, lebih kepada beban mental terhadap tema yang akan kami usung, yaitu sastra. Selama ini, persoalan sastra identik dengan mereka yang telah menekuni dunia ini dengan serius. Sastra seolah-olah berada pada kasta teratas yang sangat sukar dijangkau oleh orang awam.

Namun bukan berarti kami akan pesimis. Sebelum terciptanya birokreasi, kami sempat membuat beberapa event yang lumayan mendapat tempat bagi para pembacanya. Oleh sebab itulah, kami berniat mengembangkan kegiatan menyebarkan virus literasi melalui web birokreasi ini. Kami mungkin tak mengenal sastra dengan penuh seluruh, tetapi kami telah mencoba mendobrak pakem yang selama ini telah tertanam. Kami, para birokrat tak lagi terkungkum dalam genangan pemikiran pragmatis, tetapi mencoba bersenang-senang dan berkreasi bersama. Diharapkan dengan adanya tempat untuk berbagi ini, akan makin banyak kawan-kawan yang bergabung. Tak perlu lah merasa malu dan minder dengan penilaian orang akan sastra menurut versi kita.

Segera kirim tulisan-tulisanmu kepada kami, dan mulailah menjadi bagian dari Birokreasi. Because after all, bureaucracy can’t stop us from writing!

  • http://www.fotonyadeddy.com deddy

    semoga semua tulisan apapun dianggap sebagai sastra. kalaupun tidak ketemu ‘genre’ nya, masukkan saja ke genre ‘sastra tanpa sastra’, karena sastra adalah teks yang dihasilkan oleh alat…

    salam

  • mejakaca

    “Sastra seolah-olah berada pada kasta teratas yang sangat sukar dijangkau oleh orang awam.” Masa? Menurut saya sastra ada di rak buku-rak buku berdebu yang nggak pernah disentuh anak-anak sekolah–karena guru-guru dan kurikulum nggak mewajibkan mereka baca. Sastra ada di acara-acara peluncuran buku kecil-kecilan yang nggak diliput media massa mainstream dan nggak didatangi orang-orang padahal acaranya diumumkan di internet. Sastra ada dalam diskusi terbuka tentang upaya penulis-penerbit-pembaca untuk mempromosikan sastra Indonesia di panggung dunia; diskusi yang nggak dihadiri pemerintah yg sebetulnya punya kemampuan untuk melakukannya. Sastra ada, terjangkau, nggak pernah pergi, selalu ada: pada jam-jam saat orang-orang memelototi media sosial atau toko online. Kalau seorang PNS Depdiknas sampai bisa bertanya, “Sapardi itu siapa sih?” sebetulnya yang berada di kasta teratas dan tak terjangkau oleh realitas kerja sastra dan perbukuan itu siapa?

  • http://sastrakelabu.wordpress.com Jagunk

    Mas, mbokya template dari WordPress yang keminggris itu diindonesiain aja semua. Gak nyaman dibaca kalo masih ada template-template macem tu.