Play the Hand You’re Dealt, Mind Your Own Business

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang-bincang dengan adik kelas yang sudah lama tidak bertemu. Dia kebetulan sedang ada tugas di Jogja. Kami berbicara tentang banyak hal: masa lalu kami di kampus, cerita kehidupan masing-masing sampai saat ini, masalah pekerjaan di kantor masing-masing, hingga sampailah dia mengeluh tentang pembagian load pekerjaan yang tidak sebanding antara dia dan rekan kerjanya—penghasilan mereka relatif sama. Masalah klasik kaum remaja yang baru masuk dunia kerja. Di tulisan ini, saya mau share pendapat yang saya sampaikan kepadanya. Terlepas applicable dan ideal atau tidak secara akademis, ini murni pendapat dan cara saya untuk tetap bisa menikmati semua tantangan pekerjaan dengan hati riang.

Pertama, kita harus sadar bahwa adil bukan berarti sama. Kita harus paham bahwa kemampuan tiap orang berbeda-beda. Ada yang punya kemampuan 6, 7, 8, 9, bahkan 4. Kecepatan juga berbeda. Ada yang sanggup menghabiskan satu mangkok Mie Ayam Tumini dalam waktu lima menit. Ada yang harus memisah-misah isi mi ayam dulu baru memakannya bagian per bagian. Ada yang harus memisah, mencampur sedikit demi sedikit, baru memakan setelah komposisinya pas menurut selera. Begitu pun urusan pekerjaan. Ada yang pandai menulis cepat dengan tata bahasa yang baik. Ada yang bisa menghitung dengan cepat. Ada yang kemampuan analisisnya luar biasa. Ada yang pandai dan cepat dalam banyak hal, dan sebaliknya, ada yang lemah dan lambat dalam banyak hal.

Teori-teori manajemen sumber daya manusia sudah memberi panduan dalam membagi dan menempatkan berbagai macam karakter individu pada jenis pekerjaan yang tepat. Satu divisi memerlukan individu yang cepat dan kuat dalam analisa. Karena tidak semua pegawai seperti itu, mungkin saja mereka ditempatkan bersama rekan yang ritme kerjanya lebih lambat tetapi (mungkin saja) memiliki kemampuan lebih pada jenis pekerjaan lain. Namun, percayalah, kita tidak akan pernah menemukan segala sesuatu dalam kondisi yang serba-ideal. Dan sekeras apa pun kita mencoba dan berusaha, kita sendiri juga belum tentu ideal untuk orang lain.

Di dunia kerja, terkadang (seringnya sih, pasti) kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bekerja. Komunikasi itu penting. Kalau kita keberatan tentang sesuatu, komunikasikan kepada rekan kita. Barangkali akan ada barriers, entah penolakan dari rekan untuk berkomunikasi, kita sendiri yang malas membicarakan hal yang kita tidak yakin bisa diubah. Yang perlu diingat, siapkan dan sadarkan diri bahwa kita pasti juga punya kekurangan. Setelah itu, barulah menuju tahap selanjutnya: menerima kekurangan itu dan mau berubah jika ternyata mendapat keluhan dari rekan kita. Kalau rekan kita menunjukkan tanggapan positif, kemauan, serta komitmen untuk berubah, itu sangat bagus. Kalau tidak, saya punya tips buat menenangkan diri sendiri dan mempertahankan semangat juang yang (semoga) selalu tetap tinggi.

Cobalah berpikir tentang hal-hal positif yang selama ini mungkin belum kita sadari. Seperti, bila kita diberi pekerjaan jauh lebih banyak, bukankah itu artinya kita lebih dipercaya daripada orang lain? Hal itu akan merembet ke kepercayaan bahwa semakin banyak yang kita kerjakan, semakin banyak kesempatan kita untuk mencoba inovasi yang dapat mempercepat pekerjaan. Kita terdorong lebih kreatif.

Lebih dari itu, dengan makin banyak pekerjaan, cobalah mengapresiasi diri sendiri: kita memiliki kemampuan yang lebih daripada orang lain. Menurut saya itu juga upaya belajar bersyukur dan tidak menyia-nyiakan segala karunia Tuhan dalam bentuk kemampuan diri. Kalau bisa melakukan lebih banyak, eksistensi kita bakalan lebih bermanfaat. Mending mana, ada manusianya tetapi kontribusi cuma seiprit, atau menjadi seseorang yang kalau tidak ada bisa bikin goyang satu divisi? Bukankah kita kerja supaya bermanfaat untuk banyak pihak? Monggo, tinggal pilih mana suka.

Saya juga mau share soal rezeki di mindset saya. Saya berpikir bahwa rezeki memang sudah ada yang mengatur, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Namun, prinsip saya, kalau kita berusaha mencari dengan cara yang benar dan bertanggung jawab, rezeki juga akan dicukupkan. Rezeki tak cuma dalam bentuk uang, lo. Kesehatan, anak-anak yang happy, orang tua yang selalu sehat, suami yang pengertian, tetangga yang baik, kemudahan dalam banyak urusan, ketenangan dalam bekerja, support system yang bagus, itu juga rezeki yang tidak ternilai. Tidak usah iri dengan saldo rekening orang lain. Bagaimana masing-masing orang mempertanggungjawabkan rezekinya, itu urusan mereka dan pasti akan di-handle oleh Tuhan dengan sangat baik.

Adik kelas saya itu kemudian bercerita tentang teman seruangan yang kerjanya gitu-gitu ajaI actually don’t know what she means with gitu-gitu aja (lol)—tetapi paling getol dan kikrik banget memperjuangkan uang lembur dan dinas. Padahal, doi lembur pun tidak ngapa-ngapain dan tidak memberi kontribusi berarti. Dinas ke luar kota juga sekalian nengokin pacarnya. Saya tertawa sambil membatin dalam hati, ternyata adik kelas saya ini rese juga sama hidup dan duit orang lain. Saya sendiri, meskipun orangnya tak pedulian dengan omongan orang, tetapi kesal juga kalau ada orang yang segitunya mengamati kerjaan dan urusan dinas saya.

Menurut saya kita tak punya hak untuk tahu atau berkomentar tentang berapa dan bagaimana cara mereka mempertanggungjawabkan. Kita juga tak tahu kan, cara kita mempertanggungjawabkan segala yang kita dapat sudah benar atau belum? Ada orang yang dilebihkan dalam urusan finansial tetapi (amit-amit) rumah tangga dan anak-anaknya selalu mendapat masalah yang ada-ada saja. Ada yang diberi rezeki finansial cukup sekaligus rumah tangganya bahagia serta anak-anak lucu dan sehat. Ada juga yang pas-pasan dalam hal keuangan (bahkan mungkin kurang) tetapi keluarganya (puji Tuhan) sehat, anak-anaknya diberi kemudahan dan prestasi luar biasa.

Intinya, semua tergantung manusianya. Sirik itu manusiawi tetapi please jangan gemar menambah kotoran pada pikiran yang sudah banyak nodanya. Tak perlu buang-buang energi untuk itu. Hal seperti itu cuma bisa mengurangi optimalitas dalam menikmati hidup. Cuma berpikir apa yang mau dimasak nanti malam saja, atau besok bisa memberi education games apa buat anak-anak saja, pikiran saya sudah terasa penuh. Buat apa memikirkan yang tak penting? Focus on your own life, just mind your own business, please. Namun, saya akui, ada kalanya enak juga mendengar curhatan hal pribadi teman-teman yang dari luar kelihatan apa-apanya. Enak karena bisa mbatin kasihan. It’s true.

So, untuk yang merasa lelah dengan segala ketidakadilan yang merajalela di kantor atau di mana pun, please gosah lebay dan meraung-raung. Sejauh tidak melenceng dari tugas dan kewajiban kita, dan sejauh kita sanggup (apalagi masih punya waktu untuk sejenak berleha-leha), kalau saya sih why notBelieve it or not, banyak menganggur seriously lebih melelahkan hati daripada banyak kerjaan. Kan roda berputar. Lebih baik membiasakan diri untuk hal yang berat karena kalau nanti mendapat kemudahan, akan terasa luar biasa nikmat. Kalau terbiasa dengan kemudahan, dari mana kita bisa tahu dan siap menghadapi tantangan yang lebih berat?

Dan satu lagi, ketika sudah memilih dan berkomitmen untuk bekerja, just play the hand you’re dealt.

Post-scriptum: versi asli tulisan ini dapat dibaca di blog penulis.