Stasiun Tujuan

Udara sedikit dingin pagi itu. Sam, seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas di Jakarta, berjalan gontai memasuki area stasiun yang sudah ia akrabi beberapa tahun terakhir. Bau karat dan bising panggilan keberangkatan dari pengeras suara di sudut-sudut stasiun seperti sarapan yang mengenyangkan baginya. Belum lagi hentakan dari kaki-kaki yang berkejaran dengan waktu, adalah lagu pembuka setiap harinya.

Dug!

Seorang ibu paruh baya beberapa langkah di depan Sam baru saja ditubruk seorang lelaki yang begitu terburu-buru. Seorang lelaki yang bisa dibilang dewasa muda, mungkin sudah punya satu jagoan. Tapi ternyata ia belum cukup dewasa untuk sekadar menyampaikan maaf. Ibu paruh baya itu hanya mengelus dadanya perlahan, sebelum membungkuk mengambil tas kainnya yang terjatuh. Sam buru-buru menghampiri.

“Ibu tidak apa-apa?”

Ibu itu sedikit terkejut karena disapa oleh seorang anak muda yang tak dia kenal. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka acuh tak acuh, sibuk dengan urusan masing-masing.

“Ndak apa-apa, Nak. Cuma heran saja, orang-orang kebanyakan sibuk lari mengejar kereta sampai nabrak-nabrak orang kayak tadi. Padahal, ujungnya mereka naik kereta yang salah, bukan kereta yang akan bawa mereka ke tempat yang mereka tuju.”

Si ibu lalu berjalan meninggalkan Sam yang masih berdiri mematung. Tiba-tiba alat pengeras suara berdenging dan menyadarkan Sam, diikuti suara laki-laki dengan intonasi serta narasi yang selalu sama setiap hari. Kereta yang akan membawa Sam menuju kampus sebentar lagi tiba. Sam mempercepat langkah menuju peron. Kata-kata tentang kereta yang salah dari ibu tadi terlupa seketika. Di sebelahnya, seorang lelaki seusianya berkali-kali memperhatikan jam di pergelangan tangan kanannya. Ia terlihat gelisah. Menunggu memang pekerjaan menjengkelkan sekaligus sulit ditolak pada banyak kasus.

Di sebuah stasiun kecil, kereta berhenti. Pintu-pintu yang terbuka segera disambut oleh orang-orang yang sepertinya tak punya kesabaran lagi. Tak ada satu orang pun yang terlihat ingin mendapat giliran terakhir untuk masuk ke dalam kereta. Sikut beradu sikut. Orang-orang yang bertubuh kecil mencoba menyelinap, orang-orang bertubuh besar memaksakan tubuhnya, orang-orang yang sudah di dalam gerbong berebut oksigen. Kereta yang tak lagi punya celah itu kembali diberangkatkan.

Mentari sudah mulai meninggi saat kereta menyusuri petak-petak perumahan triplek yang lebih mirip dengan kandang. Tepat di depan pemukiman itu, berjejer anak-anak kecil berkepang dua. Senyum mereka mengembang melihat tubuh kereta melewati depan rumah mereka. Beberapa melambai-lambaikan tangan. Sungguh menjadi hiburan tersendiri bagi Sam di tengah himpitan penumpang di sekelilingnya. Persis seperti kepadatan ibu kota yang semakin ke sini semakin membuat orang sulit bernafas.

“Iya, Pa. Penuh banget keretanya. Padat banget,” Suara seorang ibu muda yang memang cukup keras itu tertangkap oleh telinga Sam. Ibu muda itu tersempil di antara tubuh besar bapak-bapak tak jauh dari tempat Sam. Ia berbicara di telepon dengan seseorang yang entah suami entah ayahnya. Wajahnya memperlihatkan behwa ia tak nyaman.

“Baru pertama kali naik kereta kali, ya?” kali ini sahutan berbisik didengar oleh Sam dari arah belakang.

“Kalau nggak mau padet-padetan, nggak usah naik kereta,” sahut yang lain, masih dari arah belakang Sam.

Beberapa orang yang tak sengaja mendengar bisik-bisik itu langsung menangkap gerak-gerik ibu muda yang baru saja menutup teleponnya itu. Ia langsung menunduk seakan tertangkap basah melakukan satu kesalahan. Suasana yang memang sudah padat menjadi terasa semakin padat.

“Mengapa selalu saja ada orang-orang yang gemar sekali mengomentari kehidupan orang lain?” pikir Sam. Kita memang terkenal sebagai masyarakat dengan keramahan dan kepedulian tinggi. Beberapa bahkan terlampau peduli sampai harus mengomentari urusan orang lain tanpa mengetahui latar belakang yang sebenarnya. Tingkat kepedulian yang barangkali bisa menghambat laju pemanasan global seandainya kepedulian itu disalurkan untuk meringankan keapesan orang lain.

***

“Sampai di sini dulu kuliah hari ini. Sampai ketemu lagi di pertemuan selanjutnya. Selamat sore.”

“Selamat sore, Pak!”

Para mahasiswa tingkat akhir itu langsung bergegas meninggalkan kursinya. Semangat di penghujung jam kuliah selalu terpancar pada wajah mereka dibanding ketika jam kuliah dimulai. Semangat yang pernah Sam rasakan juga ketika kuliah dulu.

Ia memilih berada di kelas lebih lama. Mengajar memang sebuah pekerjaan yang tidak mudah, ia mengambil seluruh tenaga, waktu, dan stok kesabaran Sam. Ia jadi paham perasaan dosen-dosennya dulu. Titel dosen telah mengubah Sam dewasa menjadi lebih bijak. Matanya menangkap bayangannya sendiri dalam kaca ruang kelas ketika beranjak keluar. Wajahnya terlihat semakin keras, bukti bahwa ia telah berusaha untuk menaklukkan diri sendiri.

Sam sudah berada di depan stasiun. Bau besi berkarat yang sangat dia rindukan sudah tercium. Waktunya pulang dan berkumpul dengan keluarga.

Dug!

Tepat ketika memasuki pintu stasiun dengan beribu pikiran di kepala, ia tak sengaja menubruk seorang ibu paruh baya dan membuat tas plastik si ibu terlepas dari genggaman.

“Aduh! Maaf, Bu.”

“Iya, ndak apa-apa. Makasih, ya.”

Segera Sam mengambilkan tas plastik itu. Ibu itu tersenyum setelah menerima tas plastiknya dan kembali berjalan. Pikiran Sam langsung berkelana kepada peristiwa beberapa tahun lalu. Bersamaan dengan itu, telinganya menangkap bising kereta yang melambatkan laju ketika mendekati stasiun.

Sam tersenyum. Kata-kata ibu paruh baya beberapa tahun lalu itu terasa lebih mudah dimengerti sekarang. Setiap orang pasti memiliki tujuan berupa kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Namun, kesuksesan sejati bukanlah yang dapat diukur dengan materi. Bagi Sam, kesuksesan adalah menciptakan kerukunan dan kenyamanan hidup dengan menghormati orang lain. Bukan juga kebahagiaan fana yang diukur dengan popularitas, tapi kebahagiaan yang menentramkan hati karena rasa persaudaraan dan saling membantu tanpa pandang bulu.

Tujuan itu jelas dan nyata. Sayangnya, kebanyakan orang mengejar kereta yang salah. Sekalipun sudah berlari dan terburu-buru, bahkan menabrak hak orang lain, mereka tidak akan pernah sampai. Kereta yang mereka naiki hanya berhenti di stasiun-stasiun yang fana dan sementara. Jika sudah tahu kereta dengan jurusan yang benar, kenapa tidak mengejarnya sejak awal? Kalau sudah terlanjur salah naik, kenapa tidak bergegas turun?

Sam lagi-lagi tersenyum. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami maksud perkataan ibu paruh baya tersebut. Tiba-tiba pengeras suara di sudut-sudut stasiun kembali bersuara. Itu adalah panggilan keberangkatan selanjutnya. Sam bergegas. Ia ingin menaiki kereta dengan jurusan yang benar kali ini.