Lagu Lama

Baru saja kau bertanya tentang bangunan yang berjinjit menggapai langit

Di ujung jalan kau berhenti dan mulai membaca

Yang ada hanya sampah polusi dan sahutan klakson

Tak ada lagi ruang untuk bernafas dan waktu istirahat, katamu

 

Kenapa harus ada merah di atas putih?

Tanyamu lagi pada lalu lalang yang tak punya waktu untuk menoleh

Ini pasti bukan tentang kereta yang terlambat dan anak manusia yang menangis

Ada satu makna yang belum kau mengerti, hal semacam ini selalu saja tentang cinta

 

Di satu pagi yang kau ciptakan sendiri dengan keheningan

Seduhan kopi terasa sedikit pahit untuk sebuah perubahan

Memang seharusnya mulai hari ini kau tak usah membaca koran

Sampai kau tahu bahwa seseorang bisa menjadi orang lain karena satu alasan

 

Di luar hujan sudah jatuh dan tertidur pulas

Di balik pintu kau berdendang tanpa irama

Sehelai merah putih itu layu diterabas deras hujan

Dan kau pun tergugu memeluk harapan yang membisu

 

Esoknya kau jumpai seorang kakek tua di stasiun kereta

Ia bercerita tentang waktu yang sudah lama tertinggal di saku celana

Dahulu ketika langit masih berupa anak kecil berkepang dua

Ia kerap memegang senjata dan berharap mati pagi-pagi sekali

 

Lalu irama lagu lama dari radio tua berhasil membangunkamu

Orang bilang tanah kita tanah surga, lirik lagu itu

Sontak membuatmu menggelengkan kepala dan menghentikan cerita

Jelas saja, katamu, ini bukan surga

 

Karena di surga tak akan ada polusi

Tak akan ada kebisingan

Dan tak akan ada seorang kakek tua yang tinggal di stasiun kereta