Harga Mati

Secangkir kopi di atas meja itu baru saja selesai diseduh

Uap panasnya menjalar mengitari tempat gaduh

Namun hitamnya diam-diam menghasut sang pemburu teduh

Pekatnya menyesap suara orang-orang yang berkeluh

 

Kedai kopi itu sebentar lagi berhasil menenun sejarah

Ketika para lelaki yang dulu berseragam itu mulai saling bersanggah

Senjata di saku celana mereka sudah raib dimakan waktu

Berganti minyak angin untuk melawan malam yang menggigit pilu

 

Entah keberuntungan ataukah kemalangan

Ketika waktu senja masih berpihak pada mereka

Setelah kemarin pagi langit dipenuhi lemparan batu dan bising tembakan

Peluh dan darah mereka kini seakan tak ada harganya

 

Lalu kemerdekaan itu untuk siapa?

Kemerdekaan itu diperjuangkan untuk apa?

Pipi sang rembulan merona melihat mereka yang berambut putih terkekeh mesra

Biarlah, terkadang hidup ini memang lucu, kata mereka

 

Entah ini sudah cangkir kopi yang ke berapa

Mereka masih saja tenggelam dalam reka-reka

Nyatanya harapan itu memang masih meraja dalam dada

Tentang laku pemuda yang menjadi tonggak utama

 

Malam sudah mulai beranjak menuju pagi

Denting cangkir kopi yang terakhir menutup perjumpaan hari

Mereka yang lebih dulu pulang dalam kedamaian abadi

Tetap mengantungkan kecintaan sejati pada negeri

 

Bagi mereka, yang rela menggantungkan nyawanya sendiri

Indonesia, adalah harga mati