Sumbangan

“Kalian yang suka ke stasiun Manggarai, ada yang pernah ketemu kakek-kakek ini? Aku lihat dia ngumpulin bekas botol minuman yang masih ada isinya dari tempat sampah, dituang ke satu botol buat diminum. Aku lihat dia sambil antre mau beli mocca float langsung lemes. Aku buru-buru samperin, nanya udah makan atau belum. Ternyata belum. Akhirnya, aku beliin makan siang dan air mineral. Aku temenin beliau makan.”

Barangkali Anda pernah melihat narasi semacam itu diunggah seseorang di media sosial. Saya sering. Foto-foto orang berusia lanjut atau anak-anak di bawah umur dari kalangan ekonomi lemah, diberi pengantar menyentuh hati, yang kemudian berujung ajakan untuk membantu. Bahkan ada grup sengaja dibuat untuk “mengorganisasi” orang-orang dermawan, seperti Komunitas Tangan di Atas dan Ketimbang Ngemis Jakarta.*

Sumbangan (baik dalam bentuk zakat, infak, sedekah, atau apa pun namanya) memang bisa meringankan masalah orang miskin. Pertanyaanya, berapa banyak yang harus disumbang? Dan sampai kapan kita mampu menyumbang?

Saya tak akan mengatakan sumbangan sama sekali tak berguna. Ia masih sangat berguna apalagi untuk masalah-masalah non-struktural seperti bencana alam. Namun kemiskinan adalah hal yang sangat berbeda. Ia adalah masalah struktural sejak dari hulunya.

Ada kecacatan dalam modus ekonomi yang selalu meniscayakan kemiskinan: alat-alat produksi hanya bisa diakses oleh golongan tertentu, nilai lebih diakumulasi justru bukan oleh penciptanya, jumlah komoditas diproduksi tak sesuai kebutuhan, harga sepenuhnya dilepas kepada mekanisme pasar, pertumbuhan ekonomi dipaksa terus meningkat di atas sumber daya yang tak bisa meningkat, dan banyak lagi.

Apesnya, kecacatan tersebut telanjur diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Kemampuan ekonomis setiap orang pun akhirnya selalu dianggap alami. Anda kaya secara alami, orang lain miskin pun alami. Sebelum berani mengakui kecacatan tersebut untuk kemudian merombaknya, apa pun upaya untuk menghapus kemiskinan hanyalah mitos.

Anggapan bahwa sumbangan sebagai solusi untuk masalah sepelik kemiskinan sama dengan anggapan bahwa meminum vitamin C setiap hari dapat mengobati diabetes. Sejak diajarkan oleh orang-orang suci berbilang abad lalu, sumbangan tak terbukti bisa menghapus kemiskinan. Sumbangan hanya mengurangi penderitaan sedikit orang untuk sementara.

Garis bawahi kata-kata ini: mengurangi, sedikit, dan sementara.

Tentu tak masalah jika tujuan Anda bukan menghapus kemiskinan, melainkan lari dari rasa bersalah seperti saya. Dengan menyumbang, saya sebenarnya sedang membeli moral correctness untuk diri sendiri. Saya sudah berbuat sesuatu untuk mengurangi nasib buruk orang lain. Saya tidak menutup mata pada kesenjangan ekonomi di sekeliling. Saya melakukan hal baik menurut agama.

Pada akhirnya, sumbangan hanya mereproduksi status quo saya sebagai seorang filantropis, humanitarian, atau paling banter organisator sumbangan. Hati terasa hangat, pahala insya Allah didapat, bonusnya reputasi meningkat. Amin.

“When I give food to the poor, they call me a saint. When I ask why they are poor, they call me a Social Justice Warrior,” kata seorang filsuf dari Slovenia, Della Monica. Namun buat apa menjadi Social Justice Warrior kebanyakan wacana jika ujungnya hanya menjadi olok-olok warganet kelas menengah indon yang cerdik cendekia pula bijak bestari?

Cukuplah gemar menyumbang seperti saya. Anda cukup memberi makan orang yang lapar tanpa perlu bertanya kenapa mereka lapar. Karena pertanyaan semacam itu sangat merepotkan. Ia akan memaksa Anda memeriksa kembali privilese yang membuat Anda tidak lapar saat orang lain lapar.

Membantu yang kesusahan, memberi makan yang lapar, mengobati yang sakit adalah jalan yang jauh lebih mudah untuk lari dari rasa bersalah. Bandingkan dengan menggugat rasio gini, mendakwa akumulasi nilai lebih oleh kelas tertentu, merebut alat-alat produksi, merombak modus ekonomi yang eksploitatif, atau mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Selain tak pernah diajarkan oleh agama mana pun, jalan semacam itu jelas sulit ditempuh.

Jadi biar saja seperti itu. Biarkan mereka tetap lapar agar kita selalu bisa memberi makan kapan pun kita inginkan. Biarkan jurang kesenjangan ekonomi makin dalam dan lebar. Biarkan mekanisme pasar tetap bebas meski sebenarnya tidak bebas-bebas amat. Biarkan alat-alat produksi hanya dimiliki golongan tertentu. Biarkan nilai lebih diakumulasi hanya oleh yang mampu.

Kita cukup menikmati remah-remah dari modus ekonomi yang sudah mapan. Sesekali menciprati orang lain sebagai pelarian dari rasa bersalah bentuk rasa syukur. Sembari terus membicarakan kampret dan cebong, bendera apa yang dibawa Zohri, berapa berat perempuan saleha, gosip skandal seks tokoh tertentu, atau keceketeran lain sebagai bukti kita punya kepedulian terhadap isu-isu sosial.

*)  Meski tak menganjurkan sumbangan secara cuma-cuma, kampanye grup Ketimbang Ngemis Jakarta sebenarnya tak jauh berbeda dengan menyumbang. Kita membeli barang bukan karena kebutuhan melainkan semata kasihan kepada penjualnya. Di sisi lain, kita tetap menjaga martabat si penjual agar tak alih profesi menjadi pengemis. Jadi kita mendapat dua keutamaan alias combo!