Pencontek Pandai

Ketika masih sekolah dan kuliah, saya selalu menemukan teman seperti ini. Dia pandai tetapi tak bisa berangkat dari dasar pemikiran sendiri. Atau dia memiliki dasar pemikiran sendiri tetapi tak bisa memulai dengan modal yang ada. Seperti ada rasa bingung berkecamuk, harus memulai langkah dari mana.

Yang kemudian dia lakukan adalah mencari referensi sana-sini, alias mencontek kanan dan kiri. Dia kumpulkan semua hasil pekerjaan temannya, dia analisa semuanya, lalu dia sempurnakan dengan menambah pemikirannya.

Hasilnya?

Sempurna! Jauh lebih hebat dibanding pekerjaan teman-temannya. Jika guru atau dosen melihat hasil karyanya, tentu tak akan ditemukan plagiasi. Tak ada kesamaan kata, kalimat, atau paragraf dengan karya teman-temannya.

Cara kerja ini juga berlaku ketika ujian. Posisi di tengah adalah favoritnya. Dia bisa leluasa bertanya dan melirik dari kanan ke kiri, dari depan ke belakang (ini lagi ujian atau menari Gemufamire, sebenarnya?). Namun, yang pasti, hasil tariannya itu dirangkum sedemikian rupa, disempurnakan, dan diterbitkan ulang dengan redaksi yang lebih yahud.

Hasilnya?

Lulus dengan sempurna. Saya tak tahu manusia jenis apakah dia. Yang saya tahu, dia berhasil menerapkan pola ATM (amati-tiru-modifikasi) jauh sebelum cara ini terkenal di dunia bisnis.

Apakah mencontek salah?

Saya tak berani menjawab karena, sepemahaman saya, mencontek yang berdosa adalah yang dilakukan secara telanjang bulat: menyalin jawaban apa adanya, tanpa mengikutsertakan buah pikir sama sekali.

Tak seperti dunia persekolahan yang melarang pencontekan, dunia bisnis lebih permisif dengan orang-orang seperti ini. Tujuh notasi adalah batasan bagi sebuah lagu untuk dapat dikatakan hasil plagiat atau tidak. Faktanya, musisi sekarang banyak yang berhasil mendompleng kejayaan lagu musisi yang lebih populer, hanya bermodal kurang dari enam notasi.

Jika Anda penikmat mie instan, tentu tak asing dengan merek Mie Sedap. Jika Anda amati kemasannya, Anda akan mendapati desain yang tak jauh dari kemasan Indomie, merek yang lebih dulu populer. Ini juga berlaku untuk produk-produk berbeda, yang memang dari sananya sudah menargetkan diri hanya sebagai nomor dua.

Mungkin dunia pendidikan c.q. Kementerian Pendidikan perlu memberi batasan baru tentang definisi mencontek, khususnya mencontek-yang-berdosa dan mencontek-yang-tidak. Jika merunut pendapat banyak ahli pendidikan, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang memberi bekal ilmu tak jauh dari kenyataan. Dan metode ATM dengan nyata telah menjadi teman sukses dalam keseharian kita.

Mari mencontek!