Maaf

Kepada teman-teman yang patah hati oleh aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo,

Terrorism has no religion but terrorists do. Terorisme memang tak punya agama tetapi terorisnya punya. Saya tak akan memungkiri fakta bahwa agama saya sama dengan para teroris itu. Mereka melakukan kekejian pun atas nama agama yang sama-sama kami anut. Mereka mengaku membela Tuhan yang juga saya imani. Mereka saudara-saudara seagama saya. Penyangkalan atas keberadaan mereka sama dengan tidak mengakui ada hal salah yang harus diatasi.

Saya tak berani menduga bagaimana hancur leburnya hati kalian saat ini. Saya juga patah hati tetapi tak seberapa dibanding hati kalian yang luluh lantak. Saya punya anak balita dan ikut patah hati mengetahui dua anak teroris itu ikut dijadikan tumbal oleh orang tuanya. Tetap saja, sakit hati saya tak ada apa-apanya dibanding hati para orang tua yang remuk redam setelah anak-anaknya menjadi korban. Anak-anak itu tak bisa lagi pergi ke sekolah Minggu dengan riang dan bermain dengan sebayanya. Andai bisa, saya tak berani membayangkan entah bagaimana patah hatinya mereka melihat dunia sejak saat ini.

Saya bukan siapa-siapa dan tak punya hak mewakili siapa pun. Permintaan maaf juga tak akan mengembalikan apa pun. Namun, saya sungguh-sungguh minta maaf atas segala kekejian yang telah dilakukan oleh saudara-saudara saya. Bukan atas nama siapa-siapa melainkan diri saya sendiri.

Maaf untuk apa?

Sebagai saudara seagama, saya tak benar-benar berusaha mencegah mereka agar tak terjerumus pada pemahaman yang biadab. Jangankan mengajak kepada kebaikan, menghentikan mereka dari kemungkaran pun saya gagal. Padahal, mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran merupakan salah satu ajaran agama kami.

Saya juga tak cukup mampu membendung kabar-kabar HOAX di sekitar saya baik melalui WhatsApp maupun media sosial, terutama kabar-kabar yang berada di bawah payung agama. Saya tak kuasa menghentikan ujaran-ujaran yang mempromosikan kebencian, kekerasan, diskriminasi, intoleransi, intimidasi, dan politik identitas yang barangkali punya andil dalam membentuk iklim bagi perkembangbiakan bibit-bibit terorisme.

Bukan tidak mungkin, saya sendiri secara tak sadar ikut menjadi bagian dari iklim tersebut. Caci-maki, olok-olok, candaan, sarkasme, maupun perilaku yang saya tujukan dalam rangka menolak gagasan mereka, bisa jadi justru semakin meradikalkan mereka. Saya tak menyetujui mereka tetapi barangkali cara saya menyampaikan tak dapat membuat mereka simpatik.

Meski tak secara langsung, saya merasa kedua telapak tangan saya juga berlumur dosa. Saya harus mengaku ikut bersalah. Melalui tulisan ini, saya mohon maafkanlah saya. Ampuni saya. Sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya.

Yang ikut patah hati,

Saudara kalian dalam kemanusiaan.