Malam Tahun Baru

[Catatan editor: tulisan ini adalah cerpen yang diterjemahkan oleh Wahyu Widyaningrum dari  喜びは悲しみのあとに – Bitter with the Sweet, Takashi Uehara, Penerbit Gentosha Outlaw Bunko, 2004.]

              31 Desember. Akihiko Yunomura, 46 tahun, sedang membuat lukisan. Ia memulaskan warna di atas kanvas yang ditegakkan pada sandaran kanvas. Sesaat ia memandangi lukisannya. Memulaskan warna lain. Memandangi lagi. Dan terus berulang. Ia mulai melukis sekitar pukul 1 siang. Sekarang sudah pukul 8 malam.

               Akihiko adalah karyawan divisi penjualan sebuah perusahaan percetakan, sekaligus seorang pelukis. Akhir-akhir ini ia terpilih dalam sebuah pameran seni, dan juga menjadi anggota sebuah organisasi seni. Sekali dalam tiga tahun ia menggelar pameran tunggal. Mimpinya adalah bisa menghidupi diri hanya dari lukisan.

               Beberapa tahun belakangan, ia menghabiskan malam tahun baru dengan melukis. Namun itu bukan karena ia lebih menyukai melukis daripada apapun. Akihiko, yang tinggal sendirian, tidak bersih-bersih akbar, juga tidak membuat masakan osechi—menu aneka rupa yang disajikan dalam wadah kotak, khas tahun baru. Ia tidak makan mie soba khas tahun baru, tidak juga menonton tayangan ‘NHK Kouhaku Uta Gassen’. Ia cuma melukis. Namun itu pun bukan karena ia beranggapan bahwa melukis adalah cara yang menyenangkan untuk melewatkan malam tahun baru.

               Akihiko meletakkan kuas, mengelapkan tangannya pada kain. Ia lalu mengambil bir kaleng dari dalam lemari pendingin, juga membuka kaleng sarden. Lantas ia menghampiri meja, meminum bir. Setelah itu ia menghela satu nafas panjang.

               Matanya tertuju pada potret Kiko Kizugawa yang terletak di atas meja. Alis tebal, mata besar dengan kelopak mata berlapis, lubang hidung kecil, bibir tipis; wajahnya tak ubahnya seperti bule. Akihiko menuang bir ke dalam gelasnya sambil berulang kali menghela nafas panjang.

***

               Ketika Akihiko berusia 40 tahun, ia berkenalan dengan Kiko yang berusia 32 tahun. Sebagai seorang penulis di sebuah majalah pemasaran, Kiko datang ke gedung lokasi pameran tunggal Akihiko untuk wawancara dan membeli lukisannya. Akihiko langsung menyukai Kiko pada pandangan pertama, lalu mengajaknya makan.

               Obrolan mereka mengalir begitu saja. Dari lukisan ke film. Film ke sastra. Lalu ke pembicaraan mengenai kehidupan. Obrolan itu meluas ke berbagai hal yang menarik. Saat sedang mengobrol, Akihiko tak henti merasa bahwa hatinya bahagia. Ia terkejut mengetahui ada orang yang enak diajak mengobrol seperti Kiko.

Ketika mereka minum kopi setelah menghabiskan makanan, Akihiko berkata, “apa kau mau menemaniku?” Saat itu, bayangan istrinya nihil di kepalanya.

               “Sebagai teman? Atau sebagai kekasih?” Kiko bertanya balik.

               “Hmm, kita tak akan tahu kalau tidak mencobanya,” jawab Akihiko.

               “Boleh saja,” jawab Kiko. Kiko melupakan eksistensi suami dan putranya yang duduk di kelas 1 SD.

               Dengan demikian dua orang itu mulai bersama. Tentu saja sebagai sepasang kekasih.

               Setahun kemudian, Akihiko membuat pengakuan kepada istrinya. Mereka berdua lalu bercerai. Ia pun ingin Kiko bercerai.

               “Tunggulah sampai putraku masuk SMA,” kata Kiko, “betapapun buruknya hubungan sepasang suami istri, tapi aku berpikir bahwa bagi anak, tetap saja ayah dan ibu kandung adalah yang terbaik.”

               Begitu membayangkan anak, Akihiko tak punya pilihan selain menahan diri.

               Dengan terus berpegang pada pemikiran lima tahun lalu itu, saat ini anak Kiko sudah duduk di kelas 1 SMP, sementara Kiko sendiri sudah berusia 38 tahun.

               Bagi Akihiko, hidup sendiri identik dengan sepi. Ia terutama tak menyukai saat-saat jam makan: entah saat makan berkawan televisi, entah saat makan di luar—restoran misalnya, sebab ia tak berdaya menghadapi kesepian. Selama lima tahun itu, Akihiko bertemu dengan beberapa perempuan dan berkencan dengan mereka. Namun tak ada yang secocok saat ia bersama Kiko.

               Tiap malam, setelah suami dan putranya tidur, Kiko selalu menelepon Akihiko. Bahkan sebulan dua kali ia datang menginap di apartemen Akihiko dengan berbohong pada suaminya, beralasan ia ada tugas liputan. Ia dan suaminya hampir tak ada kesempatan untuk bersama. Setengah bulan dari waktu suaminya habis untuk perjalanan bisnis. Kiko berkata bahwa tak salah lagi, kemungkinan besar suaminya punya kekasih juga.

               Setiap tahun, Kiko menghabiskan beberapa hari setelah natal bersama Akihiko, kemudian sejak malam tahun baru ia berlibur bersama keluarganya.

               Tahun ini pun Kiko pergi berlibur sejak tanggal 29 Desember selama 9 hari ke Eropa. Bilapun Akihiko memikirkan Kiko yang tengah berlibur bertiga bersama keluarganya, ia merasa seakan-akan hatinya hancur sebab cemburu. Sebab itulah, demi tidak memikirkan hal tersebut, pada malam tahun baru ia selalu melukis.

***

               Telepon berdering.

               Akihiko mengangkat gagang telepon.

               “Halo. Paman Aki?”

Itu suara Shinichi, putra dari adik perempuannya.

               “Iya. Shinichi?”

               “Betul, Paman. Sekarang aku sedang ada di rumah kakek. Paman Aki ke sini tanggal 2, kan?”

               “Iya, benar.”

                “Kalau begitu, apakah Paman bisa bawa kartu uno? Aku lupa membawanya, tertinggal di rumah.”

               “Baiklah.”

               “Sebentar, Nenek ingin bicara.”

               “Kau ke sini tanggal 2, kan?” terdengar suara ibu Akihiko.

               “Rencananya begitu.”

               “Kau sendirian saja? Sedang apa?”

               “Aku sedang melukis. Sebentar lagi pameran tunggal.”

               “Oh, pasti repot. Ini bocah-bocah sedang bermain dengan ayahmu. Cepat ke sini, kami tunggu kedatanganmu.”

               “Iya, iya.”

               Di seberang telepon, menggaung suara riuh dua anak dari adiknya yang bercampur dengan suara televisi. Begitu meletakkan gagang telepon, ia menyadari bahwa kamarnya begitu lengang.

               Suara riuh anak-anak. Perbincangan ngalor-ngidul para orang tua.

               ‘Apakah keluarga adalah sesuatu yang baik?’

Akihiko teringat pada malam tahun barunya semasa kanak-kanak.

               Ayahnya membersihkan daerah sekitar pintu masuk dan memasang kadomatsu, hiasan pinus khas tahun baru. Ibunya sejak pagi sibuk memasak masakan osechi. Uap panas masakan melembapkan seluruh penjuru ruangan. Anak-anak merapikan kamar masing-masing, setelah itu mandi sesuai giliran. Setelah selesai mandi, mereka menonton teve. Ibunya mandi setelah merampungkan aktivitas memasaknya. Begitu ibunya selesai mandi, seluruh anggota keluarga mulai makan masakan osechi yang beragam. Ayahnya minum bir. Tayangan teve ‘NHK Kouhaku Uta Gassen’ dimulai.

               ‘Kebersamaan keluarga memang indah,’ pikir Akihiko.

               ‘Kenapa aku tak bisa menciptakan keluargaku sendiri?’

               Saat itu ia hanya ingin menangis.

***

               “Sebenarnya apa arti suami istri?” Kiko berucap.

“Setelah menikah dan menjadi sepasang suami istri, mengapa seakan-akan cinta lalu menjadi beku? Bahkan di sekelilingku sedikit sekali pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun atau lebih dan masih saling mencintai. Yang ada hanya orang-orang yang terus menjadi suami istri karena sudah memiliki anak.”

               “Kalau kita menikah, apakah sepuluh tahun mendatang cinta kita pun akan membeku?” tanya Akihiko.

               “Mungkin. Karena itu, sekarang adalah saat-saat paling membahagiakan,” kata Kiko.

               Di atas ranjang, dua orang ini berkali-kali terlibat pembicaraan absurd seperti itu.

               “Setelah menikah, kebanyakan laki-laki akan merasa bahwa keberadaan istri di sampingnya saja sudah cukup. Kau juga begitu, kan?” sambar Kiko.

               “Mungkin. Kata-kata ‘aku mencintaimu’ mungkin sudah tak bernyawa lagi jika kita terus bersama setiap hari,” jawab Akihiko.

               “Aku selalu ingin hidup dengan perasaan ‘aku mencintaimu’. Karenanya, mungkin lebih baik kalau kita tidak menjadi suami istri.”

               “Tapi kupikir, dengan menjadi suami istri dan terus bersama sampai umur 50, 60, 70 tahun, rasa cinta bisa timbul makin dalam.”

               “Kau tahu? Dengan bertambahnya usia, mungkin itu hal yang baik. Tetapi aku tengah berbicara mengenai kondisi sekarang,” Kiko menjulurkan lengannya dan memandangi kedua tangannya sendiri.

               “Maksudnya, kau tak ingin menikah denganku?” Akihiko mulai tak sabar.

               “Bukan begitu. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin tiap hari kita melewatkan hidup bersama. Tapi begitu kita hidup bersama, kau tak bisa mencintaiku seperti yang kau lakukan sekarang,” Kiko menatap lekat wajah Akihiko.

               ‘Sepertinya apa yang ia inginkan tidak sama dengan yang kuinginkan,’ pikir Akihiko.

               ‘Ia sekarang sedang menjalani kehidupan pernikahan, dan yang ia dambakan hanya cinta. Sementara aku menginginkan menikah untuk membangun sebuah keluarga. Kalau begitu, mungkin tak ada salahnya aku mencari perempuan lain. Masalahnya, tak ada perempuan yang kusukai seperti Kiko. Ah, kenapa aku harus jatuh cinta pada perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak?’ Akihiko memikirkan kecerobohan dan nasib buruknya, lalu tanpa sadar menghela nafas panjang.

***

               Akihiko pergi ke dapur, menyalakan api untuk menghangatkan semur daging ala Prancis yang dibuatnya sepagian tadi. Ia mengambil air dari dalam lemari pendingin dan menuangkannya ke dalam gelas, kemudian menuang wiski.

               “Di sini aku sedang kesepian begini, sementara dia pasti sekarang sedang berjalan-jalan di tengah Museum Louvre, atau melihat-lihat kaca patri di Katedral Notredame, atau hanya terpaku di Jalan Champs-Elysees yang diterangi lampu. Tentu bertiga, dengan anak dan suaminya.” Ia menenggak wiski.

               ‘Ah, sudahlah. Lupakan dia.’

               Ia menyalakan teve begitu memegang remote control.

               Terdengar suara riuh rendah kemeriahan orang-orang. Teve sedang menayangkan pengumuman pemenang NHK Kouhaku Uta Gassen. Terkejut oleh suara keriuhan yang tiba-tiba, Akihiko mengecilkan suara teve.

               Wanita yang bertugas sebagai pembawa acara tampak menangis. Para penyanyi saling berpelukan.

               Akihiko berdiri, mengeluarkan buku catatan alamat dari dalam tas. Ia meletakkan telepon nirkabelnya di atas meja. Sambil meminum wiski—itu gelas ketiganya, ia terus membalik lembar-lembar buku catatan alamatnya.

               Dari kolom huruf A sampai Ka, dari Ka ke Sa.

               ‘Sasaki Yukiko. Kalau aku menelepon jam sekian, apakah dia akan terkejut? Tapi mungkin saja dia sedang menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Apa aku akan mengganggunya?’

               Dari teve, mengalun lirih melodi lagu Hotaru no Hikari.

               Dari kolom huruf Ta sampai Na.

               ‘Nara Sachiko. Dia tinggal sendirian, jadi mungkin aku bisa mengobrol sebentar.’

               Akihiko berdiri, menelungkupkan foto Kiko yang ada di atas meja. Kemudian ia meraih gagang telepon.

               ‘Kalau aku menelepon pada jam sekian, terlihat sekali kalau aku sedang kesepian. Tapi aku ingin berbincang dengan seseorang.’

               Masih tetap memegang gagang telepon, Akihiko sedikit bingung.

               Teve sedang menyiarkan suasana kunjungan pertama ke kuil saat tahun baru yang diadakan dini hari. Kerumunan orang saling mendorong di dalam kuil. Embusan nafas yang keluar dari mulut mereka berwarna putih.

               ‘Kiko pasti sedih jika ia tahu aku menelepon perempuan lain hanya karena aku kesepian. Aku tak ingin membuatnya sedih. Jatuh cinta kepadanya adalah jalan yang sudah kupilih sendiri.’ Akihiko meletakkan gagang telepon dan menutup buku catatan alamatnya.

               Teng ….

               Terdengar suara lonceng dari luar jendela. Suaranya berasal dari kuil dekat apartemen.

               Akihiko mematikan televisi dan lampu kamarnya. Ia keluar ke beranda, melihat ke arah kuil. Hutan kuil tampak indah berkat lampu yang menyinari dari bawah.

               Teng ….

               Di langit malam musim dingin, bintang bersinar berkelap-kelip, serupa titik-titik cipratan dari kuas yang bertebaran dan menempel pada peralatan lukis.

               Telepon berdering.

               Akihiko tergopoh-gopoh masuk ruangan dan mengangkat gagang telepon.

               “Belum tidur?” terdengar suara Kiko.

               “Belum. Sedang di mana?” tanya Akihiko.

               “Hotel di Paris.”

               Sembari menelepon, Akihiko menegakkan kembali pigura foto di atas meja.