Mengapa Menjadi PNS?

Tulisan ini mengadaptasi pemikiran Simon Sinek yang berjudul “Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action”. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2009 tetapi qadarullah saya baru tahu dan baca pada 2018. Anyway, setelah membaca buku ini (belum selesai, sih. Baru seperlima yang saya baca), saya baru kepikiran kenapa dulu memilih bekerja sebagai PNS.

Dalam buku Sinek disebutkan tentang The Golden Circle. Apa itu Golden Circle? Ini penjelasan versi saya, dan interpretasi berikut bisa saja berbeda dengan yang dimaksud oleh penulis. Kalau penasaran, Anda bisa membacanya sendiri.

Golden Circle adalah istilah yang digunakan oleh Sinek untuk menggambarkan pola berpikir, bertindak, dan berkomunikasi dari orang-orang yang sangat inspiratif. Bentuk Golden Circle seperti target dalam olahraga memanah (bullseye), biasanya terdiri dari tiga lingkaran. Lingkaran terkecil atau terdalam adalah why. Lingkaran kedua atau yang di tengah adalah how. Dan lingkaran terakhir yang berada di luar adalah what. Sila ketik Golden Circle pada mesin pencari Google untuk mendapat gambaran yang lebih akurat.

Pada umumnya, orang berpikir, bertindak, dan berkomunikasi dari lingkaran terluar, yaitu apa yang dilakukannya (what). Kemudian berlanjut ke lingkaran tengah, yaitu bagaimana ia melakukannya. Terakhir, di lingkaran paling dalam, di mana kebanyakan orang akan kebingungan menjawab mengapa (why). Orang dapat dengan mudah menjelaskan apa pekerjaannya dan bagaimana cara mereka bekerja. Namun, saat ditanya mengapa mereka menekuni pekerjaan tersebut, mereka tidak tahu harus menjawab apa. Ini karena mereka memilih berkomunikasi dari lingkaran terluar ke lingkaran terdalam (outside in).

Berbeda dari orang kebanyakan, orang-orang inspiratif seperti Steve Jobs, Martin Luther King, dan Wright Bersaudara (pencipta pesawat terbang) justru menggunakan pola komunikasi dari lingkaran terdalam ke lingkaran terluar (inside out). Mereka mampu menginspirasi orang lain untuk bertindak tanpa paksaan. Pola berpikir, bertindak, dan berkomunikasi dengan cara inside out dapat dirangkum secara sederhana: kita harus tahu mengapa bersedia melakukan suatu pekerjaan sebelum pekerjaan tersebut benar-benar dilakukan. Kemudian kita jelaskan bagaimana kita melakukannya, dan terakhir, memilih apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkan alasan awal tersebut.

Kembali ke judul: mengapa saya jadi PNS?

Ternyata, saya tidak tahu apa alasan sebenarnya. Pola berpikir, bertindak, dan berkomunikasi saya selama ini cenderung outside in. Saya memilih PNS karena ini adalah profesi yang paling aman di Indonesia menurut saya. Saya bisa menjelaskan what: pekerjaan saya adalah PNS. Saya juga bisa menjelaskan bagaimana saya mengerjakan pekerjaan saya dengan baik. Namun, apabila sekarang saya ditanya mengapa menjadi PNS, saya kebingungan menjawab. Setelah 17 tahun menjadi PNS, saya tidak bisa jawab why: mengapa saya jadi PNS?

Mungkin, alasan awal saya hanya ingin punya pekerjaan tetap. Saya tidak berpikir tentang tugas dan fungsi yang akan saya jalankan. Yang penting saat itu hanya diterima menjadi PNS lebih dulu. Setelah empat tahun bekerja, saya langsung bosan. Alhamdulillah, saya ditawari pindah unit. Di unit baru, saya semangat bekerja karena jenis pekerjaan yang dilakukan sangat menarik dan menuntut saya belajar hal baru. Namun, setelah empat tahun, lagi-lagi saya merasa bosan. Bagi saya, pekerjaan dalam unit kerja pada organisasi pemerintah, hanya menarik dan banyak hal baru yang bisa dipelajari di awal. Dan seperti siklus empat tahunan, semua hal “baru” tersebut menjadi rutinitas yang membosankan.

Dengan sedikit menghiba kepada atasan, saya minta dimutasi ke instansi lain. Saya berpikir, suasana di lembaga lain mungkin berbeda dari kementerian saya saat itu. Terlebih lembaga yang saya tuju merupakan lembaga non-struktural, struktur organisasinya berbeda dari kementerian tempat saya bekerja. Namun, setelah empat tahun, lagi-lagi saya bosan dengan lembaga “baru” ini. Sempat terpikir untuk melepas saja status PNS, dan bekerja di kantor swasta atau lembaga internasional. Namun, rekan-rekan kerja memberi pertimbangan yang berbeda. Toh, kepalang tanggung karena tinggal beberapa tahun lagi saya juga akan pensiun.

Berhubung bosan yang sudah tak bisa lagi saya atasi, saya memutuskan keluar dari lembaga non-struktural tersebut dan kembali ke kementerian lama saya. Setelah kembali di kementerian lama, saya meminta ditempatkan di unit yang berbeda dari sebelumnya. Saya putuskan akan bekerja sungguh-sungguh dan lebih baik dari sebelumnya sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas rezeki sebagai PNS. Harusnya saya memang merasa beruntung, tak semua orang mendapat pekerjaan yang bisa disebut sekadar layak.

Karena saya tidak tertarik mengejar jabatan struktural, saya pun memilih beberapa alternatif jabatan fungsional sebagai jalan karir. Pertama, saya memilih untuk menjadi assessor karena sepertinya menarik untuk menilai kompetensi PNS. Namun, dalam perjalanannya, saya tergoda menjadi widyaiswara. Saya juga mengikuti tes untuk diklat jabatan fungsional perencana. Dan ikut mendaftar sebagai fungsional dosen pada politeknik di bawah kementerian saya. Atas izin Allah, saya pun ditugaskan menjadi fungsional dosen.

Saya pikir menjadi fungsional akan mengatasi masalah kebosanan. Ternyata tidak juga. Baru beberapa bulan menjadi fungsional dosen, saya kembali bosan. Saya pun melakukan refleksi diri, kenapa selalu bosan di mana pun saya bekerja. Sebelumnya, butuh minimal empat tahun untuk membuat saya bosan. Sekarang, baru beberapa bulan, saya sudah bosan.

Pada 2018 ini, saya pun mencari informasi bagaimana caranya supaya tidak cepat bosan bekerja. Saya menemukan situs web startwithwhy.com dan mengetahui buku yang saya sebut di awal tulisan. Setelah membaca beberapa halaman, saya baru sadar mengapa saya cepat bosan bekerja di satu tempat. Jawabannya mungkin karena pola berpikir, bertindak, dan berkomunikasi saya cenderung outside in. Saya hanya berpikir menjadi apa (what) dan bagaimana melakukannya (how). Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya (why). Saya tahu bahwa saya berpindah-pindah karena bosan dengan rutinitas pekerjaan. Namun, penyebab saya mudah bosan adalah karena saya tidak punya alasan yang benar mengapa saya bekerja di tempat tersebut.

Sekarang saya mencoba menerapkan pola inside out. Mengapa saya jadi PNS? Mengapa saya harus bekerja dari 07.30 sampai 16.00 setiap hari, dari Senin hingga Kamis (dan kadang-kadang Jumat sampai 16.30)? Mengapa saya harus mengajar peserta didik yang malas belajar?

Setelah berpikir selama 7 menit, saya putuskan (untuk sementara) alasan (why) saya menjadi PNS adalah ingin birokrasi di Indonesia menjadi lebih amanah. Caranya (how) adalah dengan mendidik generasi baru yang akan menjadi birokrat di masa depan: untuk berpikir, bertindak dan bekerja dengan amanah. Apa (what) yang harus saya adalah menjadi dosen di perguruan tinggi kedinasan.

Insyaallah dengan niat (alasan) ini, saya lebih semangat menjadi PNS dan tidak mudah bosan. Kalau masih bosan juga, berarti ada yang salah dengan alasan saya menjadi PNS.

Vita Nurul Fathya

Dosen PNS di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Kedinasan.

  • Rd.

    galaunya bisa bertahun-tahun gitu, mantap sekali gan

  • Abdull

    banyak baca2 buku dan explore sesuatu biar ga bosen