Kisah “Super Gila” dari Pelabuhan Ratu

Orang gila bagi Denny Solang adalah teman. Pengusaha batu alam ini menyediakan panti bagi para penderita gangguan jiwa. Ia secara khusus mendirikan yayasan bernama Aura Welas Asih untuk mengelola pantinya. Terletak di Pelabuhan Ratu, Aura Welas Asih saat ini menampung 58 orang telantar, 18 orang jompo, dan 40 orang dengan gangguan jiwa.

Denny 1Kisah keterlibatan pria berdarah Bone ini dengan orang-orang gila diawali pada 2008. Dalam perjalanan pulang dari tempat usahanya, Denny sering menjumpai orang gila yang tak terurus. Ia berinisiatif memberi mereka nasi bungkus. Jumlah mereka baru 5 orang saat itu.

Suatu saat, pria yang kini berusia 53 tahun ini kehilangan salah satu orang gila yang biasa ia temui di pinggir jalan. Setelah mencari-cari dan tak juga ketemu, Denny terpikir satu hal: bagaimana jika kelima orang gila ini menghilang semua? Siapa yang akan mengurus mereka?

Bayangan itu menumbuhkan niat, ia harus membuat tempat penampungan bagi mereka. Dengan adanya penampungan, keberadaan mereka bisa dipantau dan proses pengurusannya pun lebih mudah. Ia tak harus keliling mencari mereka.

Sebuah pondok sederhana ia bangun di atas lahan pribadinya. Pondok yang hanya berdinding anyaman bambu. Inilah awal berdirinya Panti Sosial Aura Welas Asih pada 2014. Denny melakukannya tanpa bantuan pihak mana pun. Meski hanya dengan pondok seadanya, orang-orang yang ia tampung sepenuhnya terawat dengan baik. Mereka tidak pernah dibiarkan kelaparan dan tidak mandi.

Seiring waktu, jumlah penghuni pondok bertambah. Tak hanya penderita gangguan jiwa tetapi orang-orang ‘terbuang’ lainnya: para lansia, orang terlantar yang tak jelas keluarganya, dan sejenisnya. Mereka tiba dengan beragam cara, mulai dari diantar oleh warga sekitar, tukang ojek ­– entah atas perintah siapa, hingga polisi. Denny berkomitmen untuk tidak menolak manusia-manusia terbuang itu. Seiring dengan waktu pula, warga sekitar memberikan bantuan untuk mengurus mereka. Denny pun mulai memperbaiki kondisi pondok mereka.

Denny berkisah latar belakang beberapa kehidupan penghuni panti. Seorang kakek berusia 60 tahun mengalami serangan stroke. Menurut pengakuannya, ia masih mempunyai anak. Keberadaannya di panti karena sang anak tidak mau merawatnya.

Denny 2Ada pula kisah seorang anak berusia belasan tahun. Ia tiba di panti diantar oleh seorang tukang ojek. Sekujur punggungnya dipenuhi luka bakar. Sebagian luka itu bahkan telah bernanah. Diduga kuat karena sundutan api rokok. Entah siapa yang tega melakukannya.

Denny 3Salah seorang penghuni panti lain sudah tidak mampu berdiri tegak. Sisa hidupnya dihabiskan dengan duduk dan tiduran. Kakinya tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Dipasung selama 8 tahun dalam posisi jongkok membuatnya tak mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Denny 4Merawat orang dengan gangguan jiwa tentu pekerjaan yang tak ringan. Tingkah laku mereka tidak bisa diduga atau sepenuhnya dikendalikan. Disembur ludah oleh orang yang dirawatnya sering Denny alami. Pun demikian dengan amukan mereka. Namun, ia tetap sabar. Ia sadar, yang dihadapinya tidak mempunyai akal sesehat dirinya.

Khusus terhadap mereka yang tidak bisa mengontrol emosi, ia menerapkan hukuman disiplin. Hukuman itu berupa pengurangan jatah makan atau dipaksa puasa. Dengan pola seperti itu, orang-orang tersebut bisa dikendalikan emosinya.

Tantangan yang dihadapi Denny tak hanya sikap penghuni panti, yang lebih berat justru soal dana. Tak dapat dimungkiri, biaya yang ia keluarkan untuk menampung dan merawat mereka amat besar. Sejauh ini, pemerintah memang belum mampu menyediakan bantuan dana yang memadai. Ia terpaksa bergantung kepada donatur. Donasi pun tak tentu jumlahnya. Meski demikian, ia selalu optimis, Tuhan selalu di sisinya untuk membantu.

Barangkali Denny memang bukan orang kebanyakan. Ia mendermakan hidupnya untuk orang lain, orang-orang yang tersisih, orang-orang yang tak tahu ke mana lagi harus berteduh. Ia mungkin lebih ‘gila’ daripada orang-orang gila itu sendiri. Saat orang lain memilih menghindar bahkan menelantarkan, ia malah merawat mereka. Dari Denny, saya belajar soal rasa syukur dan kepedulian.

  • http://maslametstudio.blogspot.co.id/ Slamet Rianto

    Selamat kepada pak Pulung. Tulisan ini amat kuat sebab didukung oleh foto yang kuat pula.

    • Pulung Tio

      Terima kasih mas Slamet Rianto

  • Denny Solang

    Terima kasih pak Pulung, semua saya lakukan karena Manusia adalah manusia, apapun sakitnya, apapun keadaannya.

    Mereka yang sakit jiwa dan terlantar adalah manusia yg kurang beruntung, kita yg sehat, seharusnya lebih perhatian dn mau membantu..

    Seribu alasan utk tidak menambah atau menolak mereka yg sakit agar tidak diterima di panti utk dirawat karena keterbatasan dana, tp saya punya satu alasan untuk tetap bertahan, karena yg saya lakukan ini hanya untuk mendapat Ridho Allah Swt..

    Salam
    Dennny Solang

    • Pulung Tio

      Pak “Guru”

      Sama-sama……Pak
      Senang bisa bertemu dan berbagi cerita dengan Bapak.

      Saya belajar banyak dari Bapak dan rekan-rekan relawan, juga para penghuni yasos Aura Welas Asih. Benar-benar super…..Pak.

      Semoga kami dan rekan-rekan yang lain bisa terus membantu Bapak dan rekan-rekan relawan serta penghuni panti.
      Semoga kita semua diberi keberkahan umur, kesehatan, limpahan rejeki yg berkah dan kesabaran…..aamiin

      Insya Allah jangan sampe tutup yasos nya…..yaaa….Pak.

      Terima kasih pak “Guru”, salam hormat

    • Pulung Tio

      Aamiin……buat harapan pak Denny.

      Sama2 Pak…….kamilah yg hrs berterima kasih, krn sdh mendapatkan ilmu menyatunya kata dan perbuatan. Yg Bapak buat bukanlah hal biasa.

      Semoga pak Denny diberi kekuatan, kesabaran, kesehatan, limpahan rejeki dan keberkahan umur.

      Salam hormat pak “Guru”🙏🙏🙏