Satu Gerbong Bersama Predator Seksual

Rabu, 16 Januari 2018. Saya menumpang commuter line jurusan Bogor. Pada jam pulang kerja seperti itu, penumpang pasti berjubel. Biasanya, saya ke gerbong khusus wanita meski terkenal dengan keberhimpitannya yang brutal. Setidaknya, saya merasa lebih aman dibandingkan masuk gerbong umum. Namun, saya masuk gerbong umum sore itu. Dari salah pilih gerbong itulah cerita ini bermula.

Kecuali aroma badan manusia yang sungguh mengganggu, saya tak merasa ada yang aneh hingga seorang bapak tahu-tahu berdiri di sebelah saya. Posisinya sungguh wagu, serba tak serasi dengan penumpang lain. Ia berdiri tegak lurus terhadap saya dengan tangannya yang otomatis berada di paha saya. Semula saya biarkan karena saya pikir itu biasa dan tak sengaja. Namun, lama-kelamaan menjadi aneh karena dia tidak kunjung menjauhkan tangannya. Saya masih berusaha menyediakan rasionalisasi. Mungkin ia ketiduran, atau tangannya menderita kelainan.

Saya mencoba bergerak pelan-pelan dan menjauh sehingga posisi si bapak menjadi persis di depan saya. Di sebelahnya, ada seorang anak perempuan SMA. Saya kemudian curiga, jangan-jangan dia tengah mengulang aksi yang dilakukannya terhadap saya. Benar saja. Saat melongok ke bawah, saya menemukan tangannya sudah menempel di paha si anak SMA. Saya emosi. Sontak saya tepuk punggung si bapak dari belakang sembari teriak, “Pak, tangannya jangan begitu!”

Dia tak menoleh sedikit pun. Tangannya memang menjauh dari paha si anak SMA tetapi wajahnya tak menoleh sama sekali. Justru si anak SMA yang sekilas menoleh kepada saya dan tersenyum kecil. Si bapak menjauh dan pelan-pelan mengatur posisi agar bisa berada di pojok sembari menundukkan wajah.

Jujur saja, saya terlampau sering mendengar cerita tentang commuter line jurusan Bogor yang rawan dengan kejahatan seksual. Namun, baru kali ini saya benar-benar mengalami sendiri. Maksud saya, mengalami berdua bersama si anak SMA. Dan itu sungguh membuat saya shocked. Jangankan merekam sebagai bukti kejadian, mengingat wajah si bapak saja kepayahan. Apesnya, tak ada petugas commuter line di gerbong kami saat kejadian berlangsung.

Tahukah Anda, apa yang paling membuat geram?

Beberapa penumpang pria lain dalam gerbong itu justru tersenyum sinis kepada saya, seolah apa yang saya lakukan saat itu lebay. Pertanyaan selanjutnya, mau sampai kapan praktik seperti ini berlanjut? Mengingat commuter line sebagai salah satu moda tranportasi andalan sebagian pekerja di daerah Jabodetabek, siapa yang harus kita tuntut untuk menghentikan kejahatan seksual di commuter line?

Secara umum, hak penumpang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen). Dan secara khusus, ketentuan mengenai perkeretaapian diatur oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2017 (UU Perkeretaapian). UU Perlindungan Konsumen menjelaskan hak konsumen di antaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan jasa, dan seterusnya.

Mari kita periksa satu per satu.

Pertama, hak atas kenyamanan. Bisa dipastikan semua konsumen commuter line sudah lupa dengan apa yang disebut kenyamanan di dalam gerbong pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Jumlah penumpang yang tidak sebanding dengan jumlah armada dan gerbong hampir dianggap sesuatu yang patut dimaklumi. Lantas, mengapa tetap menggunakan commuter line jika tahu tidak akan nyaman? Saudaraku sebangsa-setanah air, waktu tempuh itu mahal harganya bagi siapa pun, terutama para pekerja urban macam saya. Dan itu tak bisa diberikan oleh angkutan umum lain seperti angkutan kota maupun bus.

Kedua, hak atas keamanan. Ini adalah hal paling utama yang perlu menjadi sorotan. Sebagai konsumen, saya dan semua perempuan pengguna commuter line berhak merasa aman. Aman dari apa pun. Baik dari pencopetan, kejahatan seksual, bahkan serangan mahkluk luar angkasa sekali pun. Bagaimana caranya? Tentu bukan saya dan para perempuan pengguna commuter line yang perlu mencari tahu! Monggo bapak dan ibu terhormat di jajaran direksi PT. KCI dan Kementerian Transportasi duduk bersama untuk memikirkannya dengan cermat dan solutif. Ini adalah tanggung jawab penyedia jasa kepada konsumen, dan kewajiban pemerintah selaku penyelenggara negara (sekaligus pemilik saham terbesar pada BUMN tersebut) untuk melindungi rakyat seperti saya.

Dalam sebuah artikel yang dilansir oleh JawaPos.com (15/12/2017), PT. Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengklaim jumlah pelecehan seksual terhadap kaum hawa hanya ada 11 kasus sepanjang 2017. Semua perempuan pengguna commuter line tahu pasti bagaimana akurasi angka itu, bukan? Melihat jumlah postingan di media sosial saja, jumlah kejahatan seksual di commuter line barangkali bisa mencapai puluhan. Belum korban-korban yang sama sekali tidak punya akses terhadap media sosial dan hanya bisa berbagi cerita dengan orang terdekat. Belum lagi korban yang sama sekali tidak berani bercerita kepada siapa-siapa.

PT. KCI memang tak tinggal diam. Disediakannya gerbong khusus perempuan tentu patut diapresiasi. Barangkali upaya tersebut memang telah mengurangi kejahatan seksual hingga jumlah yang signifikan. Nyatanya, itu belum cukup. Jumlah penumpang yang tak sebanding dengan kapasitas yang tersedia tetap memungkinkan kejahatan seksual terjadi. Tetap banyak penumpang perempuan yang terpaksa berada di gerbong umum seperti saya dan si anak SMA, dan berakhir menjadi mangsa para pelaku kejahatan seksual.

Ketiadaan tindakan tegas terhadap para pelaku membuat mereka tetap leluasa mengulang perbuatannya. Mereka hanya perlu menunggu kesempatan: ada penumpang perempuan yang apes karena salah memilih gerbong. Dan jumlah kasus semacam itu tidak mungkin hanya belasan. Dalam hal ini, gerbong khusus perempuan hanya jalan pintas. Ia hanya bersifat menunda terjadinya kejahatan seksual tanpa benar-benar menyentuh akar persoalan: memberikan pendidikan yang baik kepada para laki-laki untuk tidak melakukan kejahatan seksual. Dan ini adalah tanggung jawab PT. KCI sebagai penyedia jasa sebagaimana diamanatkan oleh UU Perlindungan Konsumen.

Dalam kasus yang sama alami, pelaku tidak bisa diproses secara hukum. Saya tidak punya bukti kuat untuk melaporkan perbuatannya sebagai tindak pidana kejahatan seksual. Saya hanya bisa mengimbau seluruh handai taulan yang membaca tulisan ini untuk berani. Kepada para laki-laki, beranilah menegur anggota kaum Anda yang melakukan kejahatan seksual, alih-alih tersenyum sinis kepada para perempuan yang berusaha melindungi diri sendiri dan sesamanya. Kami masih percaya, tak semua laki-laki adalah bajingan dan pengecut.

Terakhir, kepada seluruh perempuan yang setiap hari harus mengarungi kejamnya ibukota dengan commuter line. Jangan takut bersuara. Sembari terus mendorong para penyedia barang/jasa untuk melindungi hak-hak konsumen, beranilah mengungkap kejahatan seksual yang terjadi kepada Anda maupun perempuan lain. Jangan lupa menyimpan bukti atau informasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi pelaku, korban, serta tempat kejadian perkara. Tentu bukan hanya di commuter line, di angkutan umum lain, atau di jalanan. Di mana pun!

Karena jika bukan kita yang membela diri sendiri, siapa lagi?

  • http://maslametstudio.blogspot.co.id/ Slamet Rianto

    Semoga tulisan ini mampu menggugah siapapun untuk menyatakan sikap.