Urmun

Untuk sore persis sebelum malam, kau menyebutnya apa? Apa kau punya nama khusus untuknya?

Orang-orang di kampungku menamainya urmun, saat matahari sudah pamit untuk bersinar di bagian bumi yang lain. Aku sedang sangat rindu kampung saat ini. Bagiku, bukan melulu senja keemasan yang menjadi alasan bagi manusia-manusia kesepian membenarkan rindu mereka. Seperti sore ini, jelang gelap merambati langit kota. Dingin dan abu-abu. Terkadang ia biru tua. Jenis sore yang tak akan mengundang minat untuk bercumbu. Kau hanya ingin meringkuk di pelukan yang hangat, dekapan ibu.

Di saat-saat seperti itu, ibu-ibu di kampungku biasa pulang dari sawah dan ladang. Mereka berjalan kaki, memikul pacul, kadang dengan sandal rombeng, kadang bertelanjang kaki. Bergerombol. Kau akan selalu bisa menemukan satu-dua yang diam menundukkan kepala. Mungkin bingung bagaimana memberi makan enam mulut yang ia tinggalkan di rumah. Tentu ada juga yang bercakap-cakap seadanya meski pikiran tetap dipenuhi kekhawatiran: apakah besok sudah ada uang untuk buku pelajaran, tunggakan listrik, atau utang beras di warung si pengusaha muda. Tak ada kesempatan membahas bentuk alis terkini, atau potongan dan warna rambut yang akan ngetren tahun depan, atau rencana arisan cantik ibu-ibu sekampung. Tidak ada.

Mereka ibu-ibu kami. Ibu-ibu dari sebuah dusun yang dikelilingi perbukitan. Letak geografis itu membuatnya selalu dingin. Bahkan jika matahari tepat di atas ubun-ubun, kadang kau tak perlu takut menantang teriknya ultraviolet. Kabut di kampungku mematikan saraf, udaranya membekukan otot yang kejang sejak siang.

Ibu-ibu kami berjalan pulang dengan badan yang gontai. Biasanya, ditambah bibir membiru karena kedinginan. Jangan tanya bagaimana rasanya. Di ladang, hanya Tuhan yang tahu bagaimana keras hidup mereka, bagaimana liat tanah yang harus dibalikkan, bagaimana darah digasak oleh lintah. Hanya Tuhan yang tahu, di dalam lumpur itu, mana yang jatuh lebih banyak antara air mata dan keringat. Pagi hingga siang mereka menegakkan badan agar tak terperosok lumpur, agar pacul tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Hingga urmun menggiring mereka kembali pada kenyataan.

Ibu-ibu kami tak pernah tahu, mereka mestinya memakai krim tabir surya setiap hari agar kulit tak terpanggang UV-A, UV-B, dan entah UV-UV apa lagi. Kerut dengan lekas menjajah muka mereka. Tua sebelum waktunya. Ibu-ibu kami tak peduli jika kulit mengelupas kencang atau seluruh tubuh lebam, asal anak-anak tidak kelaparan. Mereka tak punya waktu untuk depresi sebab kantong beras mesti segera diisi. Mereka tak sempat saling iri karena pinjam-meminjam garam bagian dari tradisi. Mereka tak pernah masuk televisi atau majalah sebagai orang-orang yang menginspirasi. Mereka hanya akan menjadi ibu-ibu kami. Selamanya ibu-ibu kami.

Ibu-ibu kami tak bisa menumpukan harapan pada suami-suaminya. Di kampungku, lelaki banyak cakap dan hanya jago terbahak-bahak. Mereka sejatinya cuma remaja tanggung yang terperangkap tubuh renta. Mereka senang menghabiskan waktu berbual-bual tentang tetek-bengek seolah mengalaminya sendiri. Kau tahu? Cerita lelaki-lelaki itu hampir melulu diawali dengan “katanya”.

Lelaki-lelaki itu dididik dengan kebanggaan setinggi lampu minyak di tembok. Seolah berkuasa sejak malam tiba meski sebenarnya hanya api kecil di dalam bilik yang juga kecil. Terombang-ambing bahkan hanya karena nafas gelisah anak-anak. Apa lacur, kami hidup dengan cara yang kami warisi dari nenek moyang yang patriarkal. Pun jika kau bisa menemukan satu-dua lelaki rela memasak atau mengangkat sapu, aku bisa pastikan dia akan menjadi cemoohan.

Sampai sekarang aku tetap bertanya, mengapa lelaki-lelaki itu bisa punya ego sama besar dengan kubangan kerbau?

Gambar: Roy W. Sibarani