Trilogi Kemeriahan Grup WhatsApp

1.

Di gawai saya, ada sepuluh lebih grup WhatsApp. Ada grup yang beranggotakan puluhan orang, ada yang hingga ratusan. Ada beberapa grup yang anggotanya beririsan, sebagian anggota pada satu grup juga menjadi anggota di grup lain.

Jika ada anggota grup berulang tahun, nisaya kemeriahan yang terjadi di grup itu. Ucapan selamat dan doa-doa bertebaran dengan kalimat yang elok. Satu ucapan sama persis dengan ucapan yang lain karena hanya hasil salin-rekat. Apalagi jika teman yang ulang tahun juga menjadi anggota grup lain, kemeriahan di gawai saya berlipat-lipat. Ucapan dan doa kepada orang sama bertebaran di dua atau lebih grup, masih dengan kalimat yang sama persis. Meriah sekali bukan?

Demikian juga jika ada anggota grup mengalami kedukaan, ucapan belasungkawa dan doa memenuhi grup kami. Tak jarang, jika seorang tokoh yang bukan anggota grup sedang ditimpa musibah, ucapan belasungkawa pun menghiasi grup-grup kami.

Saya sendiri memilih jalan sunyi, memberi ucapan dan doa melalui kontak personal dengan kalimat dan format buatan sendiri meski sangat sederhana. Semoga tidak mengurangi keafdalan.

Kalibata, 22-08-2017

2.

Rupanya, kemeriahan grup di gawai saya tidak melulu soal ucapan ulang tahun dan belasungkawa. Ada juga hal positif lainnya. Yang lebih bersifat tindakan nyata ialah sedekah ramai-ramai. Bermula ketika seorang anggota salah satu grup, membagi tulisan dari pengurus sebuah rumah asuh anak yatim dan duafa. Pengurus yang berasal dari berbagai profesi itu menceritakan keadaan rumah asuhnya yang sering mengalami masa-masa krisis.

Tujuh tahun sejak berdiri pada 2010, rumah asuh itu belum memiliki sekretariat tetap. Masih harus mengontrak. Kondisi ini tak pelak membuatnya sulit berkembang. Mereka juga terhambat saat mendaftarkan diri ke dinas sosial. Salah satu syarat, yakni fotokopi akta tanah dan bangunan, sulit mereka dapat dari pemilik rumah yang mereka sewa.

Bertahun lamanya, mereka menjalankan rumah asuh dengan keuangan pas-pasan. Bahkan untuk operasionalnya, pengurus yang sebenarnya bukan orang-orang kaya itu lebih sering merogoh kantong sendiri. Mereka belum banyak mendapat donatur tetap. Tahun kemarin, mereka nyaris terusir dari rumah kontrakan karena belum melunasi pembayaran. Namun, berkat usaha keras pengurus dan doa anak-anak asuhnya, kesulitan itu dapat teratasi.

Desember nanti, kontrak rumah yang mereka pakai akan berakhir sementara keuangan belum stabil. Mereka masih mengandalkan proposal yang dikirim kesana-kemari dan berharap ada yang ikhlas membantu mereka. Para pengurus tak bisa membayangkan nasib anak-anak asuh seandainya rumah asuh itu bubar. Anak-anak itu butuh tempat bernaung, makan dan belajar. Dalam tulisan itu, anggota grup juga menyertakan beberapa foto kondisi anak-anak asuh.

Seperti ketika salah satu anggota grup berulang tahun atau mengalami kedukaan, kemeriahan di grup kami kembali terjadi. Masing-masing anggota menyampaikan empati dan mengisi daftar kesediaan menjadi donatur. Anggota grup yang sebagian besar orang mampu itu tergerak hatinya untuk ikut berbagi rezeki. Dalam waktu tidak terlalu lama, donasi terkumpul dari grup yang berjumlah seratusan itu.

Alangkah bahagia para pengurus dan anak-anak asuhnya. Mereka membayangkan akan terbebas dari kekhawatiran terusir rumah kontrakan. Senyum mengembang kembali di wajah-wajah polos itu. Mereka mengungkapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para donatur yang telah menyelamatkan masa depannya. Mereka juga mendoakan para donatur diberi balasan kebaikan yang berlipat, rezeki yang berkah, keluarga yang senantiasa memberi kedamaian, dan banyak lagi doa kebaikan dari hati anak-anak itu.

Rupanya, itu cuma harapan dari pengurus dan anak-anak asuhnya ketika menitipkan proposal ke grup tersebut. Namun, seperti yang kelewat sering terjadi di atas bumi ini: kenyataan tidak seindah harapan. Grup itu sepi seperti rumah tak berpenghuni.

Kalibata, 27 September 2017

3.

Kemarin, sebuah broadcast masuk ke grup kami. Broadcast itu menceritakan kabar seorang kawan yang akan dipensiundinikan karena menderita toksoplasma. Selain diajak ikut berdoa agar kawan tersebut diberi kesembuhan, kami juga diajak ikut memberi bantuan materiil untuk sedikit meringankan pengobatan makan banyak biaya.

Untuk memastikan kebenarannya, saya mengontak kantor tempat si kawan yang sakit. Menurut informasi dari bagian kepegawaian kantor itu, broadcast tersebut tidak salah. Kawan itu memang sedang dalam proses dipensiundinikan setelah sekian lama tidak bisa masuk kerja. Saya juga mengontak kantor lama tempat kawan itu bertugas sebelumnya. Menurut pegawai di sana, kawan tersebut sudah lama menderita toksoplasma dan menghabiskan biaya besar untuk pengobatan.

Tak semua biaya ditanggung oleh BPJS. Dan sekarang ia akan dipensiundinikan. Jelas itu menambah beban yang harus ditanggung keluarganya. Karena itulah, rekan-rekan kerjanya berinisiatif menyebar broadcast. Oh iya, menurut informasi mereka pula, kawan ini adalah pegawai yang sangat rajin sebelum menderita sakit dan berintegritas tinggi. Extra effort yang dibebankan kepadanya juga selalu terpenuhi.

Setelah sedikit memberi bantuan ke rekening yang tercantum dalam broadcast, saya ikut menyebarnya ke grup lain yang anggotanya terdiri dari kawan-kawan selingkungan kerja. Saya membayangkan kemeriahan belasungkawa dan doa-doa, serta orang-orang berlomba memberi bantuan materiil akan terjadi di grup tersebut. Benar saja, grup-grup itu begitu meriah. Para anggota berlomba mengirim doa sepanjang hari, yang kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun pucuk pimpinan kami.

Selamat ulang tahun, Pak Boss!

Kalibata, 9 Nov 2017