Senja Mati di Kota Ini

Gerimis membasahi seisi kota. Cuaca serta merta berubah dingin. Langit di sebelah barat yang semula tersepuh cahaya keemasan, kini terselimuti mendung. Kilat sesekali menyambar. Kecuali rintik hujan, sore itu sepenuhnya sepi. Angin yang berembus cukup membuat orang berpikir dua kali untuk keluar rumah. Mungkin mereka berpikir minum kopi sambil berselancar melalui gawai adalah satu-satunya hal cocok untuk suasana seperti itu.

Tidak demikian bagi pria itu. Ia termenung sedari tadi. Segelas air putih terlihat merana di atas meja kerjanya. Di hadapannya, terbuka laptop hadiah ulang tahun yang ia terima tahun lalu. Satu halaman putih seperti dengan tampilan kertas tampil di layar. Tak lama kemudian, jemarinya menari di atas tuts kibor. Satu persatu kata diketik, kalimat dijalin, paragraf disusun.

Ia berhenti. Terlihat ragu dan goyah. Sesekali menggaruk kepala atau menjambak rambut yang mulai memanjang dan memutih. Saat kota tengah mengigil sore itu, ia justru berkeringat. Sudut matanya mendadak lembab. Tiba-tiba terdengar suara gelas dilempar. Lalu teriakan. Ia menjerit sejadi-jadinya.

***

Wanita itu terjaga di keheningan malam. Potongan adegan mimpi buruk yang baru saja ia alami kembali melintas. Mimpi itu terasa begitu nyata, seperti mimpi yang lalu-lalu yang membuat tidurnya tak pernah lama. Kokok ayam jago milik tetangga sesekali terdengar.

Hingga fajar tiba, ia masih terjaga. Setiap jengkal tubuhnya seolah redup. Tak tampak pancaran cahaya riang seperti biasa. Di bawah selimut berbahan flannel, tubuhnya meringkuk. Dipeluknya sebuah boneka tokoh kartun kesayangannya, hadiah ulang tahun terakhirnya.

“Bukan matahari yang kubutuhkan saat ini.”

Kegelisahan memenuhi kepalanya. Tubuhnya lunglai. Air mata mengalir dan jatuh di atas pangkuan pagi yang baru saja tiba di kamarnya. Malam yang menyiksa memang telah berakhir tetapi pagi tetap tak berarti kebahagiaan. Ia kembali memeluk erat bonekanya. Sesekali, matanya menatap cahaya kekuningan yang menyelinap melalui kisi-kisi jendela.

Mata itu nampak sayu setelah berhari-hari banyak terpejam tetapi tak pernah benar-benar tertidur lelap. Semenjak pria yang dicintainya menghilang, yang tersisa di wajahnya kini hanyalah senyum yang menyedihkan serta tatapan mati. Matanya beralih pada sebuah potret yang tergantung di dinding. Seorang pria tersenyum di sana. Dengan tenaga yang tersisa, ia beranjak dari pembaringan menuju senyum itu.

“Kemana kehangatanmu kini kau sembunyikan?”

***

“Cintaku telah diikat oleh sebuah janji. Janji yang telah kuucap sejak lama, yang tak mungkin kukhianati,” ujar pria itu.

“Bukannya dulu kau pun berjanji begitu padaku?” tanya si wanita.

“Itu sebelum kamu memilih pria lain. Semua sudah berubah. Kamu senang dengan pilihan orang tuamu, bukan?”

“Aku tak mencintainya. Orang tuaku yang menginginkan perjodohan itu. Mereka tak pernah mau tahu kenyataan bahwa aku mencintaimu. Dulu, kau bilang cinta harus diperjuangkan. Ayolah, perjuangkan aku menjadi milikmu dan cinta kita.

“Sudahlah, aku pikir lebih baik hubungan kita berakhir. Aku pasti akan menemukan wanita yang lebih setia dari kamu. Jaga dirimu baik-baik.”

“Tega sekali kau! Tega kau lupakan semua kenangan selama ini! Kamu tak tahu apa-apa tentang perjodohan itu.

***

Tempat mereka bertemu pertama kali, sejak saat itu justru meninggalkan kenangan pahit. Sesekali, wanita itu masih kembali ke sana. Tak ada apa-apa yang bisa ia temukan kecuali rindu dan perasaan yang semakin bolong.

“Iklaskanlah. Kamu tak benar-benar sendiri,” sahabatnya mencoba menghibur.

“Ragaku memang tak sendiri tapi jiwaku sepi. Aku sangat rindukannya. Tidakkah kau tahu? Aku tak berdaya ditinggalkan dirinya pergi begitu saja,” wanita itu setengah berteriak.

“Apa yang membuatmu begini?”

“Di pertemuan terakhir itu, aku katakan aku telah dijodohkan. Maksudku ingin membuatnya cemburu. Aku ingin dia memperjuangkanku, segera melamarku. Dia lama menggantung status hubungan kami. Rupanya dia salah paham. Kau tahu? Adakah wanita lain yang lebih mencintai dan setia kepadanya selain aku?”

Wanita itu memeluk sahabatnya sebelum tiba-tiba terlepas dan tersungkur ke tanah.

***

Telepon genggamnya berdering. Sebuah nama muncul dilayar, nama sahabat dari kekasih yang telah ia putuskan setahun lalu. Setelah beberapa kali ia abaikan, nama itu tetap menelepon.

“Mungkin saja kabar penting.

Pria itu bangkit menerima panggilan itu. Emosinya mulai reda seiring hujan yang sedikit demi sedikit berhenti.

“Ia meninggal, kata si penelepon bercampur tangis.

Pria itu tertunduk beberapa kali.

“Kenapa baru cerita sekarang? Aku tak benar-benar pergi. Mungkin dulu aku bisa saja pergi tetapi tidak dengan cintaku. Cintaku miliknya dan tak pernah habis.”

***

Pria itu bergegas menuju tempat pemakaman. Laptop ia tinggalkan begitu saja dengan layar masih terbuka. Sebuah paragraf tertulis:

“Janji-janji tak jua tergenapkan. Memintal sepi tak berkeusaian tak jua membuatmu mahir. Berkawan penantian kau mengerudungi hatimu yang temaram. Kerap letih membisik. Menyiratkan telisik. Bahwa jiwamu telah sekarat. Memohon istirahat.”*

*) Rhesus oleh Zakiya Sabdosih.