Kitchen Nightmares untuk Birokrat

Ada yang tahu Kitchen Nightmares?

Barangkali Anda pernah menonton Hell’s Kithen, reality show yang menampikan “kehororan” dapur masak restoran prestisius dengan chef kondang Gordon Ramsay sebagai bintang utama. Jika belum pernah menonton edisi internasionalnya, Hell’s Kitchen juga sudah “dinaturalisasi” oleh salah satu stasiun televisi nasional, dengan Chef Gordon digantikan oleh Chef Juna—secara verbal dan gesture, keangkeran Chef Juna tentu jauh lebih sesuai dengan “budaya ketimuran” kita.

Di Kitchen Nightmares, pekerjaan Chef Gordon tak hanya menjadi tukang marah-marah. Tugas utamanya justru membantu restoran-restoran yang hampir mati, buruk, dan seringkali dikatakan “menjijikan”. Saya menontonnya baru-baru ini, selagi menunggu giliran dipanggil oleh kakak-kakak Front Office Pencairan Dana yang aduhai. Saya beruntung sekali karena KPPN Jogja menyediakan fasilitas TV berlangganan di ruang tunggunya.

Episode yang saya tonton mengambil setting di restoran The Mixing Bowl. Meski dibuat sekitar 2007, episode ini tetap menarik. Restoran yang berlokasi di Bellmore, New York, itu tengah berada di titik nadir dan hampir gulung tikar. Selain tergerus persaingan, internal mereka sendiri menderita penyakit kronis: manajemen yang diterapkan begitu buruk.

Salah satu pangkal permasalahan adalah Billy, pemilik resto yang merangkap koki utama ini merupakan sosok pendiam dan cenderung resesif. Ditambah lagi sikap istrinya, Lisa, yang sedari awal sudah menyerah dan ingin restoran ditutup. Sementara manajer restoran, Mike, justru menjadi sosok yang overpower dan terkadang sangat awkward. Ia tidak begitu disukai oleh para staf walau kadang sangat bersemangat melayani pelanggan.

Di kunjungan pertama, Chef Gordon langsung melihat hal-hal yang tidak beres, kekurangan di sana-sini, and other dreadfull things. Satu-satunya yang membuatnya terkesan hanyalah menu Crab Cake. Pelayanan, tampilan, manajemen, passionate, dan harapan sangat memprihatinkan. Mike yang menjadi poros kekacauan di resto itu, memang sosok yang aneh. Manajer yang sikapnya justru seperti pemilik. Ia kerap membuat promosi nyeleneh, lewat berbagai plakat yang akhirnya dihancurkan oleh Chef Gordon. Termasuk sebuah program kupon 50% off, langkah yang membuat Chef Gordon terkejut. Bagaimana tidak? Pelanggan diberi kupon diskon bahkan sebelum ia membayar.

Singkat cerita, Chef Gordon membuat beberapa gebrakan. Tentu disertai dialog penuh makian tetapi memotivasi. Mulai dari strategi marketplace, kreasi menu baru yang lebih “sehat”, renovasi interior agar lebih elegan, perbaikan pola interaksi antarpersonal, hingga bumbu-bumbu ala reality show umumnya. Dalam waktu seminggu, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Chef Gordon berhasil menjadi penyelamat. Billy juga berubah menjadi pribadi yang lebih “ramai” dan sering melihat keluar, tidak melulu di dapur. Mike tetap mendapat kesempatan kedua. Lisa juga kian mendukung suaminya. Seiring dengan restoran yang mulai ramai dan profit yang mulai tampak.

Saya sedikit tergelitik, apa jadinya jika Gordon Ramsay harus melakukan supervisi di lembaga-lembaga pemerintah kita? Apakah ia juga tak akan berhasil mendapatkan e-KTP karena blangko habis? Atau terkesima pada keramahan kakak-kakak customer service Direktorat Jenderal Pajak?

Seandainya saja semangat para auditor pemerintah seperti Chef Gordon tentu akan sangat berbeda taste and amenity-nya: keras dan tegas tetapi memotivasi. Kawan-kawan PNS tentu sudah tahu rasanya diperiksa auditor, bukan? Antara senang dan berkeringat dingin.

Selama ini, birokrasi kita masih memang masih feodalistik. Seperti yang dibilang oleh Birokreasi sendiri, ada ruang kubikel yang membosankan. Sekadar ajakan berkreasi bisa saja dianggap sebuah bentuk ketidaksopanan—atau malah pembangkangan—oleh atasan. Kondisi semacam ini tentu harus segera diakhiri. Saya kira, radikalisme ala Chef Gordon bisa menjadi sentilan kecil.

Barangkali memang perlu perubahan gaya dalam proses audit kita. Out of the box, bukan out of the regulations. Penyimpangan sekecil apa pun harus “dihajar” tanpa toleransi. Di sisi lain, solusi tetap dicari dengan semangat kebersamaan. Komunikasi personal yang intim perlu dibangun. Semangat dan passion setiap pegawai harus dibangkitkan. Bicara dari hati ke hati dengan para staf pelaksana mengenai kenapa biaya rapat bisa over budget, misalnya.

Namun, entah apa yang salah, The Mixing Bowl akhirnya ditutup pada 2009. Mungkin mereka terlalu menghayati peran, resep dari Chef Gordon tidak manjur lagi, atau karena memang reality show semata. Namanya juga acara televisi, industri yang biasa menampilkan happy ending meski setelahnya masih ada final ending lagi. Real sad ending after television happy ending. Ya sudah kalau begitu, tak perlu mendatangkan Chef Gordon segala.

Sudah enak seperti ini, bukan?

Muhammad Fauzi Iqbal

kantor yang hakiki itu ya di rumah