Hari Ibu

“Saya tak merasa perlu mengucap hari ibu di Facebook karena ibu saya tak punya akun Facebook. Lagi pula, menunjukkan kasih sayang kepada ibu harusnya setiap hari, tak perlu hari khusus setahun sekali. Dan dengan tindakan nyata, bukan cuma kalimat menye-menye.”

Anda pernah menemukan komentar seperti itu?

Saya sering. Saya juga yakin, di lingkar pertemanan mana pun, pasti selalu ada orang yang tanpa malu memamerkan sinisme meski dengan logika bapuk. Entah dia memang misoginis rapuh, salah paham, cuma ingin tampil waton sulaya, atau tidak punya banyak teman saja. Salah satu kehebatan demokrasi adalah semua orang berhak mengomentari apa saja, sedungu apa pun komentarnya. Dan mendukung demokrasi berarti juga harus siap menanggung kutukan-kutukan semacam itu.

Bukan berarti mereka tidak menjengkelkan. Kadang saya juga ingin sekali menjawab mereka, “Situ mau mengucap hari ibu di Facebook atau tidak, emak situ punya akun Faceboook atau tidak, dan bagaimana cara situ menyayangi emak situ sendiri, apa peduli aing? Itu mah urusan situ sama emak situ.”

Tentu saya tak sampai hati. Lagi pula biar apa?

Cara mengekspresikan kasih sayang kepada ibu selamanya kesunyian masing-masing. Urusan masing-masing. Privat dan personal. Barangkali ada hubungannya (atau bisa dihubung-hubungkan) dengan hari ibu, barangkali juga tidak. Saya masuk yang kedua. Saya tak mengucapkan selamat hari ibu kepada ibu saya sekalipun ia sendiri pernah menjadi korban KDRT secara fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi selama bertahun-tahun. Ucapan itu pasti akan nirfaedah, hambar, bahkan wagu karena ibu saya memang tak familiar dengan hari ibu, hari perempuan internasional, hari Kartini, maupun hari peringatan lain mengenai perempuan. Namun, saya tetap merayakan hari ibu di media sosial selain memberi ucapan kepada istri.

Barangkali ada yang menyalahpahami hari ibu di Indonesia sama dengan (atau menjiplak) mother’s day di Amerika Serikat sehingga menganggapnya sebagai produk Barat. Dan dengan dalil sapujagat bahwa seseorang akan menjadi bagian dari suatu kaum (kafir) jika meniru kaum tersebut, hari ibu otomatis menjadi haram hukumnya seperti yang dikatakan oleh seorang ustaz yang sedang naik daun. Beberapa ustaz seleb memang punya kecenderungan semakin asal bicara seiring dengan meningkatnya jumlah penggemar. Tidak apa-apa. Orang ora mudhengan memang seperti itu. Bebas. Namanya juga negara demokrasi.

Hari ibu di Indonesia lahir dari gagasan para perempuan Indonesia sendiri, dilatarbelakangi oleh masalah-masalah yang dihadapi oleh para perempuan Indonesia sendiri. Tak perlu rasanya membahas asal-usul hari ibu secara panjang-lebar karena sudah terlalu banyak yang melakukan itu. Anda bisa membaca Tirto, Beritagar, Historia, maupun media lain. Termasuk soal perbedaan hari ibu dengan mother’s day di Amerika Serikat, dan bagaimana state ibuisme Orde Baru membajak hari ibu untuk mendomestifikasi perempuan. Tak akan sulit melakukan riset mandiri selama punya kerendahan hati dan itikad baik untuk bertabayyun, alih-alih menjadi warganet sok tahu.

Memberikan kasih sayang dan bakti kepada ibu adalah hal baik, norma mana pun mewajibkannya. Namun, hari ibu bukan sekadar merayakan relasi-relasi privat dan personal semacam itu. Bukan sekadar kapan terakhir kali kita menelepon ibu. Hari ibu melampaui itu semua. Ia adalah seremoni, simbol, momen dan monumen, tugu peringatan bahwa ada banyak hal soal perempuan yang masih perlu dibicarakan. Ada relasi kuasa yang timpang baik di dalam rumah, dunia pendidikan, tempat kerja, masyarakat, budaya, agama, maupun administrasi negara dengan perempuan sebagai korban.

Menjadikan hari khusus sebagai pengingat merupakan hal lumrah dalam mengampanyekan gagasan, terlebih untuk bangsa yang memiliki amnesia genetik seperti Indonesia. Kita juga punya banyak hari khusus untuk isu lain: hari pers nasional, hari buruh, hari pendidikan nasional, hari anak nasional, hari konservasi alam nasional, hari antikorupsi, hari HAM, dan hari khusus lainnya. Bahkan semua agama sudah melakukannya sejak berabad-abad lalu dengan hari rayanya masing-masing. Dari sekian banyak hari khusus yang kita kenal, selain hari raya keagamaan, yang paling ramai diributkan tentu saja hari tentang perempuan.

Merayakan hari-hari khusus, selain sebagai bentuk dukungan terhadap gagasan yang sedang diperjuangkan, juga berarti mengajak orang lain untuk ikut peduli. Begitu juga dengan hari ibu. Anda bisa merayakannya untuk membela para ibu yang memilih berhenti kerja demi mengurus keluarga, atau tetap bekerja untuk menyelamatkan ekonomi keluarga; para ibu yang memanjangkan hijab atau mengenakan rok mini karena keinginannya sendiri; para ibu yang menjadi korban pelecehan seksual, KDRT, perdagangan perempuan, maupun diskriminasi di tempat kerja dan ruang-ruang publik; para ibu yang tertular HIV dari suaminya; para ibu yang menolak dipoligami; atau para ibu yang menentang stereotipe sein-kanan-belok-kiri yang diberikan oleh warganet sok lucu.

“Ketimbang cuma memberi ucapan di media sosial dan seremonial-seremonial semacam itu, mendingan langsung terlibat dalam aksi nyata!”

Tentu saja! Maksud saya, tentu saja akan selalu ada beruk teman yang berkata demikian. Kalau yang berkata adalah orang yang benar-benar “langsung terlibat dalam aksi nyata”, tentu bisa dimaklumi meski ada sesat pikir dalam kalimat tersebut. Kampanye di media sosial dan “langsung terlibat dalam aksi nyata” bukan dua hal yang saling diametral. Tidak mutually exclusive. Tak ada yang berhak menghakimi orang lain yang berkampanye di media sosial, sebagai orang-orang yang pintar omong doang. Saya punya banyak teman yang melakukan keduanya sekaligus: mengampanyekan gagasan yang ia percaya di media sosial sambil “langsung terlibat dalam aksi nyata”.

Gampangnya begini: untuk bisa ikut merayakan hari ibu di media sosial dengan kalimat menye-menye, apakah saya harus melaporkan dulu hal-hal heroik yang pernah saya lakukan untuk menyelamatkan ibu saya dari tindakan KDRT yang dilakukan ayah? Memangnya situ siapa? Tak semua orang suka pamer, Bung dan Nona.

Memang ada teman-teman yang hanya “langsung terlibat dalam aksi nyata” tanpa berkampanye di media sosial maupun ruang publik lain. Nyatanya, mereka tak lantas merasa paling heroik sendiri dengan menyepelekan kerja teman-teman lain yang berkampanye di ruang publik. Mereka justru menyebut itu sebagai bagi-bagi tugas, solidaritas, maupun dukungan moral atas kerja-kerja mereka dalam aksi nyata. Saya sama sekali tak paham soal dunia aktivisme maupun gerakan sosial tetapi saya tahu agitasi dan propaganda bukan hal yang boleh dianggap remeh. Berjejaring dan bersolidaritas jauh lebih bermanfaat ketimbang merasa paling heroik sendiri, apalagi jika caranya dengan melecehkan simpati orang lain.

Dan tak ada yang salah memperingati hari ibu di media sosial sekalipun ibu Anda tak punya akun di media sosial. Apa pun bentuknya, bagaimana pun caranya. Toh, pesan itu akan tetap dibaca oleh ibu-ibu yang lain. Bahkan perempuan-perempuan lain yang secara biologis belum menjadi ibu. Meski namanya hari ibu, latar belakang kelahirannya justru untuk memperjuangkan masalah perempuan secara umum, bukan semata masalah perempuan yang sudah ibu-ibu. Tak perlu repot memikirkan komentar bapuk dari orang-orang ora mudheng. Mau bagaimana lagi? Memang cuma segitu kok kualitas warganet kita. Maklumi saja. Maafkan saja. Nikmati saja. Jangankan hari ibu, merayakan Maulid Nabi Muhammad saja bisa dibilang haram. Karena itu, jangan dulu habiskan camilan Anda. Setelah ini, warganet budiman yang hobi salah paham itu masih akan gaduh soal ucapan hari Natal dan tahun baru. Sebelum kegaduhan warganet berganti tema, mari nikmati dulu yang ini.

Selamat hari ibu untuk kita.