Bertemu Jokowi

Apa yang akan saya ceritakan berikut adalah sebuah mimpi. Mimpi bertemu Jokowi, presiden kita. Mimpi itu terjadi tadi malam. Sengaja saya sebut di awal bahwa ini hanya mimpi, demi tidak mengecewakan pembaca (itu juga kalau ada).

Tidak seperti yang dilakukan oleh kawanku, Slamet Rianto. Ia menulis sebuah kejadian yang dialaminya, lengkap dengan bumbu-bumbu yang gurih. Para pembaca terbius, menganggap seolah-olah kejadian nyata. Di akhir cerita, baru ia ungkap kejadian itu hanya mimpi. Kan asu. Karuan saja pembacanya ngamuk-ngamuk, termasuk saya. Saya merasa ditipu. Saya menyesal karena membaca sampai akhir. Atau menyesal, kenapa tidak membacanya dari akhir dulu. Saya ada rencana memidanakannya dengan UU-ITE.

Kembali ke soal mimpi saya bertemu Jokowi. Tiada angin, tiada hujan, beliau berkunjung ke rumah saya. Tentu saya girang bukan kepalang. Saya tawari beliau mau minum apa. Beliau minta kopi, pakai durian.

Kalau hanya kopi, tentu bisa langsung saya sajikan. Namun, pakai durian? Saya harus beli dulu. Tak saya dapatkan penjual durian di sekitar rumah. Saya keliling-keliling, nihil juga hasilnya. Saya gelisah karena meninggalkan Jokowi di rumah sendirian. Saya pun kembali dengan tangan hampa. Beliau masih setia menunggu dengan sabar. Saya sampaikan permintaan maaf berkali-kali. Beliau hanya senyum-senyum. Tidak apa-apa, katanya. Lalu pamit pulang.

Saya teramat kecewa karena tak bisa memenuhi keinginan seorang presiden walau hanya kopi durian. Lalu saya terbangun.

Saya tidak paham apa makna mimpi itu. Saya hanya bisa mereka-reka. Barangkali itulah gambaran seorang presiden ideal. Beliau memiliki kekuasaan tertinggi tetapi adakalanya juga seperti rakyat biasa, mau berkunjung ke rumah rakyat seperti saya.

Presiden adalah pengambil kebijakan untuk rakyat, maka harus bisa merasakan bagaimana dampak kebijakan itu bagi rakyat. Dengan kekuasaannya, beliau gampang saja menaikkan tarif dasar listrik, misalnya. Namun, beliau juga harus bisa mengukur kemampuan rakyat untuk membayar. Beliau mampu membuat kebijakan mengenai harga kebutuhan pokok yang dibutuhkan rakyat. Kebijakan itu perlu diambil agar harga terjangkau oleh semua orang sekaligus tidak mematikan industri dalam negeri.

Karena jabatannya, presiden berkuasa membuat kebijakan tentang BUMN agar tidak merugi setiap tahun dan mampu berkontribusi besar bagi penerimaan negara. Dengan begitu, masyarakat tidak dibebani pajak terlalu besar. Petugas pajak seperti saya pun tidak ngos-ngosan setiap menjelang akhir tahun (seperti hari ini, Sabtu, sebagian dari mereka lembur), mengejar target yang menurut beberapa pengamat tidak realistis.

Presiden mampu membuat kebijakan dan terobosan agar ibukota tidak banjir, seperti yang pernah dijanjikan saat beliau masih berkampanye untuk menjadi gubernur Jakarta. Di lain pihak, presiden juga harus mempertimbangkan kebijakan tentang banjir itu tidak berimbas buruk bagi daerah lain, sesama warga Indonesia.

Presiden adalah Panglima Tertinggi TNI. Beliau bisa saja memerintahkan kepada Panglima TNI untuk membuat kebijakan, bahkan membatalkan sebuah kebijakan. Soal mutasi perwira, misalnya. Kebijakan itu beliau ambil semata-mata demi kepentingan rakyat.

Tidak terpenuhinya kopi campur durian yang beliau minta, barangkali juga sebuah isyarat. Kopi durian memang nikmat rasanya. Namun, ia konon bisa membuat tekanan darah naik tinggi dan komplikasi penyakit. Barangkali ada kebijakan presiden yang apabila terus dipaksakan akan berdampak buruk. Tingginya penerimaan pajak memang akan sangat menguntungkan bagi penerimaan negara. Namun, apabila target terlalu tinggi, bisa berdampak penurunan daya beli masyarakat dan lesunya perekonomian.

Saya juga mengaitkan mimpi bertemu Jokowi tadi malam dengan hal lain. Mimpi itu terjadi tadi malam, tanggal 22 Desember, bertepatan dengan peringatan hari ibu. Barangkali ini adalah peringatan buat saya, agar mau bertukar peran dengan istriku, ibu dari anak-anakku.

Sebagai seorang suami, julukan kepala keluarga melekat pada saya. Menurut tradisi dan agama, saya bisa memerintah ini-itu kepada istri. Namun, di hari ibu seperti sekarang, saya tidak akan melakukan itu. Saya akan bertukar peran dengan istri soal pekerjaan, mumpung hari libur. Pekerjaanku dikerjakan oleh istri, pekerjaan istri tetap dia kerjakan sendiri. Selamat hari ibu.

Bojongsoang, 23 Desember 2017