Sekolah Kehidupan, Jurusan Keluarga Besar

“Papa terharu, hampir ngga bisa nahan air mata,” katanya.

Kami berbicara kemarin malam melalui telepon. Papa baru saja bercerita bahwa dulu ia punya doa khusus untukku, yakni agar aku merantau lebih jauh dari dia. Dia merantau dari Sumatera Utara ke Bandung. Sementara aku, karena satu dan banyak hal, saat ini berada di Sulawesi Selatan.

Bisa dikatakan doanya terkabul. Untuk pulang ke rumah, aku harus menempuh minimal 24 jam total perjalanan. Itu sudah termasuk tiga kali pesawat ditambah transportasi darat. Ada juga rute berbeda, dengan dua kali naik pesawat tetapi membutuhkan 36 jam untuk sampai di rumah karena perjalanan darat lebih panjang.

Di dunia ini, kita hanya punya satu papa. Sedangkan ‘pekerjaan’ ada banyak.

Tiga tahun lalu saat aku pulang kampung, keadaan papa terlihat masih baik-baik saja. Rambutnya saja yang semakin memutih. Saat aku pulang lagi setahun setelah itu, keadaannya jauh berbeda. Kurusnya tidak wajar. Lalu setahun kemudian, ia mulai sakit-sakitan, batuk, dan performa tubuhnya terganggu. Tahun ini, karena khawatir, aku sudah pulang dua kali pada Februari dan Juli setelah lebaran.

Papa seorang perokok. Ia bisa menghabiskan dua bungkus rokok kretek sehari seperti lokomotif kereta. Habis satu batang, ia sambung dengan batang lainnya. Katanya kalau tak merokok, ia tak bisa berpikir. Blank. Kalau ia sudah merokok, berarti temannya ngopi. Kalau waktunya malam, berarti alamat begadang. Kalau ia begadang, biasanya karena menonton bola. Kalau sedang menunggu acara sepak bola di TV kedai kopi, biasanya sambil main catur bersama tukang begadang lainnya.

Aku tak pernah melihat papa kalah bermain catur. Dia pernah berkata, catur ada dua macam: catur pola dan catur kedai kopi. Catur pola adalah catur seperti yang dimainkan pemain profesional, menghafal langkah dan rumus dari buku atau rekam jejak permainan pecatur profesional zaman dulu. Jika kuda lawan melangkah ke sini, sudah langsung tahu apa langkah selanjutnya.

Seseorang yang jago bermain catur papan belum tentu juga jagoan soal percaturan kehidupan. Contohnya papa sendiri yang tidak menjaga kesehatan. Padahal, keluarga kami sudah punya riwayat penyakit gula darah alias diabetes, dari almarhum ompung (kakek), adiknya kakek, hingga paman-paman. Kemungkinan aku juga berpotensi diabetes.

Seperti semua Harahap, kami juga keras kepala. Meski sudah dilarang merokok, begadang, keluar malam, papa tetap saja bandel. Hanya kebiasaan ngopi yang bisa ditekan. Setelah jatuh sakit berkali-kali dan keluarga besar lelah menasihatinya, ia mulai mengubah kebiasaan hidupnya. Dukungan dari adik-adik perempuannya – seperti memaksa ikut mengantar berobat, menjenguk, menghibur, dan membantu berbagai hal dalam kehidupan pribadi papa – barangkali membuatnya haru.

Kehidupan ini panjang. Walaupun sering ada perasaan tidak enak di antara saudara kandung sebelumnya, nyatanya waktu bisa mengubah semua. Yang penting kita menunjukkan tekad untuk menjadi orang yang lebih baik. Begitu juga papa yang sudah terlanjur sangat kurus, badan adikku yang masih SMP bahkan masih lebih berat.

Dulu, ia jago hampir semua olahraga. Bulutangkis sampai voli, dia juara tingkat RT. Waktu dan penyakit telah ‘memakan’ badannya yang sudah sangat jenuh dengan rutinitas. Sebenarnya, ia membutuhkanku di sampingnya sekarang. Atau, justru aku yang sesungguhnya membutuhkan banyak waktu di samping papa?

Pembicaraan kami melalui telepon sudah hampir dua jam lamanya dan harus diakhiri. Jam sudah menunjuk pukul 1 dini hari. Kalau tidak tidur, aku akan telat ke kantor.

Anggia Yong Pratama

Saya adalah PNS di Direktorat Jenderal Pajak, anak pertama dari lima bersaudara. Hasil dari pernikahan dua orang yang berbeda budaya, kultur, ras, dan keyakinan (dulu). Hal tersebut membuat saya terbiasa melihat sesuatu dari lebih 1 sudut pandang dan tidak menjadi orang yang 'bersumbu pendek'.