Gagal Masuk STAN

Aku membanting gayung lalu sesenggukan lama di kamar mandi. Pintu kamar mandi berbahan plastik itu pun bolong karena kupukul. Aku baru lulus SMA dan baru pulang dari Medan setelah mengikuti Ujian Saringan Masuk D3 STAN. Hasil ujian sudah keluar dan aku gagal. Aku memang tidak mengikuti les atau bimbingan belajar mana pun. Bahkan, sebenarnya, aku tidak berminat masuk STAN.

Lalu, apa yang aku kesalkan?

Aku kesal karena tidak punya kesempatan yang sama dengan teman-teman sebayaku yang nilai ujiannya tidak jauh berbeda. Mereka bisa masuk UI, USU, UGM, IPB. Aku tak bisa karena memang tidak mendaftar SNMPTN atau UMB pada universitas mana pun. Kau tahu? Alasanya ekonomi, hal yang begitu klasik di negeri ini.

Kenapa tidak kampus lokal saja?

Di kotaku, Padangsidimpuan, tak ada kampus dengan akreditasi A. Padahal, yang namanya kuliah tetaplah kuliah. Aku memang naif. Aku enggan melihat ke bawah, kepada orang-orang yang lebih apes nasibnya daripada diriku, anak-anak lain yang putus sekolah. Mungkin pergaulan semasa di SMA yang mempengaruhi pola pikir seperti itu, yang membuatku melulu melihat ke atas.

Keluarga besar mencoba memberi sudut pandang baru. Aku harus belajar bijak. Orang tua mana pun pasti akan melakukan segala cara untuk mengabulkan keinginan anaknya. Apalagi untuk belajar di tempat yang baik. Berkeringat darah kalau perlu. Namun, sebagai sulung dari lima bersaudara, memaksakan keinginanku untuk kuliah di luar kota sama artinya mengorbankan masa depan adik-adikku. Begitu kata nenek, paman, dan anggota lain dari keluarga besar kami di kampung.

Sambil memandangi gayung yang pecah, aku mengingat-ingat benda lain yang juga hancur: kursi plastik, gorden, atau jangan-jangan hati ibuku.

Beberapa minggu kemudian, keluarga besar mengabulkan permintaanku keluar dari kampung sementara waktu. Perjalanan tiga hari empat malam ke Jogjakarta kutempuh dengan bus ALS. Aku sebenarnya ingin ke Bandung. Ada keluarga ibu di kota itu. Namun, keluarga hanya mengizinkan aku sampai ke Jogjakarta, ke tempat uda, adik ayahku.

Uda lulusan Pesantren Gontor dan menjadi pengusaha. Dulunya, kupikir semua santri akan menjadi ustaz. Ternyata tidak. Berbulan-bulan di tempat Uda, aku belajar banyak hal, dan yang terpenting: sudut pandang baru. Gunung Merapi baru saja meletus. Aku menjadi saksi semua kehancuran yang ditimbulkannya. Magelang dan Jogjakarta sekejap menjadi kota mati karena ditinggalkan penghuninya meski hanya sementara. Oleh uda, aku dilibatkan menjadi relawan bencana alam dadakan.

Banyak teman baru kudapat. Ada yang lulusan Gontor, karyawan uda, pedagang angkringan, maupun warga lokal. Seperti Merapi, kemarahanku pun berangsur padam. Lihatlah tanah bekas letusan itu yang semakin subur! Bahkan pasir sisa letusan bisa dijual oleh masyarakat atau membangun rumah.

Tepat satu tahun kemudian, ujian masuk STAN dibuka lagi meski hanya untuk D1. Aku tidak belajar kali ini. Setelah mengikuti tiga tahap ujian—tertulis, fisik, dan wawancara—aku lulus. Tempat pendidikanku di Manado, bukan di kampus Bintaro.

Sekarang, aku sudah empat tahun menjadi pegawai sejak lulus kuliah. Kursi plastik dan pintu kamar mandi yang kurusak dulu, tetap dibiarkan saja sampai sekarang. Ibu tak ingin memperbaikinya. Setiap aku pulang, ia akan tertawa puas setelah menggodaku, mengingatkan pada tingkahku saat masih berdarah panas.

“Lihat itu! Kursi yang pecah kamu banting masih mama simpan,” katanya.

“Gayungnya masih ada, Mah?” kataku.

Anggia Yong Pratama

Saya adalah PNS di Direktorat Jenderal Pajak, anak pertama dari lima bersaudara. Hasil dari pernikahan dua orang yang berbeda budaya, kultur, ras, dan keyakinan (dulu). Hal tersebut membuat saya terbiasa melihat sesuatu dari lebih 1 sudut pandang dan tidak menjadi orang yang 'bersumbu pendek'.