Blade Runner 2049: Eksistensialisme dalam Dunia Distopia

Durasi yang panjang dimanfaatkan Dennis Villeneuve untuk mengeksplorasi setiap detail dunia distopia ciptaannya. Naskah filosofis yang subtil dipadukan sinematografi cantik terasa seperti lagu klasik yang merdu dan mengalun pelan.

Di “Blade Runner 2049”, bukan kali pertama Dennis Villeneuve mencoba gagasan eksistensialisme sebagai sebuah subteks dari film fiksi-ilmiah. Di awal tahun saja, ada Arrival yang meskipun kurang mendapat sambutan meriah tetapi menyisakan berbagai pertanyaan bagi spesies kita: benarkah kita sendirian dan di mana posisi kita di alam semesta? Bukan tema populer memang tetapi perpaduannya dengan sinematografi yang bukan main estetis menjadikan Villeneuve seakan berpuisi–jika bukan monolog–melalui karya gambar bergerak.

blade runner 2

Diperankan oleh Ryan Gosling, Opsir K adalah anggota kepolisian Los Angeles yang berbeda dengan rekan-rekannya: dia seorang manusia buatan. Fitrah yang tertanam dalam kode genetisnya adalah selalu patuh kepada perintah manusia yang diplot menjadi atasannya. Dia diberi tugas sebagai pemburu manusia buatan versi lama yang dianggap sudah kuno dan berpotensi membelot. Sebagai Blade Runner, sebutan bagi profesi yang diembannya, tidak ada abnormalitas yang dihadapinya dalam pekerjaan sehari-hari. Sampai akhirnya, Gosling harus ‘memensiunkan’ manusia buatan versi lama bernama Sapper Morton (Dave Bautista). Darinya, Gosling mengetahui sebuah rahasia besar dan keajaiban yang semestinya tidak mungkin terjadi. Sejak itu, hidupnya tidak pernah sama lagi.

Villeneuve menyodorkan gambaran tentang bagaimana seandainya sebuah entitas yang berasal dari material yang sama dan diyakini tidak memiliki jiwa, berusaha mencari tempat di dunia distopia. Apakah jiwa hanya dapat diberikan melalui proses prokreasi? Ataukah jiwa dapat ditempa melalui pentasbihan diri?

Selain polemik manusia buatan, ada pula asisten superintelijen buatan bernama Joi. Saking canggihnya teknologi pada 2049, Joi dibuat semirip mungkin dengan manusia. Bukan hanya dari segi penampilan, ia juga dapat memiliki perasaan dan kehendak bebas (free will). Keberadaannya yang diperuntukkan menjadi teman hidup bagi mereka yang kesepian membuat Joi ingin tahu bagaimana rasanya dapat menyentuh Gosling dan memeluknya selayaknya manusia sungguhan. Seolah-olah, Villeneuve berhasil mengejawantahkan konflik batin manusia di dunia nyata dalam bentuk situasi enigmatis di dunia Blade Runner 2049.

Villeneuve tidak memaksa untuk memacu jalannya cerita. Dia lebih memilih untuk menguraikan permasalahan satu-persatu dan memanjakan mata penonton dengan sinematografi yang indah sekali. Duetnya dengan Roger Deakins berhasil menciptakan dunia distopia yang, meskipun hancur, memiliki keindahannya tersendiri. Dari warna terakota, abu yang beterbangan di kota lama, hingga metropolitan dengan nyala neon yang bersembunyi di bawah langit muram penuh polusi. Sebuah penggambaran yang baik dari majunya teknologi yang dibarengi dengan arbitrase buruk dari konflik antar manusia dengan ‘spesies’ lain.

Meskipun “Blade Runner 2049” adalah sekuel dari film pendahulunya yang rilis pada 1982 (disutradarai oleh Ridley Scott), Gosling tetap menjadi tokoh sentral di film ini. Kemunculan Harrison Ford sebagai Rick Deckard (tokoh utama film pendahulunya) hanya menjadi penghubung cerita. Bukan tidak penting juga tetapi pertanyaan-pertanyaan besar yang menjadi misi sekuel ini tetap melekat pada Gosling. Lagi-lagi, Villeneuve berhasil membuat sebuah sekuel yang memiliki cerita independen dan baru, tanpa melupakan benang merah “Blade Runner”.

“Blade Runner 2049” mungkin bukanlah box office hit. Ini karena rumitnya subteks yang menyarankan sang tokoh sentral justru bukan sebagai sosok spesial dalam cerita. Namun demikian, kepiawaian Villeneuve dalam membangun dunia distopia yang tetap berkilau menjadikan “Blade Runner 2049” sebagai film berkualitas tinggi dan sangat layak ditonton.

Sumber gambar: bladerunnermovie.com.

Abby Pangeran Aziz

Twitter: @abbypangeran