Aku Pernah Begitu Merindukan Bulan

Aku pernah begitu merindukan bulan. Begitu dalam. Hingga aku tak mengetahui dasarnya. Apakah aku sedang jatuh cinta lagi? Entahlah. Sebenarnya aku sudah punya pasangan yang sangat kucintai. Sudah tentu aku sangat merindukannya apabila sedang berjauhan jarak.

Aku sangat takut kehilangan pasanganku. Takut sekali. Sampai aku selalu berpikir untuk mati saja jika dia sampai meninggalkanku. Namun, yang tak habis pikir, dalam waktu yang bersamaan aku juga merindukan bulan. Apa karena memang begitu kodrat laki-laki? Bisa membagi-bagi hatinya?

Aku pernah begitu merindukan bulan. Sering malah. Sering sekali hingga aku sendiri tak tahu berapa bilangannya. Apakah berarti aku selingkuh? Nyatanya rasa cinta pada pasanganku tidak berkurang sedikit pun dengan kehadiran bulan dalam hatiku. Malah makin bertambah. Mungkin karena rasa bersalah.

Sebenarnya aku sudah tahu dari beberapa orang yang pernah dekat dengannya, bahwa bulan itu tidak cantik. Banyak celanya jika didekati. Aku tak peduli. Di mataku, dia selalu tampak cantik. Secantik pasanganku. Aku selalu merindukannya jika dia sedang berada di sisi bumi lain. Aku ingin selalu melihatnya meski hanya dari jauh. Sekadar menikmati keindahannya.

Aku pernah begitu merindukan bulan. Seperti merindunya gulita pada cahaya. Apakah bulan juga merindukanku? Mungkin tidak. Kadang dia justru begitu angkuh bertengger di langit sana. Dan aku bisa memastikan, dia tahu aku sedang merindukannya karena telah kusampaikan isyarat-isyarat kepadanya. Dia bergeming. Mungkin karena dia tahu aku sudah punya pasangan. Dia tidak mau menyakiti perasaan pasanganku.

Aku sendiri tidak pernah berharap dia akan jatuh dalam pelukanku. Terlalu berat buatku menahan bebannya. Aku hanya ingin menemaninya dan mengajaknya bicara karena kasihan melihat dia selalu sendirian. Aku tahu dia pasti kesepian. Orang-orang hanya berlalu-lalang memandanginya, mungkin sambil mengagumi keindahannya seperti halnya aku.

Aku pernah begitu merindukan bulan. Seperti merindunya mawar untuk mekar. Apakah berarti aku telah menghianati pasanganku? Namun, aku tidak pernah menyetubuhi bulan, atau hanya sekedar merengkuh tubuhnya. Pun tidak pernah kubayangkan kemolekannya, atau berkhayal melakukan yang bukan-bukan dengannya. Aku tidak mau mengotori perasaanku dengan hal menjijikan seperti itu. Sekaligus membuktikan rinduku kepada bulan bukanlah birahi.

Bulan pernah mengalami gerhana saat aku merindukannya. Ketika kebanyakan orang mencibir kecantikannya yang hilang ditelan gulita, aku masih tetap memujanya. Aku yakin dia akan kembali cantik seperti sedia kala. Aku tahu kecantikannya hanya sedang terhalang oleh bayangan bumi. Benar saja, sesaat setelah bayangan itu hilang, sinarnya kembali merona, tak berkurang sedikit pun.

Aku pernah begitu merindukan bulan. Seperti rindunya merpati untuk terbang. Sebuah rindu yang tak pernah berbalas. Sakit memang. Tapi aku sangat menikmatinya. Aku tak pernah berkeinginan untuk mengobatinya.

Dan aku tak pernah benar-benar menyesal pernah mengalami itu.

Akhirnya, bulan pun jatuh dalam pelukan bumi. Aku tidak kecewa oleh karenanya. Aku justru bahagia karena dia tidak kesepian lagi. Aku berharap bumi mampu membuatnya bahagia. Dan aku pun tetap bahagia dengan pasanganku.

Pungguk.

(Di sisi bumi yang lain)