Akhir Perjalanan Papa

Lewat pukul dua. Papa tak bisa sedetik pun memejamkan mata. Ia hanya menatap kosong ke gemerlap lampu taman dan deretan mobil mewah yang terparkir. Pagar tinggi berduri dan setengah lusin penjaga setia membuatnya merasa berada di dalam benteng tak tertembus. Sesekali, ia mengusap jendela kaca dengan jemarinya. Usapan itu menimbulkan jejak uap buram sebelum kaca menampilkan bayangan wajah tuanya yang puas.

Papa berada di sebuah ‘safe house’ yang hanya diketahui oleh sedikit saja orang terdekatnya. Selama karirnya di dunia politik, inilah kali pertama ia merasa benar-benar memerlukan tempat persembunyian. Ilmu sakti yang ia miliki rasanya tak bisa membuatnya selamat kali ini. Koneksi yang selama ini menyokongnya juga mulai cuci tangan satu per satu. Beberapa hari lalu, rumah tinggal Papa dikepung oleh, setidaknya, satu peleton aparat bersenjata. Awak media juga berkerumun bagai kawanan burung pemakan bangkai yang mencium bau anyir darah. Akan ada pesta kematian di sana.

Papa tersenyum simpul. Ia tak menyangka ide tabrakan yang dirancang benar-benar sukses mengalihkan perhatian publik. Kini, semua mata tertuju pada sebuah kamar VVIP di RSCM dan seorang laki-laki dengan wajah bengkak yang sangat mirip dengannya. Sebuah hasil ‘audisi’ yang sempurna. Skenario selanjutnya tidaklah begitu penting. Cerita amnesia tentu sangat mudah ditebak dan membuat penonton kecewa. Mungkin kali ini papa akan membuat publik bergembira dengan membiarkan pemeran dirinya digelandang ke rutan. Si pemeran pengganti yang akan menjadi pesakitan di meja hijau, menjalani sidang, dan menjawab pertanyaan hakim sesuai pesanan. Selebihnya, pemeran pengganti itu cukup menjawab tidak tahu atau lupa.

Di dalam kamar, papa menggoyang-goyang secangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Ia ragu hendak meminumnya atau tidak. Secangkir teh itu tak akan mampu mewakili kemenangannya. Seharusnya ia meminum segelas anggur. Saat ini, papa memang memiliki segalanya. Jabatan tinggi, tumpukan harta, popularitas, segalanya. Bisa dikatakan papa menggenggam sebuah negara seperti anak kecil memegang sebutir kelereng.

“Ya, aku memang pemain andal,” barangkali itu yang ada di dalam kepalanya untuk memuji diri sendiri.

Di atas permukaan teh, sekilas tergambar perjalanan karirnya sejak awal hingga puncak yang paling bersinar ini. Papa teringat deal-deal gelap dengan para pengusaha hitam dan birokrat rakus. Papa teringat betapa lihainya ia melakukan lobi dan pendekatan dengan orang-orang berpengaruh. Papa teringat betapa cemerlang siasat yang ia buat untuk mengakali dan merampok uang rakyat. Papa teringat wajah rekan-rekan politisi yang begitu sumringah kala ia membagikan fee atas persetujuan anggaran proyek. Papa teringat ia berhasil luput dari jerat hukum berkali-kali.

Ada rasa bangga. Ia ibarat dewa yang tidak pernah tersentuh. Papa larut dalam lamunan dan menenggak sisa teh tersebut sekali tandas. Lalu menatap geli ke sebuah amplop coklat bercap Garuda Pancasila yang tergeletak di meja. Surat panggilan pemeriksaan. Surat yang sama yang memaksanya menginap di rumah sakit beberapa waktu lalu.

“Apa jadinya jika saja drama tabrakan itu gagal?” tanya papa pada diri sendiri. Ia hampir-hampir tertawa.

Papa membayangkan setelah ini ia tak bisa lagi duduk di kursi tengah Jaguar, menembus keruwetan jalanan Ibukota dengan voorijder di depannya. Ia hanya bisa menumpang mobil tahanan lengkap dengan jeruji baja di tiap sisi jendela. Ia tak lagi bisa mengenakan setelan jas hitam seharga belasan juta yang membuatnya tampak begitu gagah dan terhormat. Ia hanya akan mengenakan kemeja murahan ala kadarnya ditambah rompi berwarna oranye terang seperti pelampung korban kapal karam. Kapal papa memang karam tetapi, seperti biasa, ia akan selamat.

Papa menatap ke langit-langit kamar. Ini adalah bangunan dengan material terbaik, diisi hanya dengan perabot terbaik, dan dikelola oleh pembantu yang juga terbaik. Rumah ini seperti halnya puluhan rumah lain yang ia miliki, selalu memberikan kenyamanan dan kemewahan. Ia menatap tiap sudut kamar dengan seksama. Membayangkan setelah ini ia harus menempati sebuah sel terkunci berukuran mini lalu mati membusuk karena beberapa penyakit kronis.

Bayang-bayang kehidupan penjara membuat Papa ketakutan.

“No way!”

Andaikata rencana ini gagal, Papa akan tetap melawan. Ia melirik sebuah tas kulit hitam di sudut kamar. Sepucuk pistol masih tersimpan di sana.

 ***

Kelima pimpinan lembaga antikorupsi ini sama sekali tak beranjak dari kantor sejak dua hari lalu. Setiap orang yang berada tiga tingkat di bawah komando mereka juga tampak siaga. Tidak ada yang pulang. Mereka semua bertahan untuk merancang sebuah kejutan, sebuah serangan balik yang tidak terduga.

Seorang sekretaris menghampiri sang ketua dan menyodorkan sebuah dokumen. Sang ketua diam sejenak dan menatap secarik kertas putih yang tergeletak pucat di depannya. Ia membaca tak kurang dua kali untuk memastikan redaksi surat itu sempurna. Kesalahan sedikit saja bisa berujung fatal sebagaimana kekalahan telak dalam praperadilan beberapa pekan yang lalu. Ia mencabut sebuah Parker dari saku kemeja dan bersiap membubuhkan tanda tangan, lalu menatap ke empat pimpinan lainnya. Mereka membalas dengan pandangan yang menyimpan bara api. Sang ketua pun mengayunkan pena di atas surat perintah bagai tebasan pedang algojo memenggal leher seorang pengkhianat.

Di ruangan lain di gedung yang sama, sebuah tim terdiri dari tiga puluhan orang sedang menerima pengarahan. Seorang perwira menengah memegang sebuah pointer laser dan menunjuk sebuah denah di layar. Semua yang hadir tampak memperhatikan seksama. Ia adalah seorang penyidik senior yang telah berkali-kali memimpin operasi ‘penjemputan’ seperti ini. Reputasinya tidak lagi diragukan.

“Jika memang rencana penjemputan dapat dilakukan di dua lokasi, sepertinya kita kurang orang,” seorang lelaki dengan kemeja krem menyeletuk.

“Ya. Itu sudah diurus. Bukan begitu, Pak?” balas perwira yang memberi pengarahan sambil melirik seorang dengan topi hitam.

“Tentu saja,” jawab orang itu sambil tersenyum dan mengelus revolver yang terselip di pinggangnya.

“Ada pertanyaan lagi?” perwira itu bertanya dengan tatapan memastikan.

“Tidak ada, Pak. Kami siap berangkat di bawah perintah Bapak kapan saja,” seorang menjawab dengan tegas.

“Perintah saya?” ada senyuman ganjil tersungging di wajah perwira itu. Ia kemudian melanjutkan, “bukan saya yang memimpin operasi kali ini. Saya hanya bertugas memberikan pengarahan.”

Kalimat itu membuat semua yang hadir memasang wajah kebingungan.

“Sebentar lagi kalian akan melihatnya.”

Ia kemudian meraih handy talky yang dari tadi tergeletak di meja.

“Tim lima, monitor. Tolong bawa ‘titipan saya’ masuk.”

Terdengar bunyi kresek-kresek selama dua detik.

“Siap, Ndan!,” seseorang membalas dengan nada tegas.

Tak lama, pintu ruang rapat yang sejak dua jam tadi terkunci tiba-tiba bergerak. Seorang pengawal menahan pintu agar tak kembali tertutup. Semua yang hadir seketika meloncat dari tempat duduknya. Mereka kaget setengah mati seolah mereka sedang menatap hantu. Mereka tak percaya dengan mata mereka sendiri saat melihat seorang lelaki berjenggot berjalan tenang memasuki ruangan. Seorang lelaki berjenggot dengan mata kiri berwarna putih akibat siraman air keras.

Ada semangat yang meledak-ledak di ruangan itu.

***

Pagi lumayan cerah. Sinar matahari menembus langit ibukota tanpa sedikit pun terhalang mendung.

Papa berdiri di depan cermin dan melihat betapa ia masih memesona, tak kalah dengan coverboy majalah remaja era 70-an. Ia memastikan polo shirt yang ia kenakan telah serasi dengan celana jeans berkelir biru. Ia kemudian melirik Richard Mille seharga hampir dua miliar yang melilit pergelangan tangannya. Selain memberinya informasi waktu dan gengsi yang memadai, arloji itu juga selalu mengingatkannya akan seorang teman. Teman lama yang mati bunuh diri. Mengenakan arloji itu hari ini mungkin bukan pertanda baik tetapi masih lebih baik ketimbang harus kembali ke rumahnya dan menghancurkan rencananya sendiri.

Papa tahu ia harus segera pergi. Ia membuka tas hitam yang tergelak di sudut kamar, memastikan satu set KTP-SIM-paspor ‘palsu’, dan sepucuk pistol benar-benar terbawa. Ia berjalan keluar kamar dengan menenteng tas hitam dan langsung menuju halaman depan. Seorang sopir dan dua ajudan  menunggunya di samping minibus berwarna hitam. Papa melirik jijik pada mobil yang sebenarnya sudah tergolong mewah bagi sebagian orang tetapi, baginya, tak ubahnya odong-odong yang digunakan ibu-ibu wisata keliling komplek perumahan sambil menghibur anaknya setiap sore.

“Biar tidak mencolok, Pak,” ucap sang ajudan mencoba menjelaskan.

Papa tentu bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud ajudannya. Ia mengerti, menggunakan kendaraan mewah yang biasa ia gunakan sama artinya dengan bunuh diri. Ia sudah memutuskan untuk melawan dan ia akan melawan dengan sangat-sangat keras. Ia langsung duduk di kursi tengah. Tanpa diperintah, dua orang ajudan menyusul masuk ke mobil. Satu di kursi depan, satu lagi menemani papa di kursi tengah. Mobil serba hitam itu melaju keluar dari rumah persembunyian dan bergegas melaju entah ke mana.

Tepat di depan rumah persembunyian, dari sebuah kamar di lantai tiga, di balik jendela kaca, dua orang pria baru saja selesai menggunakan teropong binoculer. Salah seorang di antaranya bergegas mengirim laporan melalui panggilan telepon.

“Tikus baru saja keluar dari lubangnya. Tim S yang lain sudah di posisi,” kata salah satu orang dengan menyebut tipe mobil dan nomor polisinya.

“Bagus. Jangan sampai lolos,” suara lawan bicaranya dari balik telepon mencoba memastikan.

“Tidak akan.”

Ia kemudian menutup telepon dan bergegas menghadap laptop yang sudah lima hari tidak pernah dimatikan.

***

Lelaki bermata putih duduk di dalam sebuah minibus dengan dua orang polisi bersenjata. Ia memandangi sebuah titik di gawainya. Sebuah titik berwarna merah terus bergerak dan berpendar. Beberapa titik hijau lain tampak ada di depan, belakang, dan beberapa ratus meter di sekitar titik merah tersebut. Lelaki bermata putih tahu, ia semakin dekat dengan buruannya. Di belakang mobil yang dinaikinya, setidaknya ada dua mobil lain mengikuti.

***

Mobil yang dinaiki Papa telah melaju hampir dua jam. Jarak rumah persembunyian berikutnya tinggal 30 menit lagi. Ia memang harus terus berpindah sambil mengamati perkembangan yang terjadi.

Sopir melirik kaca spion berkali-kali, memastikan tidak ada yang membuntuti. Kedua ajudan juga mengamati barangkali ada sesuatu yang ganjil. Papa duduk sambil sesekali menelepon beberapa orang. Sebagai pemegang kunci, ia harus menyakinkan lawan bicaranya bahwa rahasia besar mereka tetap aman. Tentu ia menggunakan ponsel dan nomor sekali pakai. Selesai bicara, telepon genggam itu langsung dibuang. Jika tak waspada, berkata ‘halo’ pun akan menjadi akhir dari muslihatnya.

Mobil papa memasuki jalanan yang agak sempit dengan lalu lintas yang cukup padat. Sopir berusaha menyalip semua kendaraan di depan. Ia tak ingin membuang waktu di sini. Entah mengapa papa merasa tidak nyaman melihat suasana jalanan di tempat ini. Jalanan sempit ini tampak seperti terowongan yang akan segera mengubur hidupnya.

“Cepat, Pak. Jangan lama-lama di sini,” perintah papa.

Sopir hanya menjawab dengan anggukan yang disusul bunyi klakson berulang-ulang. Minibus di depan mereka tetap bergeming seolah tak mendengar apa-apa. Keringat dingin mulai mengucur di kening papa.

***

Lelaki bermata putih membandingkan informasi dari gawainya dengan jalanan yang sedang disaksikan mata kanannya. Ia dapat melihat kendaraan buruannya dalam jarak kurang dari seratus meter. Sebuah minibus hitam berjalan sekitar 40 kilometer per jam. Lelaki bermata putih itu tahu mobil hitam itu membawa buruannya.

Ia mendekatkan radio ke bibirnya dan memerintahkan seluruh tim bersiap. Selang beberapa detik, terdengar bunyi senjata terkokang. Ia diam sejenak untuk berdoa. Dan saat membuka mata, tatapannya telah berubah layaknya seekor predator.

“Sekarang!”

***

Papa merasakan keningnya terbentur jok saat sopir tiba-tiba menginjak rem. Sebuah mobil berhenti di depan mereka dengan posisi serong sehingga menutup jalan dari dua arah. Empat orang turun. Tiga di antaranya mengacungkan sesuatu yang tampak familiar.

Papa terperanjat, tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

“Mundur!” kata Papa.

Namun, sopir hanya diam. Kedua kakinya tiba-tiba lemas. Papa menoleh ke belakang. Sebuah mobil terlihat memepet mobilnya. Satu mobil lain parkir dalam posisi serong menghalangi jalan.

Terlambat. Puluhan orang mengepung mobil Papa. Banyak di antara mereka bersenjata. Seseorang mengetuk jendela dengan gagang pistol. Sopir yang panik itu hanya bisa patuh. Lelaki bersenjata itu dengan cepat meraih kunci mobil, mematikan mesin, dan memasukkan kunci itu ke dalam saku.

“Semuanya keluar!” bentak seorang lagi.

Sopir dan seorang ajudan yang duduk di depan tak berkutik. Mereka segera digelandang dan dimasukkan ke mobil depan. Papa masih diam. Tubuhnya membeku. Bayang-bayang kehidupan penjara berkelebat di kepalanya. Hari ini Papa akan kehilangan segalanya.

“Keluar dari mobil!” ucap seorang lagi berusaha agak sopan.

Papa menatap kosong. Ia sudah bertekad melawan. Tangannya membuka tas hitam. Ajudan yang duduk di sebelahnya mengetahui gelagat itu. Ia segera memegangi tangan papa. Pandangan ajudan tersebut menyiratkan permohonan agar papa mengurungkan niatnya.

“Sudahlah, Pak. Melawan mereka sama dengan bunuh diri,” ajudan itu menyakinkan.

Mereka benar-benar terkepung. Papa perlahan dapat menguasai kembali emosinya. Ia menarik kembali tangan dari tas itu. Melihat majikannya kembali tenang, ajudan itu membuka pintu dan turun dari mobil. Tiga orang dengan cepat meringkus dan memasukkan ajudan tersebut ke dalam mobil yang terparkir di belakang. Ia tak sempat melihat majikannya yang kembali merogoh tas dan menyelipkan isinya ke pinggang.

Papa turun dari mobil dan langsung diapit dua orang. Sepuluh meter dari tempatnya berdiri, lelaki bermata putih berjalan cepat dikawal beberapa orang bersenjata laras panjang. Lelaki itu semakin mendekat dengan tatapan yang menguarkan kesumat. Lelaki bermata putih itu tinggal satu langkah di depan papa. Kesumat itu terlihat semakin jelas, membuat mata kiri lelaki itu seolah kian memutih. Di tangan lelaki bermata putih itu, terlihat secarik kertas.

“Ini surat perintah penangkapan Bapak.”

“Selesai sudah,” ucap papa.

Moncong pistol mengarah ke dada lelaki bermata putih tanpa sempat ia sadari. Dan yang terdengar setelahnya hanya suara tembakan dan tembakan.