Menjadi Abdi Negara Berawal dari Niat

Informasi pendaftaran CPNS yang berseliweran belakangan ini tidak mengejutkan. Bukan hal baru juga jika lowongan CPNS langsung diburu oleh puluhan ribu manusia. Menjadi PNS masih menjadi mimpi banyak pemuda kita. Pekerjaan tetap yang bebas dari ancaman pemecatan memang masih ampuh sebagai pemikat. Selain itu, menjadi abdi negara yang berbakti merupakan sebuah niatan mulia, buah dari pendidikan kewarganegaraan di bangku sekolah bertahun-tahun lamanya. Sebuah niatan yang seyogianya melahirkan perbuatan-perbuatan mulia pula.

Beberapa hari lalu saya terlibat sebagai panitia tes seleksi CPNS pada instansi tempat saya bernaung. Tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) digelar di Maria Convention Hall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya bertugas bagian grepe-grepe peserta sebelum masuk ke dalam ruang ujian, memastikan tak ada handphone atau televisi berwarna yang mereka bawa.

Cuaca hari itu benar-benar ekstrem. Setelah seharian terik matahari bikin kepala pening, hujan tumpah ruah menjelang senja. Para peserta berteduh di bawah tenda yang terlihat ala kadarnya. Peluh dan air hujan bercampur di wajah mereka. Banyak yang datang sejak pagi dari luar kota dan sampai pukul 19.00 WIB belum juga dapat mengikuti ujian. Keterlambatan memang sempat terjadi akibat miskomunikasi dan manajemen risiko yang kurang matang.

Di tengah kondisi fisik yang tak sepenuhnya prima dan cuaca tak kenal ampun, semangat para peserta tak juga padam. Mereka tetap duduk menanti giliran, menahan lelah, lapar dan dingin yang sejak tadi menyerang. Mereka sadar ini adalah perjuangan dan perjuangan memang tak pernah mudah.

Pada sela-sela kesibukan sebagai panitia, saya sempatkan membuka obrolan dengan para peserta. Setelah basa-basi menanyakan nama, status perkawinan, daerah asal, dan latar belakang pendidikan, saya bertanya apa motivasi mereka bersusah-susah mengikuti tes CPNS. Saya penasaran karena banyak dari mereka sudah bekerja di perusahaan ternama dengan penghasilan yang wah. Beragam jawaban saya dapat tetapi ada satu yang generik dari mulut mereka: mengabdi kepada bangsa dan negara. Menjadi birokrat, menjadi abdi negara, menjadi pelayan masyarakat. Sekali lagi, sungguh sebuah niat mulia. Guru PKN mereka pasti bangga.

Niat mengabdi dan melayani sudah selayaknya bersemayam dalam diri setiap abdi negara. Saya teringat ceramah seorang ustaz beberapa tahun silam mengenai niat. Bagi seorang muslim ada sebuah hadis yang sangat familiar, inna amalu binniat. Artinya kurang lebih adalah esensi sebuah perbuatan tergantung nawaitu-nya. Niatnya. Niat ini harus lurus baik pada saat sebelum berbuat, pada saat berbuat dan setelah berbuat. Sederhananya harus lurus tak boleh menyimpang sejak awal hingga akhir.

Niat atau motivasi yang semula suci harus dikawal agar senantiasa suci, tak ternoda. Niat mengabdi pada negara tak boleh berubah menjadi niat menggarong negara. Sekali lagi, niat adalah esensi dari sebuah keberadaan. Ibarat manis yang menjadi esensi dari gula, pengabdian adalah esensi dari birokrat. Akan jadi apa gula tanpa rasa manis? Akan jadi apa birokrat tanpa niat untuk mengabdi?

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa hidup ibarat sebuah aliran sungai. Ranting kering, daun, lumpur, limbah, kotoran atau apa pun bisa jatuh begitu saja ke dalamnya. Benda-benda asing dan kotoran bisa membuat sungai keruh dan alirannya terhambat. Kondisi itu membuat sungai tak lagi mampu menjadi sumber kehidupan. Sebuah sungai yang tak lagi mengalir dan beracun justru akan menjadi ancaman bagi kehidupan di sekitarnya.

Dalam hidup segalanya bisa terjadi. Baik hal baik maupun hal buruk dapat terjadi setiap saat tanpa pernah kita sangka sebelumnya. Ibarat sungai yang mengalir jernih, niat suci untuk mengabdi bisa berubah karena godaan kekayaan dan kekuasaan. Keinginan duniawi mampu menggelapkan hati, menyulap niat mengabdi menjadi mencuri, merubah wajah malaikat bersayap putih menjadi iblis bertanduk api. Seorang pelaksana yang nriman bisa berubah menjadi pejabat tinggi yang hanya mau fasilitas bintang lima. Seorang pegawai yang semula jujur, bisa berubah menjadi raja tega yang halalkan segala cara demi uang dan kuasa.

Yang baik saja bisa berubah menjadi penjahat, apalagi yang sejak awal memang bajingan?

Ke mana perginya niat suci mengabdi yang mulia itu? Apakah niat mengabdi hanya formalitas tahap seleksi dan wawancara saja? Apakah niat mengabdi sejatinya tak pernah ada, hanya artifisal palsu belaka? Apakah niat mengabdi hanya manis di bibir yang memutar kata? Apakah niat suci itu kini telah terkotori atau bahkan berubah begitu berlawanan? Niat yang begitu membaja yang dibawa dalam pertempuran seleksi CPNS sirna karena uang dan kekuasaan tampak begitu menyilaukan. Mereka yang seharusnya melayani justru menjadi tukang palak berseragam yang digaji dari keringat rakyat.

Saya, kita semua, berharap niat tulus mengabdi para peserta seleksi CPNS kali ini akan bertahan dan mewarnai birokrasi ke depan. Tentu kita tidak ingin proses seleksi yang susah payah ini pada akhirnya hanya melahirkan birokrat-birokrat malas dan korup. Sudah saatnya birokrasi kita keluar dari kegelapan. Min dzulumati illa nuur.

Kita pastas bangga dan bersyukur tentu saja, masih banyak birokrat yang istiqomah menjaga niat untuk mengabdi. Mereka yang tetap bekerja untuk masyarakat meski minim gaji dan fasilitas. Merekalah birokrat sejati yang tak pernah memikirkan diri sendiri. Hati, pikiran, dan perbuatannya untuk rakyat Indonesia. Ketika niat mengabdi telah tumbuh dan tertanam kokoh, ia akan melahirkan pengorbanan nyata.

Saya teringat cerita paman saya yang mantan kepala SD di Kediri. Ia menceritakan pada 2017 ini, masih banyak guru honorer digaji Rp300.000 per bulan. Sebuah nominal yang mungkin tidak cukup untuk beli bensin dan kuota sebulan. Jangan heran jika ada yang harus susah susah kerja sampingan demi bertahan hidup. Semisal Bripka Seladi di Malang yang nyambi menjual sampah di sela-sela dinas sebagai polisi. Tentu itu jauh lebih mulia ketimbang menjual pasal atau surat tilang.

Perjuangan para peserta seleksi CPNS membuat saya berkaca, lalu merasa malu. Saya lulusan sebuah sekolah kedinasan yang tak perlu berjibaku ikut seleksi CPNS. Setelah lulus kuliah langsung diangkat menjadi abdi negara dengan penghasilan yang alhamdulillah. Tak perlu membayar biaya SPP perguruan tinggi yang katanya semakin tinggi. Tak perlu memelototi koran dan internet setiap hari untuk mencari info lowongan pekerjaan. Tak perlu wira-wiri menenteng map berisisi ijazah dan surat lamaran.

Dibanding perjuangan para peserta seleksi CPNS, tak berlebihan jika seorang dosen menyebut apa yang saya dapat sebagai ‘kemewahan’. Mendapat pendidikan gratis di kampus ternama dan tak perlu susah mencari pekerjaan memang adalah sebuah kemewahan yang tak bisa dinikmati semua orang di republik yang pendidikannya makin terkomersialisasi dan jumlah lapangan pekerjaan begitu mengenaskan ini. Sebuah kemewahan yang seharusnya dibayar dengan pengabdian terbaik, bukan sekedar absen, duduk manis, dan seharian bermain DotA.

Sumber gambar: Devi Safira.