Serisau Malam

“Kau yakin mau melakukan ini?” tanyaku sambil terus menatap jalan.

“Entahlah. Tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” jawabnya.

Aku melirik sekilas. Matanya resah, ekspresi wajah sekeras batu.

Dani sudah seperti saudara bagiku. Berdua kami bahu-membahu sejak dua belas tahun lalu. Bukan dalam perbuatan terpuji, sayangnya. Namun, apa salahnya mengambil sedikit dari orang-orang kaya itu? Mereka tak akan jatuh miskin, bukan? Bisa jadi malah semakin kaya karena sebagian harta mereka, selalu kami sisihkan untuk fakir miskin. Anggap saja kami mewakili mereka yang tak sempat bersedekah sendiri.

Seringkali aku meledeknya, “Hidupmu penuh drama.”

Ledekanku bukan tanpa alasan. Lima tahun lalu, Dani bertemu perempuan itu. Perempuan yang digilai sekaligus menggilainya. Namun, ujungnya selalu bisa ditebak: restu orang tua tak pernah didapat. Orang tua mana yang mau melepas anak gadisnya kepada lelaki yang kabur kanginan? Cinta dan nafsu yang sedang panas-panasnya membuat Dani melengkapi dramanya dengan kawin lari.

“Nanti kalau sudah lahir cucunya bakal melunak juga sikap mereka,” katanya.

Sayang, anak yang dinanti itu tak kunjung tiba. Dan kau tahu, cinta di kehidupan nyata tidak selalu hangat layaknya di film drama. Cerita cinta di film lebih banyak tentang perlekatan alat kelamin, dan kadang-kadang tentang anak. Di kehidupan nyata, kebanyakan cerita cinta adalah tentang anak, dan hanya kadang-kadang tentang perlekatan alat kelamin.

Hubungan dengan orang tua yang tak kunjung membaik, berpadu dengan cinta yang mulai memudar. Seolah belum cukup, godaan lain pun datang. Barangkali kau tahu, perempuan seringkali lemah saat merasa disayang. Jika kau perempuan, godaan mana yang lebih berat dari, lelaki lain yang lebih sayang padamu ketimbang laki sendiri? Ya, Dani terlalu abai. Untuk yang satu ini aku menyalahkannya.

“Sudah berapa lama kau tahu?” tanyaku lagi.

Tanganku memegang kemudi dengan sedikit gemetar. Dia melihat kaca samping. Senyumnya getir.

“Sudahlah. Yang jelas aku tahu.”

“Aku masih mencintai istriku, kau tahu? Siapa lagi yang bisa kupercaya untuk melakukan ini selain kau?”

Tangannya membuka dashboard. Revolver itu ada di sana. Aku menarik nafas dalam. Malam ini benar-benar jahanam.

“Dan lakukan dengan cepat. Aku tak mau dia menderita.”

Rumahnya sudah terlihat, di saat yang bersamaan gelisahku makin menggeliat. Istrinya yang ayu itu membukakan pintu. Hatiku bergolak. Namun, laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Satu tembakan dan dia terkapar. Tanpa penderitaan, sesuai pesanan.

Aku kembali menggeluti malam. Jalanan terlihat semakin suram. Masih tersisa waktu beberapa jam untuk mengubur mayat yang kubawa di bagasi tanpa perlu khawatir ketahuan. Segalanya telah disiapkan.

Gawaiku bergetar. Perhatianku teralih dari kemudi. Sebuah pesan masuk.

“Terima kasih, Sayang. Sekarang kita tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Dari Dinda.

  • Rd.

    Saya harus membaca dua kali baru ngeh akan si dia di paragraf 16, warbyasa..

    • Tobagus Manshor Makmun

      Hasil ulah para editor ini, Om