Perihal Para Bajingan yang Menyenangkan

Ini buku kedua Puthut EA yang saya tamatkan dengan sukacita, sekaligus buku kesekian yang bisa saya tamatkan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Kurun waktu membaca penting bagi saya, sekaligus penanda sebuah buku berhasil membuat saya penasaran. Buku ini nyatanya benar-benar menyenangkan.

Soal menyenangkan, ada beberapa buku yang awalnya saya kira menyenangkan. Namun, baru di halaman-halaman awal, tak berhasil memikat dan membuat saya menunda bab-bab berikutnya. Salah satunya karya mas Puthut juga, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Entah kenapa novel andalannya itu justru baru saya tamatkan setelah tak ada bahan bacaan lain—selain majalah yang disediakan oleh maskapai penerbangan yang kebetulan saya tumpangi, dan tampak sudah lumayan basi.

Jujur saja, belum apa-apa saya sudah tertipu. Saya kira para bajingan itu adalah biografi kawan-kawan seperjuangan si pengarang sewaktu kuliah. Beberapa hari setelah selesai membaca, saya baru benar-benar sadar buku itu hanyalah novel. Paling tidak, itu yang tertulis di halaman belakang, di sudut kanan bawah, tepat di bawah nomor seri ISBN. Namun, saya berubah pikiran setelah membacanya. Saya merasa benar-benar tertipu. Buku yang benar-benar bajingan.

Kenapa saya berpikir ini buku biografi?

Karena isinya memang berpusing-pusing pada pertemanan jadul enam orang anak muda yang senang berulah. Mereka adalah Jadek (almarhum), Bagor, Kunthet, Proton, Babe, dan seseorang yang menyebut dirinya sendiri dengan kata ganti “saya”.

Secara garis besar, buku ini mengingatkan saya pada postingan-postingan Agus Mulyadi di blog pribadinya yang berlabelkan kawan. Betapa mudah menyandingkan keenam tokoh dalam buku bajingan ini dengan para gentho personel Geng Koplo kawan Agus: Paijo, Gembus, Kuncung, Kebo, Marcopolo, dan lain-lain. Bedanya cuma seting waktu dan lingkungan. Pelan-pelan, saya mulai mencurigai hubungan dua fenomena ini. Jangan-jangan Agus terinspirasi dari Puthut. Atau sebaliknya.

Bagian pertama sendiri—yang semacam episode pilot dalam serial televisi barat—terdiri dari hampir sepertiga buku. Tak kira-kira, 51 dari total 177 halaman. Disambung bagian dua yang ternyata lebih banyak lagi. Dan tiba-tiba saja saya sudah sampai pada epilog. Bagian terakhir disisipi kamus bahasa Jawa yang juga bisa ditemui pada dua bagian utamanya.

Buku yang konon ditulis dengan gawai canggih itu, sesuai judulnya, bercerita tentang keakraban. Dan itu adalah jenis keakraban yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah mengalami masa-masa menyenangkan bersama para bajingan. Jenis keakraban di mana nama binatang atau kata bajingan itu sediri, menjadi panggilan kesayangan. Yang negatif berarti positif. Semacam itulah. Kalau belum pernah mengalami masa-masa semacam itu (berteman dengan manusia-manusia yang sepintas terlihat berbahaya, tidak umum, dan nirfaedah bagi masyarakat), hidupnya mungkin agak sia-sia. Hidup Anda yang sia-sia kalau belum pernah bertemu manusia seperti mereka, maksud saya.

Kesimpulannya, tak rugi membaca kisah para bajingan yang selalu bisa bersenang-senang dalam hidup. Walaupun yang paling senang sepertinya si penulis kisah itu sendiri, tentu saja. (Atau justru orang paling bajingan dalam kisah itu?)

Para Bajingan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Prima S. Wardhani
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan: I, Desember 2016
Tebal: vi+178 hlm.

Rd.

Staf pelaksana di pemerintah daerah yang belajar menulis, sementara itu saja.