Pekerja Berprestasi ala Russell dan Marx: Longer Means Better?

Orang-orang dengan militansi kerja tinggi mungkin setuju, bahwa 24 jam sehari merupakan waktu yang terlalu singkat untuk menyelesaikan pekerjaan. Mereka pun mungkin akan bertanya kenapa pada masa Hellenistik, Hipparchus (astronom Yunani) membagi hari menjadi 24 jam dalam perhitungan ekuinoks?

Namun, pertanyaan yang lebih tepat seharusnya adalah, apakah dengan bertambah panjang jam kerja, output yang dihasilkan oleh pekerja juga semakin meningkat? Apakah perusahaan akan mencapai business performance yang masif ketika pekerjanya bekerja lebih lama?

The Economist melalui artikel “Proof that You should Get a Life” yang rilis September 2017, mengurai beberapa analisis yang mendukung pendapat bahwa jam kerja yang lebih panjang belum tentu berimplikasi positif pada produktivitas. Dalam artikel tersebut, John Hicks (ekonom Inggris) mengatakan,

With longer hours, output per hour would fall. As workers slaved away for longer and longer, they would lose energy, which would make them less productive.

Dari grafik yang dimuat oleh The Economist, terlihat dengan meningkatnya hours worked per person, output dari labour per jam justru menurun:

working_hours_picture_1_2

screen_shot_2014-12-09_at_09.43.28

Seorang ekonom dari Stanford University, John Pencavel, juga melakukan riset dengan mengambil data olahan dari investigator Health of Munition Worker Committee selama Perang Dunia I. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh pemerintah Inggris yang kesulitan mencari cara meningkatkan  produktivitas. Hal ini karena tingginya permintaan (demand) akan persenjataan dan amunisi yang digunakan untuk Perang Dunia I.

Investigasi tersebut berusaha mencari hubungan antara work hours dengan work performance, hasilnya menunjukkan para pekerja membutuhkan waktu kerja lebih singkat. Dalam grafik di atas, hal ini terlihat ketika titik weekly work hours berada di bawah 49, variation in output proporsional dibandingkan dengan variation in hours. Namun, ketika weekly work hours lebih dari 50 jam per minggu, output cenderung menurun.

Mengurangi jam kerja – katakanlah dari 55 jam menjadi 50 jam per minggu – hanya akan memberi efek yang tidak terlalu signifikan terhadap output. Hasil penelitian tersebut bahkan menunjukkan, apabila jam kerja ditambah menjadi 70 jam per minggu, peningkatan output-nya tidak jauh berbeda dengan 56 jam per minggu. Artinya, peningkatan 14 jam kerja adalah kesia-siaan belaka karena pertumbuhan output yang dicapai tidak berbanding lurus dengan pertambahan jam kerja.

Seorang filsuf sekaligus ahli logika dan matematika dari Inggris, Bertrand Russell, menyampaikan beberapa pemikiran yang sangat menarik dalam esai “In Praise of Idleness”,

For the present, possibly this is all to the good. A large country, full of natural resources, awaits development, and has to be developed with very little use of credit. In these circumstances, hard work is necessary, and is likely to bring a great reward. But, what will happen when the point has been reached where everybody could be comfortable without working long hours?

Pemikiran itu jelas sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh sebagian besar warga negara berkembang: pekerja dikatakan produktif bila melaksanakan pekerjaan dengan jam kerja yang lebih panjang. Russell menjelaskan, ketika jam kerja seseorang dikurangi – katakanlah menjadi 4 jam sehari – tidak berarti mengindikasikan 20 jam sisanya bisa dihabiskan untuk bersenang-senang.

Waktu kerja yang tinggal 4 jam akan membuat pekerja punya kesempatan mengelola waktu, dan memberi otoritas kepadanya untuk menentukan sisa waktu dalam sehari akan digunakan untuk apa. Dengan menerapkan hal tersebut, energi pekerja akan kembali terisi penuh ketika bekerja setelah menikmati waktu luangnya (leisure time).

“We think too much of production, and too little of consumption,” kata Russell. Pekerja terlalu dituntut bekerja dalam industri yang menuntut memproduksi sesuatu, hal yang membuat kita mengabaikan pentingnya kesenangan dan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana.

Karl Marx dalam Grundrisse (1939), mengemukakan pendapat tentang leisure time:

The saving of labour time is equal to an increase of free time, i.e. time for the full development of the individual, which in turn reacts back upon the productive power of labour as itself the greatest productive power.

Salah satu konsep saving economy untuk meminimalisasi biaya produksi menurut Marx adalah dengan saving the labour time. Pekerja mengalami peningkatan waktu senggang yang kemudian digunakan untuk proses pengembangan dirinya sendiri. Marx juga berpendapat,

Free time, which is idle time and time for higher activity, has naturally transformed its possessor into a different subject, and he then enters into the direct production process as this different subject. This process is then both discipline, as regards the human being in the process of becoming; and at the same time, practice experimental science, materially creative and objectifying science, as regard the human being who has become, in whose head exists the accumulated knowledge of society.

Free time (atau leisure time) akan mentransformasi pekerja menjadi subjek yang berbeda. Kualitas mereka akan lebih komprehensif, baik secara kualitas pekerjaan maupun kemampuan bersosialisasi dalam masyarakat. Dalam hal ini, Marx senada dengan konklusi Russell,

Above all, there will be happiness and joy of life, instead of frayed, weariness, and dyspepsia. Since men will not be tired in their spare time, they will not demand only such amusements as are passive and vapid. Ordinary men and women, having the opportunity of a happy life, will become more kindly and less persecuting and less inclined to view others with suspicion.

So … does longer mean better, Bosqu?

Guntur Priadi

Staff at Directorate General of State Asset Management Ministry of Finance of Republic of Indonesia