Jakarta Sebelum Pagi: Panduan Bekerja di Jakarta

Sejak bagian awal, novel ini langsung menyentil saya secara pribadi. Terutama ketika tokoh Emina menyebut Nissa sebagai yan pi—kulit dimsum dari daging babi yang dipukul-pukul, dicampur tepung, ditipiskan, dan dijemur. Makanan terkenal dari Provinsi Fuzhou itu dipakai sebagai analogi untuk kelas pekerja yang tinggal atau bekerja di Jakarta: dipukul, dihimpit, diinjak-injak, digiling halus dalam gerbong kereta penuh sesak, dan dijemur di bawah terik matahari.

Saya pribadi tak jauh berbeda dengan Nissa. Setiap pagi, saya berjibaku dengan ribuan pekerja lain di kereta, berpindah jalur di stasiun, dan berlarian mengejar gerbong. Sedikit perbedaan, saya tak dijemur di bawah sinar matahari—kebetulan saya bekerja di ruang ber-AC. Namun, seandainya saya bertemu Emina, ia tetap memasukkan saya ke dalam kategori makanan berbahan babi itu. Tetangga apartemen Emina yang notabene ganteng saja ia panggil babirusa. Rekan kerjanya yang lain, Kak Cindi, ia sebut babi asap. Serba-babi.

Kenapa musti babi?

Emina dikisahkan oleh Ziggy baru saja selesai membaca Animal Farm (1973), novel satire karya George Orwell yang memang page turning. Saya pernah membaca edisi terjemahannya—diterjemahkan menjadi Binatangisme oleh Mahbub Junaedi—dalam perjalanan dengan kereta Jogja-Pasar Senen. Dan menurut saya, membaca Animal Farm terlebih dahulu sangat membantu untuk memahami Jakarta Sebelum Pagi. Jika langsung membaca yang terakhir disebut, besar kemungkinan Anda akan mengernyitkan dahi sepanjang cerita. Anda barangkali akan bertanya mengapa Emina sering mengatakan babi, bercerita tentang babi, atau menganalogikan segala hal dengan babi?

Kehidupan kelas pekerja Jakarta memang sangat menohok sebagai awalan. Terutama para pekerja yang tak punya hasrat melawan meski kondisi ekonominya cenderung stagnan, atau terombang-ambing kesana-kemari berdasarkan jalur yang ditentukan oleh entah siapa. Tentu tak semua anggota kelas pekerja seperti itu, apalagi yang telah mengorganisir diri dalam serikat-serikat pekerja. Yang diceritakan Ziggy adalah kelas pekerja seperti Nissa. Sebagai seekor babi seorang sahabat, Nissa mengingatkan Emina untuk bertindak apatis terhadap segala hal di sekelilingnya, dan hanya reaktif jika hal tersebut terjadi pada diri sendiri. Seperti terhadap stalker misterius yang mengirim rangkaian bunga dengan balon ke jendela apartemennya, Emina harusnya melapor polisi.

Apa itu dilakukan Emina?

Tidak. Walau terbelenggu dengan pekerjaan monoton—memesan menu makanan diet untuk boss-nya selama bertahun-tahun (tanpa terlihat sama sekali efek menu diet tersebut)—Emina tidak berminat menjadi yan pi. Yang terjadi justru Emina mencari stalker tersebut. Pencarian itu mengantarkannya kepada Suki, seorang anak perempuan dengan pemikiran kelewat dewasa (mirip dengan Ai Haibara dalam komik Detective Conan) bernama Suki.

Alih-alih sibuk dengan PR dan tumpukan buku (matematika, bahasa inggris, aqidah, tematik, you named it!) yang harus dijejalkan ke dalam tas ransel sekolah tiap pagi, Suki justru aktif mengurus tea room yang menjadi satu dengan toko bunga milik kakaknya. Ia seperti kamus hidup segala hal tentang teh: jenis-jenisnya, adab, bahkan tata cara minum yang baik dan benar.

Jakarta Sebelum Pagi juga semakin menarik karena deskripsi beberapa lokasi di Jakarta. Generasi milenial boleh menjuluki spot-spot di Jakarta dengan sebutan instagrammable, path-able, dan abel-abel lain (unfortunately, tokoh pria dalam novel ini juga bernama Abel). Namun, ibukota negara yang semakin menjelma belantara beton itu, ternyata juga memiliki spot-spot dengan nilai historis (dan eksotisme) yang tak banyak diketahui orang. Kanal Molenvliet, misalnya. Kanal di antara Jalan Gajahmada dan Hayam Wuruk (Jakarta Barat) ini, kemungkinan besar akan kausalahpahami sebagai bikinan orang Eropa. Padahal ia dibangun oleh orang Tionghoa.

Deskripsi-deskripsi itu mengingatkan saya pada Yogyakarta dan cerita masa lalunya. Seperti di Jalan Ibu Ruswo daerah Wijilan, pernah berdiri bioskop Widya, teater kasta kedua yang selalu penuh saat Saur Sepuh, Warkop DKI (versi asli, bukan reborn yang sama sekali tak lucu itu), dan Ari Hanggara sedang tayang. Atau di Jalan Sultan Agung yang pernah berdiri bioskop Permata dengan spanduk film Erotic Black Magic.

Ziggy sedikit mengubah cara pandang saya terhadap Jakarta. Melalui Emina dan Abel, Ziggy seolah menawarkan cara baru menikmati ibukota dengan menelusuri lokasi-lokasi bersejarah berdasarkan setumpuk surat cinta yang mereka temukan. Jika Anda tak ingin menjadi yan pi, atau sekadar tertarik bertualang pada dini hari dengan orang yang baru dikenal, saya mau menemani. Rasanya itu bisa menjadi alternatif kegiatan yang menarik di akhir pekan.

Saya masih ingat salah satu komentar penikmat buku yang mengatakan tidak tahan membaca lebih dari lima halaman awal Semua Ikan di Langit, novel lain Ziggy yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2016. Komentar itu yang sempat membuat saya tak tertarik dengan Jakarta Sebelum Pagi. Saya bahkan sempat bertanya-tanya, kenapa bukan 24 Jam Bersama Gaspar-nya Sabda Armandio yang memenangkan Sayembara DKJ 2016?

Namun, yang terjadi kemudian malah saya jatuh hati kepada Ziggy. Jakarta Sebelum Pagi sungguh patut diacungi jempol. Tak heran jika novel ini berhasil menggondol Karya Fiksi Terbaik Indonesia 2016 versi Majalah Rolling Stone. Saya pribadi berani memberi rating 5 bintang. Sepertinya saya siap membeli Semua Ikan di Langit untuk bacaan selanjutnya supaya tetap waras dalam laju zaman edan ini. Dan terutama, supaya tidak menjadi yan pi.

Judul: Jakarta Sebelum Pagi
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penyunting: Septi WS.
Penerbit: PT Grasindo
ISBN: 9786023754847
Cetakan: Mei 2016
Tebal: 280 hlm.

  • Tobagus Manshor Makmun

    Itu nama asli penulisnya? Bisa apal? Luar biasa…