Drama Klenik dan Jimat CPNS

Jarum jam memang baru menunjuk angka 06.30 tetapi para peserta ujian sudah bergegas memadati Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara. Itu adalah hari pertama dari enam hari yang dijadwalkan sebagai hari Seleksi Kemampuan Dasar yang diadakan minggu lalu. Wajah-wajah kuyu mereka adalah komposisi antara gelisah, tegang, mata panda, dan lelah.

Namun, ada juga yang (mencoba) terlihat santai dan siap tempur. Sembari menunggu, beberapa terlihat khusyuk membenamkan diri pada buku Super Jitu Lolos Tes CPNS Sistem CAT. Beberapa yang lain mengalihkan ketegangan dengan scroll-scroll lini masa media sosial. Ada yang mengobrol melalui pesan singkat di gawai masing-masing. Tak sedikit juga yang menenangkan diri dengan merapal doa.

Ada lima sesi ujian dalam satu hari. Satu sesi membutuhkan kurang-lebih 90 menit. Masing-masing sesi diikuti oleh 120 peserta yang dibagi ke dalam 3 kelas. Peserta hanya diperkenankan membawa kartu peserta ujian dan KTP. Barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan ujian, termasuk uborampe, kami minta peserta untuk menyimpannya sendiri di tas masing-masing.

Peserta tak perlu membawa alat tulis. Pensil dan kertas buram sudah disediakan oleh panitia di samping komputer masing-masing. Sebelum tes, peserta kami brief terlebih dahulu agar memiliki pemahaman dan persepsi yang sama tentang sistem ujian, terutama passing grade yang bagi sebagian besar peserta tentu masih asing.

***

Menjadi panitia rekrutmen kalau cuma begitu-begitu doang pasti akan sangat membosankan. Agar tetap semangat dan seru, kami pun memberi julukan kepada diri sendiri dengan tagar layaknya clicktivism di Twitter. Ada banyak julukan, sebenarnya, tetapi biar tulisan ini tak terlalu panjang, hanya sebagian yang akan disebut di sini.

#PanitiaMistis adalah julukan untuk panitia yang kebetulan diberi indra keenam. Mereka bisa melihat barang-barang halus yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. #PanitiaMedis adalah julukan bagi paramedis. Berhubung sudah memasuki musim penghujan, harus ada #PanitiaOjekPayung yang siap sedia menjemput peserta yang terjebak di masjid sebelah.

#PanitiaWirausaha diberikan untuk panitia yang punya inisiatif membantu peserta ujian, seperti meminjamkan sepatu, mengelem sepatu peserta yang lepas solnya, meminjami sandal ketika ada peserta yang cedera kaki, sampai membayari tukang ojek yang ditinggalkan begitu saja oleh peserta yang lupa membayar karena saking gugupnya.

Dan #PanitiaRentalKostum untuk panitia yang rela meminjamkan kemeja putihnya bagi peserta yang salah kostum. Jangan salah, ada peserta yang mengenakan blus tanpa lengan. Mau ikut ujian atau ke mall, Non? Sayangnya, sebagian orang memang seolah terlahir dengan sense of belonging melebihi rata-rata manusia lain. Ada peserta yang seperti ini. Kemeja putih yang dipinjamkan oleh panitia, lupa dikembalikan. Biasanya kalau sudah nyaman memang suka begitu, pura-pura lupa.

body-screening-cpns

Banyak kejadian unik, seru, sekaligus emosional selama Seleksi Kemampuan Dasar ini. Berhubung yang paling menyita perhatian warganet adalah tagar #PanitiaMistis, cerita kali ini akan sedikit bercerita tentang hal-hal klenik yang dilakukan oleh peserta ujian CPNS.

Dibanding kementerian lain yang kleniknya cenderung ekstrim, di kementerian kami kleniknya nisbi ‘lebih halus’. Saking halusnya, kebanyakan klenik tersebut bahkan tak kasat mata. Mungkin para peserta klenik (sebut saja begitu) sudah belajar dari pengalaman, jimat pasti akan disita oleh panitia. Mereka pun membawa varian lainnya.

Seperti ketika membantu panitia di bagian penitipan barang, saya mengangkat salah satu tas peserta dan berkomentar tas mereka berat-berat. Selain rata-rata berasal dari luar kota, sebagian dari mereka memang pekerja. Barangkali ada yang sengaja membawa pekerjaannya di dalam tas. Ndilalah, panitia lain nyeletuk, “Ya iyalah berat, wong ‘bawaannya’ pada disimpen di dalam tas. “

Butuh loading selama beberapa detik sebelum saya memahami ‘bawaan’ yang dimaksud adalah barang-barang klenik. Saya meletakkan tas-tas itu kembali ke tempatnya. Kali itu tanpa komentar lagi.

Di salah satu sesi body screening, ada peserta yang kedapatan membawa kain kasa putih. Kain selebar dua ruas jari tangan itu dijahit rapi dan dimasukkan ke dalam saku kemeja.

“Ini apa, Mbak?”

“Oh, cuma kertas biasa, kok.”

“Boleh dikeluarkan?”

“Hm … ini sebenarnya cuma kertas aromaterapi aja, Kak.”

“Tadi katanya kertas biasa, sekarang aromaterapi. Silakan dikeluarkan, kamu simpan di dalam tas. Nggak perlu dibawa ke dalam kelas, ya.”

‘Aromaterapi’ yang lain berupa uang Rp100 ribu dengan wangi yang kebangetan. Bagi panitia yang awam, pasti lebih mudah untuk berbaik sangka. Mungkin uangnya tertumpahi minyak nyong-nyong. Tak begitu bagi panitia yang dikaruniai ketajaman mata batin. Hal-hal semacam itu jelas menyangkut bentuk yang di luar kewajaran. Jimat-jimat itu bisa ditemukan di beberapa tempat: ujung sepatu, gesper, ujung kemeja, saku, dan lokasi lain yang (harapannya) sulit dijangkau mata panitia. Di antara peserta yang ditemukan membawa jimat, ada yang keukeuh tak ingin gelangnya dilepas.

“Ini gelang adat, Mbak. Kalau boleh, saya ingin tetap pakai,” katanya.

“Ya silakan saja kalau mau dipakai. Paling nanti juga nggak boleh ikut ujian,” kata panitia body screening.

Mendengar itu, gelang tersebut dilepas juga walau dengan wajah bersungut-sungut.

“Gila! Yang tadi gede banget!” kata panitia A.

“Apanya?” tanya panitia B.

“Leaknya!”

“Buset!”

Beberapa panitia memang kebetulan bisa melihat apa saja wujud yang ‘dibawa’ atau ‘menyertai’ peserta. Bahkan ada drama perang tak kasat mata antara salah satu panitia dan makhluk ‘bawaan’ peserta yang tidak mau meninggalkan tuannya. Dan ndilalah, peserta itu kok yang sedang saya body screening. Duh! Untungnya tak terjadi apa-apa.

Sempat ada guyonan di antara para panitia, “Sebenernya yang ujian ini bukan cuma pesertanya, dukunnya pun sedang ujian. Semacam uji kompetensi antardukun yang akan menentukan karier dukun itu selanjutnya di bidang perklenikan.”

Kepala Biro kami kebetulan juga dikaruniai penglihatan ‘halus’. Sebelum sesi body screening, tumben beliau meminta para petugas mengenakan gloves latex yang biasa dipakai oleh panitia medis. Alasannya supaya tangan tetap steril. Namun, apa yang terjadi seusai sesi body screening adalah horor. Gloves latex salah satu panitia berubah warna menjadi hijau kecokelatan. Sementara gloves panitia lain baik-baik saja.

“Ini karena aku tadi ‘ngelepas’ bawaannya peserta. Selain kertas aromaterapi tadi, di sesi ini ada juga yang (kleniknya) ‘disimpan’ di kunciran rambut. Tadi aku sempat raba rambut peserta, kan? Karena ada sesuatu yang sengaja diletakkan di situ.”

Yassalam, sampai segitunya!

***

Klenik sebenarnya bukan hal baru yang harus disikapi berlebihan. Faktanya, kepercayaan terhadap jimat bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi yang secara periodik dilakukan di negara-negara Barat tentang hal berbau superstitous/mistis menyatakan, orang Amerika dan Eropa pun melakukan hal yang sama. Artinya, lelaku mistis bukan hanya monopoli orang Indonesia. Bedanya, irasionalitas di negara Barat tidak ditunjukkan/didemonstrasikan ke luar secara terang-terangan walaupun di akar rumput tetap percaya dan melakukannya. Berbeda dengan di Indonesia yang jauh lebih terbuka.

Ketika ada lowongan CPNS, jasa klenik menjadi peluang bisnis musiman yang cukup menjanjikan. Pasar persaingan sempurna dalam bidang perklenikan terbuka lebar. Segmen pasarnya tentu para peserta tes CPNS. Komoditasnya apa lagi kalau bukan janji jaminan lolos tes CPNS tanpa mumet melalui media bernuansa mistis. Ya, the name is also effort, siapa tahu ada yang percaya. Eh, ternyata banyak. Alhamdulillah ya, laku.

Ada salah satu follower di Twitter berkomentar, “Kenapa jimat nggak boleh dibawa ke dalam ruangan ujian, Mbak? Biar aja, sih. Kan jimat termasuk kearifan lokal. Emangnya ngaruh?”

Nah, same question goes to you: kenapa harus membawa jimat, emangnya ngaruh?

Umumnya, orang masih percaya jimat karena jimat memberi efek sugesti, ketenangan, percaya diri. Negatifnya, kepercayaan terhadap hal-hal klenik bisa menimbulkan kemalasan.

“Nggak perlu ngoyo usahalah, udah ada jimat ini.”

Sistem seleksi CPNS itu sudah sangat rasional, objektif, dan terukur. Seharusnya jimat dan hal-hal klenik supranatural tidak perlu dilibatkan. Selama kita berusaha dan berdoa secara maksimal, apa pun hasil akhirnya, serahkan saja  kepada Tuhan. Rasanya itu jauh lebih fair.

Analoginya, kalian pasti akan jauh lebih nyaman dengan pasangan yang mencintai dan menerima apa adanya ketimbang pasangan yang didapat dengan memakai pelet, bukan? Bayangkan saja kalau peletnya kedaluwarsa, belum tentu gambaran asli kalian akan seindah yang dia lihat selama ini. Sama halnya dengan pekerjaan yang diperoleh dengan bantuan jimat. Bagaimana kalau jimat habis masa berlakunya? Karier apa kabar?

Bagi kalian yang serius ingin menjadi Aparatur Sipil Negara, tak perlulah bawa-bawa taring babi, leak, batu akik, kain kafan, biji tanaman ditusuk peniti, atau mengerahkan kekuatan supranatural lain baik yang license maupun yang open source. Modal buat berkarier sebagai ASN adalah kompetensi. Sudah bukan zamannya mengandalkan koneksi, katebelece, apalagi jimat. Memangnya kalau sudah diterima, jimat-jimat itu yang akan menyelesaikan pekerjaan kalian? Terus kalian ngapain? Main Zuma?

Ada hal-hal yang memang perlu dan layak diperjuangkan. Namun, kita tetap harus percaya dengan kemampuan diri sendiri dan kuasa Tuhan. Mencari kerja itu serupa mencari jodoh. Kalau memang pekerjaan itu ditakdirkan dan baik untuk kita, ya be it. Kalau tidak, there will be the one yang memang terbaik untuk kita.

Post-Scriptum: Tulisan ini adalah lanjutan dari Balada Panitia CPNS 2017. Sumber gambar dokumentasi pribadi penulis dan Birokreasi.

Devi Safira

♡ Government Officer ♡ Blogger ♡ Master of Ceremony ♡ Certified Ojek Online Customer ♡ Blessed Wife ♡ A Mommy of Adorable Little Girl Kementerian Sekretariat Negara RI