D3K, Sabar, dan Berjuang

Aku tak pernah menyukai Jakarta, tidak pula membencinya. Takdir yang meletakkanku di kota ini untuk dua tahun ke depan. Entah demi cinta atau ambisi, keduanya terasa tak jauh berbeda saat ini.

Hubunganku dengannya tak berlangsung lama, sebut saja TMT. Ia membuatku menunggu melampaui batas kesabaran. Aku tidak bisa menahan diri hingga saat bertemu tiba. Tenggelam dalam euforia dan tidak bisa lepas dari hedonisme ibu kota, membuat hubungan kami bertahan tak sampai tiga bulan. Benar-benar tak tersisa.

Aku sempat menjalin hubungan dengan sahabat mantanku, SK CPNS. Hubungan ini cukup awet meski kandas di bulan ketujuh. Ia dilamar oleh sepupunya sendiri, SK PNS. Tiga bulan dan tujuh bulan adalah waktu yang singkat untuk cinta tetapi aku menikmatinya. Aku mengenang mereka sebagai bagian hidup yang pernah kujalani. Putus dari mereka, tentu aku memerlukan cinta yang lain. Butuh dua tahun bagiku untuk mencari hingga membuahkan hasil.

Bang Azrul, senior dua tingkat di atasku, baru kembali dari Jakarta. Wajahnya tampak bahagia. Aku penasaran bagaimana seseorang yang baru kembali dari sana bisa sebahagia itu. Kota yang panas, Kawan. Dan macet di mana-mana. Sebelumnya, seminggu adalah waktu terlamaku di kota itu, saat TKD mengajakku bertemu TMT pertama kali.

Ternyata wanitalah yang mebuat Bang Azrul bahagia, seorang wanita istimewa. Namanya D3K, tak kalah terkenal dengan TMT. Semua teman angkatanku, bahkan beberapa senior mempunyai impian mendapatkan hati si gadis. Seperti TMT, D3K juga memiliki kebiasaan suka membuat orang menunggu. Bedanya, ia mengharuskan kami berjuang selama masa penungguan itu. Dan coba tebak berapa lama? Dua tahun, Felas!

Tantangan yang tak kalah membuat getir adalah si gadis memiliki kakak laki-laki yang protektif, namanya USM D3K. Kau pasti tahu tingkah kakak kalau melindungi adik perempuannya, galak dan songong. Mau-tidak-mau, aku harus mendapatkan simpati kakak yang songong itu. Dia membuat dua wahana bagi semua yang ingin mendekati adiknya. Wahana pertama adalah uji pengetahuan, sudah kusiapkan strategi dan teknologi mutakhir untuk menghadapinya. Wahana selanjutnya adalah uji ketahanan otak, kulatih kepala ini dengan sikap tobat supaya kuat dan tahan banting. Banyak peserta yang pusing dan berjalan sempoyongan setelah melewati wahana kedua. Puji syukur aku bisa berteman dengan calon kakak iparku ini. Selangkah lebih dekat dengan pujaan hati, dengan konsekuensi menetap di Jakarta untuk dua tahun ke depan.

Mendapatkan hati D3K adalah soal menunggu dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Sabar untuk menjalani hari-hari penuh macet di ibu kota. Dan berjuang untuk bisa berteman dengan kerabat-kerabat D3K yang lain. Seperti yang kau tahu, menyatukan dua insan juga berarti menyatukan dua keluarga. Berteman dengan kerabat semacam Pengantar Akun, Intermediete, Advanced, beserta antek-anteknya bukan hal sepele. Jangankan berteman, mengeja nama mereka pun aku sering salah.

Jika suatu saat nanti aku berhasil menikahi D3K, akan kuberi nama anak kami 2C. Entah ini sebuah cinta atau sekedar ambisi, jarak antara keduanya terasa tipis sekali.

Akmal Aji Wahdan

Twitter: @Wahdan_Aji