Perihal Sirkus Pohon

Tak banyak penulis yang karyanya bisa saya tuntaskan kurang dari dua puluh empat jam, Andrea Hirata salah satunya.  Novel terbarunya baru tiba di tangan saya kemarin sore dan dini hari tadi tamat sudah. Lunas terbaca. Sirkus Pohon, demikian judulnya. Novel itu sudah memikat pikiran saya sedari awal membuka bungkus plastiknya yang tebal, yang kemudian saya jadikan sampul novel tersebut. Ide yang sungguh jenius dari penjual buku.

Ia terdiri dari bab yang pendek-pendek, sekitar dua atau tiga halaman saja. Namun, seperti biasa, akrobat kalimat yang ditulis Andrea Hirata membius rasa penasaran saya. Saya tenggelam begitu saja dalam jalinan kalimat yang kadang tersusun dari kata-kata aneh dan beraroma pedalaman Belantik, salah satu kampung yang dijadikan latar belakang cerita.

Mari pelan-pelan saya ceritakan sekilas isinya, garis besarnya saja, tanpa harus melukai perasaan pembaca yang belum menikmati manis saripati ceritanya. Halaman pembuka berisi celaan terhadap pohon delima, yang sepertinya termasuk spesies pohon paling tak berfaedah di muka bumi ini.  Jauh kalah dengan pohon pembandingnya, yang padahal sama-sama punya daun dan mampu berfotosintesis. Hob, tokoh utama dalam cerita ini memang sangat mengesalkan, saya pikir.

Belum habis memikirkan anak muda yang seperti tak punya sesuatu untuk dibanggakan di kampungnya itu, muncul lagi tokoh baru, perempuan muda yang seniman, lelaki muda pewaris bengkel sepeda. Amboi! Ada pula perihal sepeda diselipkan dalam cerita. Betapa makin indah kisah ini, paling tidak bagi saya, yang selalu berhasil dibikin senyum oleh alat transportasi bertubuh besi dan beroda dua itu. Walau nyatanya, roda tiga dan roda satu pun dibawa-bawa pula dalam kisah ini.

Belum cukup pelik kisah dengan kehadiran dua anak muda di atas (yang hadir berselang-seling dan berkelindan dengan kisah hidup Hob), tokoh jahat hadir pula. Tak cuma satu malah. Tapi sudahlah cukup sampai di sini mungkin, tak patut juga terlalu banyak bicara soal benar-salah.

Bagian paling menarik dari novel-novel Andrea Hirata adalah penggambaran tentang orang dan tempat, seakan-akan saya bisa bersalaman langsung dengan pemerannya. Mempesona. Begitu pun soal tempat, seakan-akan saya saat membacanya sedang berada di situ. Melihat bagaimana pohon delima itu adanya, serta orang-orang yang terkait dengannya. Memukau.

Secara garis besar, Sirkus Pohon mungkin adalah sirkus kehidupan, di mana pemain-pemain di panggung tak seperti yang dilihat penonton—manusia yang seringkali cuma bisa bersorak dan kagum akan ketangkasan pemain sulap, tong edan, bahkan seorang badut sekalipun. Seringkali tak pernah terpikir siapa sebenarnya mereka, bagaimana sebenarnya perannya, kenapa bisa sampai hadir di situ, seperti apa sejarah hidup mereka. Malah jadi rumit sekali memikirkannya.

Apalagi yang kurang, oh kisah cinta yang tak biasa, rindu yang membara dalam sekam, pasang surut sebuah persahabatan, persekongkolan antar-saudara yang sama-sama tertindas, definisi kejahatan dan kebaikan, semua-muanya bergerak tangkas sedari halaman pertama sampai akhir cerita yang mungkin menyisakan tanya lebih lanjut. Karena konon sirkus ini bagian dari sebuah trilogi. Mari kita tunggu saja. Iya, kita. Menunggu. Apa lagi?

Rd.

Staf pelaksana di pemerintah daerah yang belajar menulis, sementara itu saja.

  • Shofiyatun

    akhirnya om warem nulis di sini.. daebaaak.

    • Rd.

      suwun _/_