Monolog Rindu

Siapa bilang rindu itu indah? Kataku, ia semacam candu. Menjerat. Melenakan. Sekaligus terasa tidak benar. Ia membanjiri pikiran dengan kenangan bahkan saat aku tak bisa lagi digolongkan sebagai ABG labil. Kau tahu? Aku sudah berada pada fase yang tak seharusnya melakukan adegan berdiam diri di pojok kamar, sambil mendengarkan lagu menye-menye. Patah hati sambil galau ala-ala generasi milenial.

Mau bagaimana lagi, salahkah aku jika pada akhirnya jatuh hati lagi?

Setelah melewati banyak penyangkalan, toh aku mengaku. Jatuh hati bisa begini adanya. Jangan bayangkan laki-laki itu se-charming Aditya Surya Pratama. Dan siapa pula Aditya Surya Pratama itu? Dia yang lagi menjadi trending topic setelah menjadi pembawa acara Dr. Oz yg baru. Baik, abaikan Aditya Surya Pratama. Lelaki ini, yang berhasil menjatuhkan hatiku, hanyalah lelaki biasa. Biasa pakai banget. Terlalu biasa sehingga kau akan jalan terus saat berpapasan dengannya. Kau akan melewatkannya begitu saja. Sadis, ya? Sometimes truth hurts, my dear.

Sebut saja dia Langit, bukan nama sebenarnya. Awalnya, aku bahkan tak tahu orangnya yang mana. Suatu ketika, senior di kantor merekomendasikan dia karena mahir menggunakan Microsoft Excel. Sedangkan aku? Tidak lupa rumus SUM saja sudah patut bersyukur. Berawal dari tanya-tanya rumus Microsoft Excel untuk laporan, berlanjut dia ikut merevisi laporan yang mau kuajukan ke bos. Kadang kami makan siang atau sekadar jajan bareng di luar. Berdua saja memang tetapi aku sama sekali tak punya pikiran macam-macam. Belum, lebih tepatnya.

***

Itu adalah siang, sesaat setelah kami iseng berkeliling kota hanya untuk mengobrol ringan di mobilnya. Dia menurunkanku di kantor, dia sendiri lanjut entah kemana. Tak lama, dia tiba-tiba mengirim pesan via Whatsapp.

“Aku pikir aku istimewa, ternyata hanya aku aja yang kelewat bodoh.”

Apalah pula ini? Aku sempat ge-er dengan berpikir bahwa yang dia maksud adalah dia punya perasaan padaku. Namun, aku tak terbiasa menduga-duga.

“Kamu dimana sekarang?” tanyaku.

Lama tak dibalas, aku mencarinya ke ruang kerja. Nihil. Setelah beberapa lama, barulah dia membalas.

“Ga usah dicari. Aku masih ga bisa buat ketemu kamu lagi. Awalnya aku pikir aku istimewa. Setelah kupikir-pikir lagi, ternyata aku aja yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa. Dan ga bakal jadi siapa-siapa.”

Sementara aku masih terhenyak, sebuah pesan masuk lagi.

“Kamu tahu? Waktu kamu tadi cerita akan menikah bulan depan, seketika itu juga perasaanku berserak jadi puing. Kamu ga salah. Abaikan saja kata-kataku ini.”

Brengsek! Kok bisa dia berkata begitu? Aku suka mengobrol dengannya selama ini karena dia pintar, wawasannya luas, bicara apa saja nyambung. Tanpa tendensi apa-apa. Dan karena tak punya ekspektasi apa-apa, aku nyaman-nyaman saja jalan bareng sama dia. Saat bersamanya adalah saat-saat di mana aku bebas jadi diri sendiri. Dan sekarang, setelah pesan-pesan via Whatsapp itu?

Setalah pesan-pesan via Whatsapp itu, aku malah jadi memperhatikan dia. Sesuatu yang sebelumnya tidak kulakukan. Caranya berbicara, caranya tertawa, sampai sudut pandangnya dalam memahami sesuatu. Aku juga follow akun-akun media sosial yang dia punya, termasuk blog. Secara diam-diam dan tidak terduga, dia berhasil mengambil hatiku dengan jalan pikirannya. Aku jatuh cinta lagi, pada isi kepalanya.

Jika sekarang kau bertanya apa yang selanjutnya terjadi di antara kami, percayakah kalau kujawab tidak ada? Iya, tak ada yang berubah. Seperti idiom yang seolah ditakdirkan berakhir sebagai klise: cinta tak harus memiliki, bukan?

Minggu depan, aku menikah. Langit juga sudah menikah, sebenarnya. Lalu rindu? Biarlah selamanya hanya menjadi renjana.

Nurul Armylia

Penikmat musik yang hobi membaca. Mencintai travelling dan dia. Bisa motret juga kebut-kebutan. Temui saya di iamarmylia.blogspot.com