Gajah Mada, PKI, dan Kopi Sasetan

Hingga pembacaan akhir cerita persiapan Perang Bubat, saya masih berharap perang itu tak akan terjadi. Betapa tidak, Gajah Mada yang selama ini dianggap penggerak perang tersebut, nyatanya berusaha keras agar perang tidak terjadi. Harapan tersebut tentu muhal. Hari itu, 1279 saka atau 1357 masehi, lapangan Bubat menjadi palagan memilukan. Rombongan Prabu Linggabuana tewas seluruhnya. Alih-alih terjadi pernikahan agung antara Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, darah dan air mata yang justru tumpah di antara Kerajaan Sunda dan Majapahit.

Kejadian pada abad XIV itu membekas hingga sekarang. Sekam yang masih diselipi bara dendam, atau setidaknya amarah, dalam diri orang Sunda terhadap orang Majapahit (Jawa). Konon, itu yang membuat Anda tak perlu berharap menemukan ruas jalan dinamai Gajah Mada atau Hayam Wuruk di Tatar Sunda.

Adalah Langit Kresna Hariadi, yang menuturkan kisah di atas melalui novel “Gajah Mada: Perang Bubat”. Novel setebal 441 halaman itu sejujurnya lebih banyak bercerita tentang masa sebelum Perang Bubat. Fragmen perangnya sendiri hanya menempati bagian akhir. Adegan dalam perang tidak terlalu diekspos. Langit hanya butuh empat halaman untuk menceritakan perang yang mengharu biru.

Membaca novel, meski berlatar belakang sejarah, tentu berbeda dengan membaca prasasti atau kitab kuno. Prasasti dan kitab kuno adalah bukti paling otentik, dua dari sedikit sumber primer yang boleh dipakai dalam penelitian ilmiah mengenai sejarah. Keduanya dibuat pada masa kejadian atau dibuat oleh pelaku sejarah sendiri. Kakawin Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan puluhan prasasti (mulai dari Prasasti Alasantan hingga Waringin Pitu) adalah peninggalan sejarah yang hingga kini diakui sebagai bukti otentik keberadaan Majapahit dengan segala intriknya.

Bagi yang belum tahu, kakawin bukanlah jenis sastra yang mudah dimengerti. Sebagaimana sastra klasik, ia berbentuk syair alih-alih prosa seperti cerpen atau novel. Ditulis pada daun lontar dalam bahasa dan aksara Jawa kuno (Kawi). Tidak beda dengan kakawin, prasasti juga bukan sesuatu yang mudah dipahami. Tulisan yang dipahat pada sebongkah batu itu juga berbentuk syair, menggunakan bahasa Kawi dan huruf Jawa Kuno. Butuh keahlian khusus untuk menerjemahkan keduanya. Beruntunglah ada Langit yang membuat kita tak harus datang ke museum untuk membaca kisah Perang Bubat.

Apakah novel sejarah semacam “Gajah Mada” jadi layak dipercaya kebenarannya?

Seperti saya katakan di muka, “Gajah Mada” adalah novel. Meski berlatar belakang sejarah, ia tetap fiksi. Ia menyajikan drama dan dramatisasi. Ada tokoh dan adegan yang direka oleh pengarang novel semisal anggota pasukan khusus Bhayangkara yang memilih resign bernama Pradhabasu, Prajaka yang berkebutuhan khusus dan berkepribadian ganda, atau adegan saat Ra Kuti nekat menggauli emban (pelayan) bertubuh gemuk.

Tentu novel yang terbit 2006 itu menyajikan dramatisasi. Mengenai plot yang tetap berdasarkan riset mendalam, itu lain perkara. Bahkan saat menyusun edisi Perang Bubat, Langit mengaku pecah ndase karena harus belajar sejarah Sunda. Langit tak berharap novelnya menuai kontroversi, apalagi edisi tersebut rentan dengan isu kesukuan.

Membuat karya berlatar belakang sejarah tentu tak boleh main-main. Pengarang harus tunduk pada kejadian sejarah yang benar-benar terbukti. Apakah lantas ia tak boleh meracik bumbu sebagai penyedap cerita? Tentu saja boleh, karena ia tidak sedang memahat prasasti.

Demikian pula dengan “Pemberontakan G30S/PKI”, film yang setiap September kembali menjadi bahan keributan tahunan. Sinema berdasar kisah nyata itu diangkat dari tulisan karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh. Kisah tersebut diangkat ke layar lebar oleh pemerintah melalui Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada 1984. Rezim di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto ingin menegaskan kembali kepada khayalak, betapa Indonesia pernah mengalami masa suram: masa ketika Partai Komunis Indonesia berusaha menancapkan kuku kekuasannya dengan kudeta terhadap Soekarno melalui isu Dewan Jenderal. Sepuluh prajurit TNI menjadi korban keganasan mereka.

Arifin C. Noer, sebagai sutradara, pasti juga pecah ndase saat menggarap kisah pilu tersebut. Di satu sisi, ia harus membeberkan fakta. Di sisi lain, ia tetap harus bisa menyuguhkan karya seni secara apik dan beretika. Harap diingat, film tersebut dibuat sembilan belas tahun setelah peristiwa terjadi, saat para pelaku sejarah masih hidup. Jika menurut mereka ada yang tidak pas, Arifin bisa dipersekusi.

Berbeda dengan Langit. Ia mengangkat kisah yang terjadi tujuh abad silam. Gagak Bongol, penebas leher Mahisa Kingkin, tak akan bisa protes kenapa karirnya di pasukan Bhayangkara sempat mandeg tanpa pernah melakukan kesalahan. Atau kebenaran perselingkuhan Kalagemet dengan istri Ra Tanca yang hingga tak bisa diverifikasi. Semua menjadi kewenangan Langit untuk mengarang cerita, sepanjang tak menyelisihi bukti-bukti sejarah.

Yang patut dipahami dari “Pemberontakan G30S/PKI” adalah misi di baliknya. Film itu jelas alat progaganda pemerintah pada masanya. Ada dramatisasi di dalamnya. Ambil contoh adegan saat rapat persiapan pemberontakan. Adegan berpenerangan lampu sekadarnya itu penuh dengan asap rokok dan suguhan kopi. Tak ada yang bisa mengklarifikasi merk rokok dan kopi yang disuguhkan dalam rapat. Bahkan, belakangan timbul kontroversi apakah D.N. Aidit perokok atau bukan.

Demikianlah, saya tidak tahu apakah laik menyandingkan “Gajah Mada” dengan “Pemberontakan G30S/PKI”. Keduanya saya anggap karya seni yang mengesankan. Untuk bisa menonton film tersebut, saya harus naik truk sejauh 40 kilometer bersama rombongan dari sekolah. Pulangnya, saya basah kuyup karena didera hujan. Sementara “Gajah Mada” adalah bacaan yang mendominasi waktu senggang saya selama dua minggu terakhir ini. Sudah lama saya tidak meluangkan waktu melahap bacaan yang nyastra.

Terkait dengan kontorversi “Pemberontakan G30S/PKI”, barangkali kita perlu mengendapkan pikiran sejenak. Jangan-jangan sejarah bukan soal benar atau salah. Bukan soal siapa dalang sebenarnya di balik kejadian 30 September 1965. Bukan soal Aidit yang tewas di tangan serdadu tanpa pengadilan. Bukan pula soal bagaimana Hayam Wuruk akhirnya menikahi saudara sepupunya.

Jangan-jangan sejarah adalah soal bagaimana kita bersikap bijak terhadap masa lalu. Atau jangan-jangan karya yang menyandarkan diri pada sejarah, adalah ajakan untuk tidak berpikir ruwet soal masa lalu.

Sembari menjadwalkan waktu untuk pupuh Negarakretagama, saya ingin mengajak pembaca menikmati lirik dari “Wigaringtyas”, sebuah tembang Jawa berjenis Mijil (salah satu jenis Macapat yang berkarakter romantis atau mellow). Saya tak tahu siapa pengarangnya.

Dhuh biyung emban, wayah apa iki?

Rembulan wus ngayom

anggegana prang abyor lintangé

Titi sonya, puspita kasilir,

Maruta wis kingis, sumrik gandanya rum

***
Kados Gusti, sampun tengah ratri

Pangintening batos

Iya kok durung rawuh mréné

Gusti kakung, ratuné wong sigit

Apa cidrèng janji

Dora mring wak ingsun

Jika tidak mampu membangun imajinasi terhadap tembang tersebut, tak usah sok jago. Silakan klik saja tautan ini. Tak perlu meniru orang yang gemar berpura-pura bisa menikmati kopi tanpa gula jika memang doyannya kopi sasetan. Hidup yang nyaman dan mardika pastilah tidak dilingkupi kepura-puraan.

Bandung, 22 September 2017

  • Rd.

    Referensi bacaannya njenengan sungguh liar biasa. Sehingga membiarkan pembacanya mikirin endingnya sendiri. Dan sedikit tersirat sedikit kesombongan di dalamnya. Edyan.

    • http://maslametstudio.blogspot.co.id/ Slamet Rianto

      haha, bacaannya numpang perpustakaan kantor, Om.