Birokreasi dan Sedikit Perkara Ludah

Kecuali Anda adalah orang suci yang telah bebas dari segala bentuk kemelekatan hasrat duniawi atau hanya sedang hilang kesadaran, Anda pasti punya banyak kekhawatiran dalam hidup. Saya juga. Salah satunya, ajakan mengikuti aksi donor darah. Saya tak akan lupa bagaimana kedernya saya saat mendonorkan darah pertama kali. Saya lupa persisnya kapan dan dalam rangka apa, rekan-rekan kerja mengajak saya mendonorkan darah di kantor PMI yang letaknya cuma sepelemparan batu dari kantor tempat kami bekerja. Sepanjang proses pengambilan darah, yang terasa hanya horor melulu. Rasa-rasanya, segala yang ‘pertama kali’ memang punya efek melipatgandakan kehororan.

Begitu pula kemarin, saya kembali merasakan sensasi itu setelah berkomentar di postingan Facebook seorang kawan. Tautan menuju sebuah tulisan lucu bercampur spoiler edan-edanan tentang film Rafathar. Menurut saya, tulisan itu justru jauh lebih lucu dibanding film yang sedang ia bahas. Di ujung komentar itu, dengan ringan saya menulis kalimat tambahan yang tak penting, “Jadi pengen nulis di situ, kapan-kapan.”

“Di situ” yang saya maksud tentu saja Birokreasi, situs yang memuat tulisan lucu tersebut. Saya sebenarnya hanya sesekali saja menyinggahi situs ini. Kenapa? Sebelumnya, saya pikir Birokreasi hanya berisi tulisan sekumpulan orang yang ahli di bidang keuangan — bidang kerja yang selalu sukses bikin saya mumet lalu mengambil jarak sejauh mungkin. Itu poin pertama yang bikin keder. Selain itu, tulisan lain dari beberapa kontributor Birokreasi (setahu saya) sudah beredar di mana-mana.

Kekederan semakin bertambah setelah komentar saya justru ditanggapi oleh beberapa kontributor yang tulisannya sering tayang di Birokreasi. Dan ujung dari berbalas komentar itu, ‘mulut’ besar saya kembali memberi kesanggupan secara tak langsung untuk mengirim tulisan.

Sudut pandang saya mengenai Birokreasi sedikit berubah sehabis membaca tulisan tentang film anak artis itu. Situs ini menjadi semakin menarik saja. Lebih-lebih, saya baru tahu kalau beberapa waktu sebelumnya, ada tulisan lain di situs itu yang pernah berujung kegaduhan. Tulisan itu menyindir kelakuan para mahasiswa penerima beasiswa luar negeri yang gemar pelesiran alih-alih belajar. Tak hanya reaksi dalam bentuk komentar, tulisan itu juga mendapat balasan tulisan di media-media lain. Kegaduah itu berujung klarifikasi — yang justru saya dapat dari tautan di blog pribadi seorang teman yang kebetulan sedang bersekolah di luar negeri.

Dan sepagian ini, saat banyak orang sibuk dengan upacara tujuh belasan, saya malah asik menjelajahi kategori-kategori yang ada di Birokreasi. Saya tertegun karena mendapati ada kategori cerpen dan sajak segala. Ternyata Birokreasi tak melulu berisi sarkasme dan satire seperti bayangan saya selama ini.

Ujug-ujug saya pun sampai pada bagian syarat dan ketentuan bagi yang ingin menyumbang tulisan di Birokreasi. Saya berhenti pada sebuah syarat yang terasa ganjil, kontributor harus mencantumkan Nomor Induk Pegawai (NIP) sebagai kontrol validitas atas status kebirokratan si penulis. Saya tersenyum. Ajaib betul situs ini! Toh, akhirnya saya menuliskan hal yang tak begitu penting ini, sembari teringat sensasi waktu lengan saya ditusuk jarum transfusi.

Anggap saja tulisan ini akan benar-benar dimuat oleh Birokreasi, barangkali saya akan kembali menulis sesuatu dengan gaya bahasa yang sederhana dan berusaha merespon segala komentar. Jujur saja, saya suka mangkel setiap kali mendapati penulis yang membuat tulisan seperti sedang meludah saja. Habis dirilis, tulisan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Beberapa tulisan saya lihat begitu. Terhadap tanggapan-tanggapan yang muncul, penulisnya cuek-cuek saja.

Lalu buat apa ada kolom komentar, hoi? Atau mungkin karena Disqus yang merepotkan? Atau para komentator hanya dianggap lalat yang mengerubungi ‘ludah’, sama-sama tidak penting? Atau karena ini bukan media sosial?

Walaupun sebenarnya bebas-bebas saja orang menulis layaknya koran, hanya mengabarkan sesuatu tanpa perlu memberi tanggapan balik atas komentar yang muncul, kecuali dalam bentuk kolom surat pembaca. Barangkali memang saya saja yang berpikir terlalu jauh, mengganggap komentar selalu perlu ditanggapi.

Rd.

Staf pelaksana di pemerintah daerah yang belajar menulis, sementara itu saja.