Untuk Kamu yang Bosan Tinggal di Indonesia: Asgardia

“Negara ini sudah mau bangkrut!”

“Utang sudah hampir 4.000 Triliun, korupsi juga di mana-mana!”

“Isu SARA udah kaya wijen di atas onde-onde, rame banget! Gue mau pindah negara aja!”

Jika Anda pernah berpikiran begitu, percayalah Anda tak sendiri. Banyak warganet sepertinya sudah lelah dengan berita-berita negatif yang ada di negara ini, hingga mau pindah negara. Bagi Anda yang berpikiran demikian, barangkali informasi ini akan bermanfaat. Atau barangkali Anda sudah lebih dahulu tahu tentang ini.

Pernah dengar Asgardia?

Namanya memang terinspirasi dari tempat tinggal dewa-dewa dalam mitologi Skandinavia tetapi jangan harap Anda bisa menemukan Thor di sana. Konsep negara ini justru mirip dengan Suralaya, negeri para dewa dalam cerita pewayangan. Diinisiasi oleh ilmuwan Russia, Igor Ashurbeyli, Asgardia mengklaim diri sebagai negara baru (atau kuasi-negara?) yang melayang dan mengorbit terhadap bumi.

Sudah 298.101 orang mendaftarkan diri untuk menjadi warganya sejak ide negeri atas langit ini dicetuskan pada 2016 lalu. Yang cukup mencengangkan, Indonesia menduduki urutan keempat sebagai negara dengan pendaftar terbanyak. Meski tak cukup punya nyali mendaftar, saya sempat tertarik menjadi warga Asgardia. Jangan dulu berdebat apakah negara ini HOAX atau tidak. Katakanlah ia benar-benar akan mulai dibangun sesuai rencana pada 2018 nanti, kira-kira, apa keuntungan jika pindah ke sana?

  1. Negara super canggih

Bagaimana tidak? Teknologi yang digunakan untuk membuat sebuah negara (bukan hanya stasiun luar angkasa) melayang di angkasa pasti tidak main-main. Kita bisa berharap teknologi terbaik juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar segenap masyarakat nyaman tinggal di sana. Seperti Wall-E, District 9, atau film fiksi ilmiah lain dengan ekosistem buatan yang mengambang di angkasa, bukan tidak mungkin teknologi yang dipakai benar-benar belum pernah kita lihat di marcapada.

  1. Hidup tanpa konflik

Sebagaimana disebut di laman resminya, konsep Asgardia adalah adalah Peace in Space. Itu juga berarti sebagai pencegahan konflik bumi ikut berpindah ke luar angkasa. Kita bisa berharap tak akan menjumpai pendukung capres A bersitegang dengan pendukung capres B. Atau melihat tentara menendang motor polisi di tengah jalan raya. Pepatah Latin boleh saja mengatakan, “Homo homini lupus.” Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Namun, manusia sekaligus juga binatang yang mampu membangun sistem untuk mengendalikan serigala-serigala di dalam diri setiap anggota masyarakatnya.

  1. Sama-rata-sama-rasa

Sabar, saya tak sedang berusaha menyebarkan paham Marxisme seperti yang biasa dilakukan beberapa kontributor Birokreasi yang lain. Maksud saya dengan sama-rata-sama-rasa adalah, Asgardia tidak memandang asal-muasal warganya, menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak membagi warganya ke dalam negara-negara bagian, juga tak membeda-bedakan agama dan bangsa. Utopis sekali bukan? Barangkali penggagas Asgardia adalah pembaca Sir Thomas More, atau pengagum Charles Fourier, atau cuma fansboy Star Trek. Yang jelas, hidup tanpa ada konflik berbasis SARA pastilah jadi lebih adem. Tak percaya? Tanya saja bangsa Inuit di Alaska sana.

  1. Dekat dengan bintang

Karena berlokasi di angkasa, tentu rumah kita menjadi lebih dekat dengan bintang meskipun tetap jutaan tahun cahaya juga jaraknya. Setidaknya lebih dekat dengan rumah saya di Jakarta saat ini yang hanya dekat dengan terminal. Namun, apa sih enaknya tinggal di dekat bintang? Setidaknya, begadang sambil memandangi hujan meteor dari Asgardia akan lebih dramatis ketimbang menonton serial Meteor Garden. Apalagi lengkap dengan bonus terserempet buntut meteor. Shancai pasti iri.

  1. Tidak ada emak-emak berdaster naik motor matic.

Seperti telah saya sebut pada angka satu, Asgardia pasti juga menerapkan teknologi tinggi dalam urusan transportasi. Termasuk untuk menghindari adanya emak-emak berdaster, tanpa helm, naik motor matic, menyalakan lampu sign kiri saat mau belok ke kanan, dan kalau diingatkan, dia justru menjawab lebih galak. Saya misoginis, ya? Tenang, saya yakin di Asgardia juga tak akan ditemukan bapak-bapak mengendarai motor, dengan kecepatan sangat rendah, tetapi memilih jalur di tengah jalan, lengkap dengan gestur yang tak jelas benar mau belok ke kanan atau kiri. Tak ada juga remaja putri berboncengan tiga orang dan remaja putra yang yak-yakan di jalan.

Sampai saat ini, saya baru menemukan lima keuntungan berpindah ke Asgardia. Jika Anda punya alasan yang lebih menarique, boleh ditulis di kolom komentar. Sayangnya, saya juga menemukan kerugian tinggal di sana. Kerugian-kerugian tersebut antara lain:

  1. Jauh dari homebase

Kalau dibahasaindonesiakan, homebase kira-kira adalah kampung halaman. Meski Anda nanti tinggal di Asgardia, kampung halaman Anda tetap Indonesia. Setiap musim lebaran tiba, Anda harus menyiapkan dana yang jauh lebih besar untuk mudik. Anda tentu tak berpikir mudik menggunakan kereta api, bukan? Anda tentu harus naik roket, bukan hanya pesawat. Selain mahal, Anda juga harus menghitung sisa jatah cuti tahunan yang akan diajukan ke atasan.

  1. Susah buang air

Frasa ‘buang air’ di sini adalah eufimisme untuk ekskresi dan defekasi. Masih belum familiar? Eksresi adalah proses pengeluaran zat sisa metabolisme baik berupa zat cair dan zat gas. Sedangkan defekasi adalah pengeluaran zat sisa hasil proses pencernaan berupa feses (tinja) melalui anus. Masih susah? Ekskresi adalah kencing, defekasi adalah berak. Saya juga heran, sejak kapan kita malu terhadap kosa kata asli kita sendiri sehingga perlu membalutnya dengan eufimisme ‘buang air’? Namun, kita bisa menunda dulu pembicaraan soal linguistik. Mari kita bayangkan saja bagaimana melakukan berak dan kencing di luar angkasa? Kalau tidak bisa membayangkan, boleh coba lihat di sini setelah selesai membaca tulisan ini. Yang jelas, prosesnya sungguh rumit.

  1. Tidak bertemu hujan

Asgardia berada di atas lapisan troposfer. Anda tahu artinya? Ya, tidak ada awan yang bisa terbentuk di sana. Bisa sih dibuat hujan buatan dengan teknologi tetapi apa yang bisa diharapkan dari hidup yang melulu diisi hal-hal artifisial? Anda tidak akan bisa merasakan hujan rintik-rintik, lalu mengajak de’e berteduh di gereja tua. Anda tak bisa lagi mengglorifikasi aroma petrichor seperti rayuan gombal remaja puber di Twitter. Dan saat patah hati, Anda tak bisa membuat status galau di Facebook, “Aku selalu suka saat hujan turun dan membasahi wajah, karena dengannya, aku bisa menyembunyikan air mataku yang jatuh setelah kepergianmu.”

  1. Hidup terasa hampa

Jelas saja. Kita tak akan pernah bisa menemukan kenalan-kenalan baru di Asgardia yang begitu ngotot bahwa bumi berbentuk datar seperti wajan abang-abang penjual martabak. Jika bumi berbentuk bulat saja tak percaya, bagaimana pula dengan negara yang bisa terbang? Dan Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya menghabiskan hidup tanpa komedi seperti mereka. Mulai sekarang, puas-puaskanlah menikmati hiburan gratis dari teman-teman Anda yang mempercayai bumi berbentuk datar.

  1. Tidak ada lomba 17-an

Asgardia direncanakan berdiri mulai 2018, yang pastinya bukan 17 Agustus. Atau mau taruhan? Biar gereget, bagaimana kalau yang kalah pindah agama? Dengan kesempatan memilih tanggal proklamasi kapan saja, saya percaya para penggagas Asgardia akan memilih tanggal cantik sebagai tanggal yang akan diperingati setiap tahun. Bukan tidak mungkin mereka memilih 2 Desember. Sehingga peringatan hari jadi Asgardia tak akan dinamai lomba 17-an atau agustusan, melainkan lomba 212-an.

Dengan segala pertimbangan di atas, apakah Anda masih berniat pindah ke Asgardia? Saya sendiri tetap memilih di sini saja. Indonesia memang bukan tempat yang serba ideal, banyak bajingan yang sewaktu-waktu bisa merisak hidup Anda. Namun, saya percaya masih lebih banyak orang baik di negeri ini. Sekalipun hutangnya banyak, emak-emak berseliweran dengan motor matic, dan HOAX bertebaran, pelanggaran HAM di mana-mana, kebebasan berpendapat dikebiri berkali-kali, korupsi menjadi berita basi, saya tetap sepakat dengan Pramoedya Ananta Toer, “Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini.”

Indonesia masih bisa diperbaiki, Bung dan Nona. Selamat hari proklamasi untuk kita. Merdeka!

  • Ana Farida Sa

    “menghitung sisa jatah cuti tahunan yang akan diajukan ke atasan” yang ini rodok nganu om,,,

  • Muhammad Fauzi Iqbal

    itu kalo SPPD lumayan lho gan ke bumi. eh, tapi belum ada di SBM 😀