Seorang Ibu dan Taperwer yang Hilang

Aku seorang Ibu. Anakku masih satu dan belum tiga tahun. Meski sudah tidak muda-muda amat, aku masih saja kerepotan menghadapi berbagai jenis lelaki menyedihkan yang coba-coba menggombal. Sepik-sepik iblis. Dari yang brondong, sampai paruh baya. Tenang, aku punya semacam kode etik untuk tak mengumbar aib orang di depan khalayak. Lebih tepatnya, tak sampai hati. Biar itu tetap berada di jalur-jalur pribadi.

Dulu, sebelum menjadi orang-tua, aku pernah mengklaim diri sebagai bagian dari kaum milenial yang selalu haus informasi, berita, dan hal-hal kekinian. Sekarang, aku justru berusaha keras untuk menghindarinya agar tetap waras dalam banyak anomali remeh-temeh kehidupan. Politik, misalnya. Kau ingat masa Pilkada Jakarta yang panas itu? Aku sampai perlu meng-unfollow banyak sekali kawan Facebook. Kau patut berbesar kepala jika sampai sekarang belum ku-unfollow. Dan itu berujung pada linimasa yang hanya berisi penjual-penjual on line pemula.

Saat duniaku belum sekompleks sekarang, aku tekun membekali diri dengan informasi mengenai parenting. Bahkan aku mendaftar pada seminar-seminar yang akhirnya tak satu pun kuikuti. Alasannya klasik, malas. Namun, aku masih sering membayangkan diri sebagai ibu yang demokratis, membuka diri terhadap banyak pandangan baru, dan senantiasa memperbarui ilmu parenting yang kumiliki.

Jangankan metode pengasuhan anak, cara memberi makan kepada anak pun ada banyak sekali jenisnya. Semuanya pasti mendaku diri yang terbaik. Aduhai, bagaimana cara memilih satu untuk anakku? Buat anak tidak boleh coba-coba, bukan? Begitulah yang sering kita dengar dari iklan minyak kayu putih di televisi. Metode ini, metode itu, teknik begini, teknik begitu. Bahkan aku sempat membaca artikel yang tidak menganjurkan penggunaan kata “jangan” pada anak.

Apa? Apa kau sedang bercanda? (Kenapa kalimat “are you kidding me” kalau dibahasaindonesiakan menjadi tidak lucu ya?). Praktiknya susah sekali, Tuan. Sebelum kau sempat memanipulasi kalimat larangan agar tak mengandung kata “jangan” di dalamnya, barangkali anakmu sudah keburu menjatuhkan gelas. Atau menumpahkan makanan. Atau berlari lalu tersandung. Atau meremas kotorannya sendiri. Atau mau yang lebih ekstrim? Bukan tidak mungkin si anak memungut kelabang yang lagi apes dan memasukkannya ke mulut.

Kuakui, tidak baik menutup mata pada perkembangan ilmu mendidik anak yang ada sekarang. Banyak sekali yang bermanfaat. Namun, percayalah wahai seluruh orang-tua muda dan yang tak muda-muda amat, mendidik anak tidaklah seindah isi instagram Chealsea Olivia. Dalam perjalananku, sedikit-banyak aku meniru apa yang dilakukan ibuku dulu. Toh dengan perlakuan semacam itu, aku bisa tumbuh besar menjadi manusia yang tidak buruk-buruk amat. Yang bagus dari pengalamanku sewaktu kecil, aku lakukan; dan yang membuatku terluka, tidak kuulangi pada anak.

Begitupun jika bicara pendidikan. Aku justru sering deg-degan sendiri memilih sekolah. Semua menawarkan program yang bagus, mentereng, dan futuristik. Fasilitas lengkap, yang katanya, bisa memberi stimulus bagus untuk tumbuh-kembang anak. Aku malah bersyukur, dulu saat masuk Taman Kanak-Kanak, aku tidak perlu pusing-pusing memilih. Sebabnya bukan apa-apa selain karena memang tidak ada pilihan. Di kampung tempatku dibesarkan, hanya ada satu Taman Kanak-Kanak untuk satu kecamatan. Sudahlah, mi amor, tak perlu kaget berlebihan begitu. Kampung halamanku bukan satu-satunya. Ada banyak yang seperti itu di negeri ini. Sudahlah sekolah cuma satu, anak muridnya pun tak banyak. Mentok di angka dua puluhan murid. Sisanya? Kau bisa melihat mereka sedang main di parit, ikut orang tua ke sawah, atau menjadi pengasuh adik batitanya.

Ah, tetapi siapalah aku ini? Berani-beraninya memberi opini soal gaya parenting bagi Tuan sekalian. Kadang, aku sendiri masih lebih fokus mencari koleksi taperwer yang hilang ketimbang meluangkan waktu bercengkrama dengan anak. Tahukah Tuan, di atas muka bumi ini, ada sekelompok ibu muda yang sangat tergila-gila dengan koleksi alat makan yang tidak biodegradable itu? Aku salah satunya. Bahannya memang bagus, merknya tersohor, dengan harga yang masih bisa dijangkau. Memang ada beberapa varian produk yang menurutku masih terlalu mahal. Namun, masih bisa dicicil, bukan? Dan jangan lupa, taperwer ini menguasai emosi ibu-ibu. Coba tanyakan kepada kolegaku yang lain, sesama ibu-ibu muda yang membekali suaminya makan siang untuk dibawa ke kantor. Waktu suami pulang kerja, mana yang probabilitasnya lebih besar untuk ditanyakan oleh si istri: bagaimana hari suaminya di kantor atau keberadaaan taperwernya?

Sembari membereskan tumpukan taperwer pula, sebagai orang-tua, aku merasa kapasitasku masih jauh di bawah standar (kalau standardisasi semacam itu betulan ada) untuk mendidik anak menjadi manusia. Seutuhnya manusia. Bagiku, cukuplah dia menjadi anak yang gembira. Makan makanan kesukaannya atau mencoret tembok rumah semaunya. Tembok rumah kami, tentu saja. Aku tetap akan mengatakan “jangan” kalau dia coba-coba mencoret tembok rumah tetangga. Apalagi mencoretkan lambang circle-A besar-besar dengan piloks. Nanti, dalam perjalannya, biar kehidupan yang akan mengajari dia banyak hal. Idealisme sudah kubuang jauh-jauh. Karena sepertinya, aku lebih gelisah dengan berkurangnya taperwer daripada sekolah mana yang harus kami pilih untuknya.

Ternyata aku gagal membohongi diri sendiri sebagai bagian dari kaum milenial. Aku cuma seorang Mahmud Abas yang sedang kehilangan taperwer.

  • Anggia Yong Pratama

    Setuju, mba. Otak kita hard drive yang berguna ketika diisi informasi yang bisa diterapkan. Kalau diisi sampah nanti gawat.