Mahasiswa Itu Kuliah, Bukan Pelesir

*Tanggapan untuk tulisan El Nugraheni, Pelesir, Dosa Besar Penerima Beasiswa.

Mak El yang baik,

Tugas mahasiswa penerima beasiswa itu kuliah, lulus, dan memberikan ilmunya ke masyarakat. Kalau pelesir, itu kerjaan traveler. Jangan kemaruk. Nanti kalau mahasiswa pelesir, jadi traveler, lalu menulis dan jadi travel-blogger, saya kehabisan lahan. Masa sudah dapat beasiswa masih kemaruk?

Lagipula, kenapa membuat apologi dengan playing victim? Dari tulisan itu, seolah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa paling menderita. Mbok bikin apologi yang lebih intelek. Apa pelesir jadi obat untuk itu semua? Lebih menderita mana mahasiswa penerima beasiswa dibanding Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, yang hampir tiap saat kita dengarkan berita kenestapaannya?

Anda hidup di negeri orang dan negara percaya dengan Anda. Kuliah sebaik-baiknya, pikir rencana apa yang akan diberikan kembali kepada negara. Begini lho, dengan penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, sekian ribu penerima beasiswa itu harapan. Pulang ke Indonesia masa depan cerah menjelang. Mak El bisa saja langsung menjadi eselon IV hingga eselon III dengan lebih cepat. Apalagi lulusan luar negeri yang stratanya dianggap lebih tinggi dari kampus dalam negeri. Anda kebanggaan bangsa, orang Indonesia bangga pada Anda. Eh, Anda malah pelesir!

Bandingkan dengan para TKI yang jelas-jelas pahlawan devisa pulang ke Indonesia, di bandara saja, kadang disambut dengan kehinaan. Padahal, mereka sudah berbilang tahun tidak bertemu keluarga demi memperbaiki nasib.

Mak El dan para TKI sama, mendapatkan previlese yang tidak didapat di dalam negeri. Namun, perlakuannya kan beda? Apa karena mahasiswa penerima beasiswa itu intelek sehingga lebih bebas untuk jalan-jalan? Ya tidak, lebih pantas para TKI untuk jalan-jalan dan pelesir. Mereka pakai uang hasil jerih payah sendiri. Jangan menyamaratakan? Jelas tidak. Namun, coba jelaskan, itu jalan-jalan pakai uang apa? Tidak usah ngomong soal transparansi, akuntabilitas, atau apologi aneh-aneh lainnya. Cukup jelaskan itu uang jalan-jalan dari mana. Ini era keterbukaan informasi, makanya mahasiswa penerima beasiswa juga harus terbuka. Berani jujur jalan-jalan itu uang siapa atau … ? Bukan kebanyakan apologi seperti Mak El.

Mak El yang baik,

Anda kan di birokrasi, pasti tahu persis bagaimana memperlakukan uang negara. Seseorang kudu diklat Pengadaan Barang dan Jasa, harus menghafal banyak pasal aturan, dan ketika bekerja pun gemetaran karena takut dengan pemeriksaan Inspektorat Jenderal atau Badan Pemeriksa Keuangan. Sementara, penerima beasiswa menerima uang dari negara dengan cara yang mudah. Eh, dihabiskan begitu saja untuk pelesir? Apa tidak sedih itu para pejabat pengadaan, yang kalau mau mengeluarkan uang negara satu rupiah saja berpikir hingga stres? Lha para penerima beasiswa tinggal duduk manis menunggu transferan, kok ya enak saja menghabiskan uang negara dengan gampangnya.

Saya sih berharap kotak empati mahasiswa penerima beasiswa dibuka sedikit saja. Lihat, Indonesia masih banyak masalah. Harapan saya sederhana, kuliah saja yang benar lalu giving back ke negara dan bangsa. Penerima beasiswa, apalagi yang dibiayai negara, memanggul kewajiban bagi bangsa dan negara. Bukan malah previlesenya diemplok sendiri demi mempercantik CV di Linkedin. Dan tahu tidak, ada pembayar pajak yang tulus dan ikhlas membayar pajak dan berharap negara ini menjadi lebih baik? Ada pegawai pajak yang bekerja sampai larut malam demi tercapainya penerimaan negara yang sebagian uangnya dipakai untuk Anda-Anda kuliah? Opo yo tumon kalau situ malah pelesir-pelesir? Mbok ya empati sedikit.

Akan tetapi, kalau Mak El dibiayai negara sono, karenanya merasa gapapa pelesir, ya bebas sih. Anggap saja menghabisi uang kapitalis dan liberalis. Yang penting tak mengambil uang rakyat Indonesia, dan setelah lulus cepat menjadi pejabat. Enak toh? Kuliah sambil jalan-jalan, pulang-pulang menjadi pejabat.

  • D Wijanarko

    OooOoo…. Jadi klo dpt beasiswa gitu terus gak boleh jalan-jalan ya mas? Lalu duit sisa allowance trus baiknya diapain ya? Mohon sarannya yang kongkrit, mumpung saya blum dapat beasiswa nih. Jd klo someday (amien!) dpt amanah beasiswa bs menggunakan duit allowance dg bijak. Harus saya apakan duit saya nanti? Ditabung trus pulang dr sekolah beli property? Beli mobil? Sedekah ke anak yatim? Naikin haji ortu? Disumbang ke panti sosial? Ini saya beneran nanya… Biar saya juga tau ujung tulisan mas ini sbtulnya mo ksh saran gmn. Biar gak nggantung gitu….

    • Kontra Korupsi

      Sebagai warga negara yang baik dan punya empati terhadap kondisi Indonesia saat ini, maka jika ada sisa dana beasiswa mestinya dikembalikan ke kas negara. Saya pernah membaca posting seorang pengelola beasiswa (LPDP) yang menceritakan tentang penerima beasiswa yang mengembalikan sisa dana beasiswa yang diterimanya ke kas negara.

      • D Wijanarko

        Sisa dana beasiswa itu maksudnya gmn? Saya belum paham? Maksudnya yg biaya pendidikannya kah atau living allowance?

      • Paula Magdalena Simanjuntak

        Mohon maaf, karena yg disebutkan oleh Mas D Wijanarako adalah living allowance, ijin bertanya, sisa living allowance yang didapat dari menghemat biaya hidup (rela nahan lapar dan kebutuhan hiburan yang sangat penting menjaga kestabilan emosi) jg sebaiknya dikembalikan ke kas negara? Seriously? Apa pernah PNS Indonesia mengembalikan kelebihan biaya hidup atas gaji yang diterimanya setiap bulan krn alasan “berlebih”?

  • ongesz_sparrow

    Yang pertama, tugas mahasiswa yang mendapat beasiswa itu cukup LULUS. Sisanya urusan yang bersangkutan, mau apa dia dengan hidupnya.

    -Masa sudah dapat beasiswa masih maruk?
    -Sementara penerima beasiswa menerima uang dari negara dengan cara yang mudah, eh dihabiskan begitu saja untuk pelesir?
    Gini ya mas, anda tahu apa sama hidup seseorang? kenapa mesti generalisir soseorang yang dapat beasiswa itu maruk karena dia plesir? Emang masnya tau mereka plesir pakai uang siapa?

    Terus menghubungkan antara Mahasiswa penerima beasiswa dengan TKI relevansinya dimana?

    -Kuliah aja yang bener lalu giving back ke negara dan bangsa.

    Sekarang saya tanya balik, memangnya Mahasiswa penerima beasiswa yang plesir sudah otomatis kuliahnya ga benar? Logic?

  • Rum Wirastri

    Kalo memang mahasiswa beasiswa melakukan plesir pake allowance dirasa salah, mas efener yg di birokrasi mungkin bisa mengeskalasi untuk perbaikan kebijakan terkait pemberian allowance, jadi dikasihnya kaya model STAN gt, cukup kuliah gratis, mungkin tambah diasramakan jadi mahasiswa gausah bayar housing sm makan.
    Atau dibikin kontrak gt, bahwa allowance ga boleh buat plesiran dan harus bikin laporan bulanan.

    Tapi selama mekanismenya allowance gt ya mbok terserah yg punya duit mau diapain duitnya…

    • yazzabobii

      Idolague

      • Rum Wirastri

        Fangue 😄

  • prabowo

    beasiswa itu bukan mengikat 100% dari 24 jam aktifitas kehidupan.

    beberapa % dari 24 jam tadi yang jadi milik beasiswa itu.. silahkan dimiliki rakyat atas nama pajak.

    sisanya ya jadi milik pribadi.

    mau dipake beribadah kek.. bebas aja.
    (mosok yo meh dibacoti “loh, beribadah kok pake uang beasiswa dari pembayar pajak yg beda agama?”. ambyar tho?)

    mau dipake pijet spa kek.. ya bebas juga. selama gak BO dan FJ

    mau dipake ngemil dumolid yo apalagi. bebasss..

    yang nga bole itu cuma melanggar hukum negara yang lagi diplesirin dan negara asalnya.

    soal etika..
    yha.. gunting kuku dulu sebelum nunjuk idungnya orang laen. https://uploads.disquscdn.com/images/62acaa1b53468d3ce8828d54dd7b720bdfbddfa1281d79c65a321394a8e96ebf.jpg

  • jivati peni

    Sebenarnya komponen utama duid beasiswa (bbrpa sih,gak swm beasiswa) isinya tuition fee,living cost,housing,biaya penelitian. Gak ada emg disana tulisan biaya piknik dan senang,trus apa salah mhsw beasiswa pknik?
    Menurut saya selama dia bs menjaga komitmen sesuai perjanjian awal untuk lulus sesuai target dan tepat waktu yo gpp wae mau piknik selama disekolahin negara. Mslh dia duid piknik dari mana,ini yg jadi mslh disini. Uang beasiswa itu yg bisa “diakali” si penerima paling cm dr living cost dan housing,komponen itu dr pemberi beasiswa sdh dihitung untuk mampu hidup layak di negara/kota ybs. Klo si penerima merasa cukup makan sehari 2x biar tiap wkend bisa plesir dari sisa duid living cost ha mbok ben wae,atau ybs merasa kuat ngekost yg jauh asal nanti wkend ada duid sisa dari housing buat piknik ha mbok ben.
    Yg salah adl jika nanti dari tingkah si penerima biar tetep eksis dan bisa plesir dgn strategi ngirit makan malah berakibat dia kena maag dan gak bisa menyelesaikan masa studi sesuai target dan jangka waktu. Itu baru namanya gak tau diri dan lupa komitmen di awal. Baru disini kita bisa rame2 mengingatkan ybs bahwa duid beasiswa dia buat kuliah,bukan plesir!!
    Tp selama all izz well,ya biarin saja mereka mau tiap malem ajojing dan piknik,😉

  • Nomi_Insa

    Kalau si Mak El boleh pakai uang beasiswa negara untuk plesiran, maka saya juga boleh pakai uang SPPD untuk plesiran (sekalian dinas).

    • El Nugraheni

      Boleh.

      • Aryanda Prasetya

        ditambahin donk mba uang SPPD-nya biar bisa buat jalan2 ke eropah gitu 😀

    • Sitta Azurea

      Mbak El kan beasiswanya bukan dari Pemerintah Indonesia, mbak. Dan malah di-encourage negara itu utk buat jalan2 juga (karena toh uang mereka jadi balik lagi keputer di negara mereka, dan mereka bisa promosi culture mereka ke foreigner). Lagipula, beasiswa itu kayak gaji kok, ya terserah yg punya gaji mau dipake apa gajinya. Udah banyak yg jelasin kalau nyari beasiswa itu gak gampang, jadi saya cuma mau nambahin, beasiswa itu kayak gaji, bedanya, kalau pekerja ya kerja, pelajar ya belajar, tapi pelajar yg dapat beasiswa (living allowance) itu sama dengan dapat gaji. Kalau LPDP, sama kayak gaji PNS, itu dari pajak Rakyat. Tapi kan PNS mau pake gajinya buat plesiran gak ada yg larang, sama seharusnya buat LPDP ya sah2 aja. Negara investasi anggarannya dalam bentuk beasiswa tujuannya mencetak SDM yg andal. Dan SDM yg handal tuh gak cuma harus pinter, tapi juga harus sehat. Tapi seperti yg ditulis mbak El, semua gak ada yg bisa bener di mata orang yg berpikiran negatif. Posting foto refreshing (jalan2), dikira ngabisin uang negara utk senang2. Posting foto sedang belajar, dibilang sok. Posting status ngeluh capek belajar, dibilang gak bersyukur. Yaah…jadi let’s mind our own businesses aja deh.

  • pepsicola

    sebagai orang yang gagal dalam seleksi beasiswa maka saya mendukung tulisan ini hhhehhee

    tapi ya ku sudah kaya raya sih, jadi buat apa makan duit beasiswa buat jalan-jalan, beasiswa mah buat pamer ke tetangga hhehehhee

    • ongesz_sparrow

      dibagian mana ya pada tulisan sebelumnya yang menyebut ada mahasiswa makan duit beasiswa buat jalan-jalan?

      • pepsicola

        mas nya seneng tubir ya? saya juga. kek nya konteks persoalannya kan penggunaan duit beasiswa buat plesiran. iya ga gunakan frase makan, gak pake istilah jalan-jalan buat ganti kata plesiran, ah elah, sama aja kan ya. kalaupun mau bahas tulisan sebelumnya juga berangkat karna risih soal uang rakyat/pajak yang dipakai, bukankah begitu kisanak?

        • ongesz_sparrow

          ga ada konteks penggunaan duit beasiswa buat plesiran, itu cuma opini penulis aja dan situ kebawa sama opini penulisnya. Pada tulisan sebelumnya juga ga ada membahas soal itu, belum baca ya?

          • pepsicola

            mz, kulelah. kalau saya ga terbawa opini penulis yang ini mah saya ngapain komen di laman yang ini tapi di berita detik.com. lagian mz nya sunggu letterlijk yah, bukankah bermula begini “Saat warganet yang budiman ramai mencurahkan perhatian kepada para ‘pelajar pelancong’, saya enggak
            rugi atau untung apa-apa. Warganet—para pembayar pajak yang taat
            ini—sebal karena berpikir uang beasiswa yang bersumber dari pajak mereka
            dipakai buat pesiar. Kekesalan macam ini ya wajar belaka.” bukankah bukankah???

  • WW

    Jadi kita dibeasiswain untuk belajar aja ya harusnya? Berarti uangnya hanya untuk belajar. Duh berarti salah dong saya menyumbangkan beberapa uang beasiswa untuk amal di mesjid kampus negara orang, nyumbang untuk kegiatan gereja negara orang? Soalnya beasiswanya untuk belajar aja.
    Saya selama ini mikir, living cost ya saya atur sendiri bagaimana saya bisa seimbang antara belajar, refreshing dan spiritual saya
    Duh saya punya dosa besar 😭
    Halo yang di sini, saya seorang pendosa lho. Hati2 kalian bisa jd pendosa jg kalau ngikutin cara saya hidup di negeri orang

  • Reza Yudhalaksana

    Sepertinya anda kurang pelesir…wkwk…

  • Elmo Wiratama Rinaldi

    Mencoba menanggapi:

    Postur belanja APBN yang paling baik adalah pro growth dan pro poor. Implementasi dari pro growth belanja itu dipakai utk belanja fisik/infrastruktur dan belanja investasi sumber daya manusia/pendidikan. Menurut gw, pemerintah sadar bahwa pertubuhan suatu negara sangat didukung dengan kualitas SDM yang mumpuni, pengenjewantahan hal tersebut salah satunya melalui Beasiswa.

    Tentu komponen beasiswa harus menciptakan suasana yang kondusif utk menciptakan SDM yang kelak mumpuni secara substansi dan sehat secara fisik dan mental. Oleh karena itu diadakan komponen biaya Tuition Fee dan Living Allowance.

    Komponen living allowance ditentukan agar SDM tersebut dapat tepat tinggal yang layak dan dapat akses transportasi baik, dan kualiatas makanan yang baik serta hal2 lain untuk dpt memenuhi standard kehidupan yang baik.

    Standard kehidupan yang baik menurut negara maju (in case USA) adalah 30% pendapatan dipakai untuk biaya tempat tinggal dan transportasi. Jika proporsi pengeluaran diatas 50% untuk dua hal tersebut, poin pemenuhan minimal standar hidup baik tidak terpenuhi. Untuk hal disini saja, peraih beasiswa berkorban krn standar kehidupan kita jauh dibawah kualitas standar hidup di tempat negara kita tinggal.

    Untuk masalah rekreasi. Banyak research yang menjelaskan bahwa rekreasi komponen penting utk menciptakan SDM yang mumpuni.

    Toh, kalau penerima beasiswa memakai LA utk rekreasi itu haknya dong. Selama dia memenuhi kewajiban, lulus dan mendapat nilai sebaik mungkin.

    10-15% proporsi pengeluaran utk rekreasi adalah hal wajar untuk negara maju. Lagipula siapa tau penerima beasiswa berkorban mengurangi kualitas tempat tinggal/biaya makan/transportasi utk rekreasi. Tanpa mengurangi kualitas ilmu yang dia dapat. Toh, rekreasi juga masuk list standar kehidupan yg baik.

    Poin gw skrg si penulis mau menyalahkan siapa:
    1. Pemerintah yang memberi beasiswa utk menciptakan SDM yang baik?
    2. Komponen living allowance yang terlalu longgar? Padahal itu masih jauh dibawah standar kehidupan yang layak di negara setempat?
    3. Awardee? Padahal dia berkorban sudah belajar yang baik dan mengurangi kualitas tempat tinggal/makanan dll utk rekreasi.

    Begitu guys, sorry panjang

  • Yansen Mika Situmorang

    Betul mas.. Mahasiswa beasiswa seharusnya tidak menggunakan dana allowance untuk pelesir.. Akan lebih mulia jika allowance digunakan untuk sedekah atau pembangunan infrastruktur di daerah..

  • Sismadi

    Halo mas, salam kenal…terima kasih lho atas tulisannya, walopun saya menganggapnya adalah opini pribadi anda semata karena terlihat banyak “lubang” karena kurang nya riset….just be careful karena bisa menjadi fitnah hebat lho…karena saat anda “menuduh” mereka playing victim, saat yang sama anda sebenernya bisa di anggap sedang playing victim

    sedikit masukan, akan lebih komprehensif kalo di tulis dari sudut pandang aturan, apakah ada yang mereka langgar? ataukah hanya etika aja….semacam justin bieber yang kencing di tempat umum? Bisa di tambahkan juga interview dengan para “pelaku”……ah, tp saya gak yakin sih anda care dengan background tersebut.

    Semoga kita bisa segera ketemu dan diskusi sambil ngopi kapal api ya mas….insyaalloh akan memperkaya khasanah berpikir kita, dan memberikan nilai tambah buat semua

    regards

  • Oon Taruna Putratama

    Dear Mas Efener

    Saya setuju sekali kalau tugas mahasiswa itu kuliah, bukan plesir. Tapi plesir bukanlah hal yang haram buat mahasiswa penerima beasiswa,iya?
    Sekiranya saya berharap beberapa opini mas di tulisan ini (sebagai contoh, penerima beasiswa tinggal duduk manis saja) bukan bersifat generalisasi dan tendensi terhadap semua penerima beasiswa, baik dalam maupun luar negeri.

    Salam mas

  • Pingback: Menerima Beasiswa – metanoia()

  • Andika

    Hati-hati jika menyampaikan opini pribadi di ruang publik namun kurang dari segi riset. Jatuh-jatuhnya bisa fitnah. Anda bilang ada pegawai pajak yg bekerja sampai malam, tapi anda tidak tahu kan ada awardee yang tidur jam 6 pagi hanya untuk menyelesaikan revisi essay dari dosennya? Anda ga tau kan ada awardee yg rela utk kerja paruh waktu juga untuk memenuhi sebagian kebutuhannya di negara yg serba mahal? Anda pasti juga ga tahu klo mau lulus dari lpdp itu juga butuh perjuangan. Bukan gampang. Tulisan anda ngomongin etika tapi seakan-akan takut lahan anda terganggu. Anda menyuruh awardee lpdp untuk kuliah yg bagus tanpa merasakan keindahan pengalaman hidup di negara lain. That’s really bullshit. Mas harusnya lebih fasih lagi dalam menulis kritikan seperti ini.

    • Anti-Judgemental

      emangnay dipikir LPDP jga gada sanksi apa kalo misal gabisa nyelesein kuliah?! ganti 2x lipat woyyyyyyyyy.
      jadi kl ada yg plesir itu pasti udah penuh dengan perhitungan

      PFTTTT

      sincerely,
      mahasiswa pejuang disertasi

    • 막나 꾹이~♥ (Makna)

      Kok tidur jam 6 pagi. Pernah nggak tidur dua hari dan stay di perpus kampus buat nyelesaiin final paper akhir semester #facepalm
      *dari mahasiswa yg berjuang mati2an waktu semester mulai, dan jalan2 dong waktu ada break*
      Yg nulis artikelnya ga pake interview dan riset lapangan nih, yg dilihat cuma blog sama socmed feedsnya awardee yang keknya asik2 terus #majorfacepalm

  • Anti-Judgemental

    Hai,

    Pertama-tama cuma mau nanya, apakah mas nya dulu ada pengalaman daftar beasiswa spirit/lpdp tapi gagal? gak ppa mas dicoba lagi drpd melontarkan opini seperti ini, yg bs melukai perasaan orang banyak :) semangat mas biar gak kalah jabatan sama kita2 nanti hehe (PS: aku gamau jadi PNS, maunya ngasih kerjaan. dont worry)

    Yang kedua, saya ini kalo misal mau pergi PLESIR pasti ada pengorbanannya kok mas, misal tugas2 harus dikelarin dulu lah ya, ketemu dosen dulu konsultasi disertasi, begadang ngejar target, dll yg biasa dikerjain mahasiswa lainnya d seluruh dunia. pokoknya SEMBODO mas. lagian mas tau gak kalo beasiswa saya itu ada minimal wajib IPK tiap semester lhoh, dan kalo misal kita karena kebanyakan PLESIR terus gak lulus kita dsuruh ngembaliin duit beasiswa itu 2x lipat. atau IPK gak sampe batas yg disesuaikan bisa ditegur juga.

    udah tau belum hayo soal ini?? jd kita tetep punya akal untuk berfikir kok dan aware akan hak dan kewajiban. jadi iya bener kata temen2, RISET dulu sebelum beropini hehe.

    Yang ketiga, kadang waktu kita PLESIRAN kita bisa dapet ide2 yg menarik lhoh, yg mgkn bs jadi peluang bisnis di indonesia (ini gw sih). terus kadang sih aku dengan PLESIR malah jiwa nasionalisme nya muncul, misal ke negara yg public transportation bagus, liat orang2nya tertib soal buang sampah aja aku jadi sedih inget indonesia yg jauh tertinggal, jadi ingin pulang…… terus mikir gimana caranya indonesia bisa kayak gtu juga, aku bisa batu apa…
    dan sama satu lagi orang2 di negara2 maju itu gada yang nyinyir dan mind their own business.

    Yang k-empat mas, jangan takut lahannya keambil sama orang lain. namanya jga hidup didunia, kompetisi itu hal yg biasa, liat aja toko2 alfamart dan indomart yg lokasinya depan2an dan samping2an. masa kalah mas sama minimart hehe.

    Yang terakhir, maaf ya kalo beasiswa kami menimbulkan opini negatif. tp sesungguhnya dari plesir itu sendiri kami jadi open minded, independent, dan banyak ide (menurutku sih) mksdnya, kl indonesia mau maju kan harus “melihat” negara2 yg udah maju, i think, thats what i am doing rite now.

    Sincerely,

    Pejuang disertasi

  • Anti-Judgemental

    Hai,

    Pertama-tama cuma mau nanya, apakah mas nya dulu ada pengalaman daftar beasiswa spirit/lpdp tapi gagal? gak ppa mas dicoba lagi drpd melontarkan opini seperti ini, yg bs melukai perasaan orang banyak :) semangat mas biar gak kalah jabatan sama kita2 nanti hehe (PS: aku gamau jadi PNS, maunya ngasih kerjaan. dont worry)

    Yang kedua, saya ini kalo misal mau pergi PLESIR pasti ada pengorbanannya kok mas, misal tugas2 harus dikelarin dulu lah ya, ketemu dosen dulu konsultasi disertasi, begadang ngejar target, dll yg biasa dikerjain mahasiswa lainnya d seluruh dunia. pokoknya SEMBODO mas. lagian mas tau gak kalo beasiswa saya itu ada minimal wajib IPK tiap semester lhoh, dan kalo misal kita karena kebanyakan PLESIR terus gak lulus kita dsuruh ngembaliin duit beasiswa itu 2x lipat. atau IPK gak sampe batas yg disesuaikan bisa ditegur juga.

    udah tau belum hayo soal ini?? jd kita tetep punya akal untuk berfikir kok dan aware akan hak dan kewajiban. jadi iya bener kata temen2, RISET dulu sebelum beropini hehe.

    Yang ketiga, kadang waktu kita PLESIRAN kita bisa dapet ide2 yg menarik lhoh, yg mgkn bs jadi peluang bisnis di indonesia (ini gw sih). terus kadang sih aku dengan PLESIR malah jiwa nasionalisme nya muncul, misal ke negara yg public transportation bagus, liat orang2nya tertib soal buang sampah aja aku jadi sedih inget indonesia yg jauh tertinggal, jadi ingin pulang…… terus mikir gimana caranya indonesia bisa kayak gtu juga, aku bisa batu apa…

    dan sama satu lagi orang2 di negara2 maju itu gada yang nyinyir dan mind their own business.

    Yang k-empat mas, jangan takut lahannya keambil sama orang lain. namanya jga hidup didunia, kompetisi itu hal yg biasa, liat aja toko2 alfamart dan indomart yg lokasinya depan2an dan samping2an. masa kalah mas sama minimart hehe.

    Yang terakhir, maaf ya kalo status “penerima beasiswa” dr uang negara banyak menimbulkan opini negatif, kami sesungguhnya jga kesulitan sekolah disini, yg notabene dosennya superrrr sulit untuk dapat nilai bagus, dan persaingan dikelas dengan mahasiswa dr seluruh dunia. tp semangat kami ingin membantu Indonesia k beberapa tahun kedepan untuk menjadi negara yg lebih baik dr skrg menjadi motivasi utama mas.
    sesungguhnya dari plesir itu sendiri, membuat kami jadi open minded, independent, dan banyak ide (menurutku sih) mksdnya, kl indonesia mau maju kan harus “melihat” negara2 yg udah maju, i think, thats what i am doing rite now.

    Sincerely,

    Pejuang disertasi yang terlukai hatinya sama postingan ini huks.

  • El Nugraheni

    Tapi mz, ku tak punya Linkedin untuk dipercantique~

    Btw mz Farchan, saya nggak pernah pelesir jauh atau mahal. Cuma selalu ikut tour dari asosiasi mahasiswa. Atau patungan sama teman. Uangnya dari mana? Dari paruh waktu jadi pelayan resto. Dana beasiswa mepet buat bayar sewa rumah dan school-care bocah. Oh, dan saya bukan awardee Lpdp. Tenang mz sa nggak tertarik jadi travel blogger. Uwuwuwuuwuw~

    • Reza Anggriyashati Adara

      Tenang aja mbak. Ga usah dijelasin ke masnya. Kita pake prinsip ali bin abu thalib aja “never explain urself to anyone. Those who like you wont need it. Those who dislike you wont believe it.

  • D Wijanarko

    Mas Ef nya mana nih? Lapaknya rame kok gak disambut para pengunjungnya?

    Oh, mungkin lagi sibuk traveling… Ato lagi keliling beli gabah dari petani pake sarung….

    Ato teori konspirasinya, beliau ini sengaja nulis ini biar Birokreasi jd ramai kembali… Ramai di-share di grup WA dan fesbuk (teori saja sih … :-p). Dan berharap opini dibalas opini…. Semangat menulis dan berkontribusi hidup kembali….

    Sorry mas, kami ini birokrat. Digaji pake duit pajak buat kerja, kerja dan kerja. Klo rajin nulis itu kerjaan blogger. Saya gak mau dibilang kemaruk…. (nyinyir tapi saya juga bisa kok…)

  • Sudirman Napitupulu

    Ijin berpendapat.

    Wah kalau artikel yg berisi opini pribadi ini jadi peraturan baru, bakal bagaimana ya kehidupan mahasiwa beasiswa nantinya.

    Habis kuliah, kerjain PR dan kewajiban kemahasiswaan lainnya boleh ngapain aja?
    Ngunjungin temen, pacar, keluarga di kota/negara sbelah boleh ga ya?
    Reuni atau kumpul mahasiswa indonesia di kota tertentu boleh gak ya?
    Pengen lihat pertandingan bola boleh ga ya?
    Itu jg kan plesiran namanya.
    Mngkin mhasiswa sbaiknya diasramain, di karantina ala ajang pencarian bakat biar sesuai dgn opini pribadi di artikel ini.
    :)

    Request:
    Opini buat yg pada dinas luar (ditanggung negara) yg suka sekalian plesiran.

  • Himawan Adi

    bingung sih, mungkin masnya gak pernah meratiin ktp sendiri.

    ketika mahasiswa dlu status ‘pekerjaan’ ditulisanya pelajar bukannya?
    yg lagi melancong s2 dengan beasiswa tsbt ya lagi ‘bekerja’ sebagai pelajar dengan gaji tersebut. masalah sisa uang dll mau dia pakai untuk lain2 bukannya udah jadi hak dia?
    sama spt bayar pns, sama2 pake duit rakyat, ‘digaji’ untuk pekerjaan yg dilakukan kan? dosa juga dong klo gaji-nya dipake buat jalan2?

  • Kasih Ditaningtyas

    Jujur saya sedih baca esai ini yang ditulis orang Indonesia sendiri, bahkan ditulis oleh pegawai pemerintahan yang mungkin paham tentang asal sumber dana beasiswa. Miris lagi bahkan dengan opini menggampangkan mendapatkan beasiswa LPDP daripada diklat apa yg saya juga nggak tau apa itu. Saya pikir untuk kesulitan, nggak apple to apple dan nggak intelek membandingkan dua hal ini, yg mana Anda nggak merasakan dua-duanya. Pun saya disini tidak membandingkan proses mendapat beasiswa dengan diklat Anda.

    Saya juga mantan pegawai swasta, yang bekerja dan rutin dipotong gaji saya untuk membayar pajak. Dan merasa senang sekali ada kesempatan menimba ilmu di LN dengan beasiswa dari negara Indonesia. Saya sempat gagal 2x seleksi beasiswa dan di tahun terakhir berhasil. Untuk bisa tes IELTS, saya harus mencicil kartu kredit 3x dan untuk tes kesehatan di RS Pemerintah pun saya harus rela makan ngirit. Seleksi beasiswa juga nggak gampang, banyak orang pintar yg belum beruntung. Seleksi univ juga nggak gampang. Untuk masuk ke univ tempat saya belajar, tidak hanya dari seleksi dokumen saja, tapi juga wawancara. Kalau nilai wawancara tidak mencukupi bisa gugur.

    Kembali ke topik plesiran, Anda mempermasalahkan mahasiswa yang rasanya jalan-jalan mulu, dan ngehabisin lahan Anda sebagai travel blogger. Duh mas, rezeki sudah ada yang atur! Kalau mas mau nulis sok aja, yg lain juga punya hak menulis kan.

    Para penerima beasiswa mendapatkan living allowance. Idealnya seperti gaji dan kami harus mengatur itu agar cukup untuk bisa hidup. Yang mas lihat foto-fotonya di social media atau tulisan indah di blog-blog mereka, belum tentu kehidupan mereka disana juga indah. Tapi rasanya gimana gitu mengabadikan momen susahnya kuliah di LN, nanti dianggap netizen tidak bersyukur.

    Saya kuliah di Jerman, negara yang kaya banget sampai mahasiswa Internasional di beberapa univ digratisin biaya kuliahnya. Uangnya darimana? Dari pembayar pajak. Hebat ya, bahkan pembayar pajak nggak cuman ngasih privilege ke orang lokal, tapi juga ke pendatang. Bersyukur juga belum menemui orang lokal yang mengeluh gara-gara ngebiayain kami-kami yang belajar di Jerman. Namun hidup disini nggak murah juga. Saya kuliah di Munich, kota termahal di Jerman. Tuition fee saya memang gratis, namun hampir setengah living allowance saya habis untuk biaya kos disini. Belum juga saya harus mengatur untuk biaya transport dan makan yang harus saya akali dengan memasak. Belum lagi dengan beberapa fakta teman saya tidak benar-benar lulus dalam waktu 2 tahun. Lulus tepat waktu 2 tahun di tempat saya, untuk defence tesis bisa 2 bulan setelah semester 4 berakhir, yg artinya buat worst case, saya mesti menabung untuk bisa membayar rent kos dan juga biaya hidup lainnya. Itu kalau lulus tepat waktu ya, kalau memang extend semester, bakal mesti berjuang menabung lebih, atau terpaksa juga nantinya internship untuk membiayai kelebihan semester disini. Fyi, di Jerman, penilaian setiap mata kuliah hanya satu di akhir, sekali nilai ujian di bawah standar, nggak lulus. Walau ada PR ataupun presentasi selama kuliah, nggak bakal kehitung apabila ujian di bawah standar. Kebayang nggak gimana pressurenya? :)

    Untuk bisa melanjutkan hidup sebagai penerima beasiswa dan mendapat LA, kami harus melapor nilai-nilai kami tiap semester. Ada peringatan apabila nilai kami tidak mencukupi. Jadi bukan cuma “menadah tangan” saja. Kebayang nggak target kami ujian bukan cuma buat lulus mata kuliah, tapi juga dapet nilai bagus? :) Mungkin mas bisa bilang, toh itu sudah kewajiban kami. Dan memang iya, itu kewajiban. Toh kami juga nggak mengeluh di social media.

    Kalaupun kami bisa jalan-jalan, itu pun mas apakah sudah riset dan mewawancarai para penerima beasiswa bagaimana bisa seperti itu, dan lalu bisa menuangkan opini bahwa penerima beasiswa hanya plesiran saja? Apa mas sudah paham bagaimana mereka mengatur living allowance mereka, yang mungkin mereka makan super ngirit atau bagaimana? Mas juga nggak tau apakah foto-foto indah itu mereka dapatkan ketika sedang seminar/workshop di negara lain, atau bahkan field trip. Bahkan ada yang ke negara lain untuk ikut kompetisi, yang seperti itu masnya ngerti nggak sebelum bikin opini begini? :)
    Lagipula kalau pun kami bisa jalan-jalan, tentu setelah kewajiban kami belajar terpenuhi, karena seperti yang saya katakan di point di atas, kami akan dapat peringatan kalau nilai di bawah standar. Lagipula siapa yang tidak butuh refreshing selepas ujian, dengan jalan-jalan misalnya? Sama halnya dengan pegawai yang butuh cuti dari pekerjaan untuk liburan? Menurut saya sih itu hak selama kewajiban terpenuhi, dan kami bisa mengatur keuangan. :)

    Perihal pengabdian, sudah sewajarnya penerima beasiswa mengabdi untuk negara setelah tugas belajar selesai. Tapi mengintegrasikan poin ini ke topik plesiran, rasanya kok kurang relevan. Apa ada keterkaitan? Dari segi waktu saja sudah berbeda. Lagipula seperti yg saya jelaskan di atas, ada juga yang ikut kompetisi ke negara lain, atau di negara tempat ia belajar. Selain bawa nama univ, kan bawa nama asal negara tuh, Indonesia. Selagi belajar pun juga masih bisa mengharumkan nama negara, salut buat teman-teman yang bisa begitu :)

    Dari kata-kata saya di atas, rasanya mas perlu meluangkan waktu untuk riset dulu baru bikin esai seperti ini. Atau rasanya mas perlu dapet beasiswa LPDP dulu terus belajar di negara luar. Coba Jerman deh biar paham yg saya utarakan :)

  • prabowo

    Kenapa mz efener nga muncul muncul? pedahal semut semut terjaring klik bayt suda pada kumpul.. 🙁

    Tapi pastinya mz efener sedang galau.

    Mau jawab sekarang.. ntar ada netijen budiman yang nyinyir “loh, jam kerja kok maenan sosmet? Situ dibayar pake pajak sini! kerdja! kerdja! kerdja!”.

    Mau jawabnya di luar jam kerja.. entar ada netijen budiman yang nyinyir “lama amat balesnya? kicep yha, hemm?”

    Jadi intinya mz, apapun yang kita lakukan, pasti akan ada netijen budiman yang selalu siaga buat nyinyirin tanpa perna mau memahami bahwa nga semwa yang mereka liat itu benar.

    Mereka begitu karena nga perna berjalan pakai sepatu kita mz. Main pukul rata, generalisir, ad hominem, bahkan pakai analogi yang nga nyambung untuk membandingkan sepatu dengan sepatu orang lain yang memang beda ukurannya.

    Seperti membandingkan sepatu adidas dengan sepatu bata. Ya jelas beda.
    Contohnya Sepatu adidas terrex. Di tempat kami harganya 900ribu. Nego tipis bisa lah. Soal harga siap bersaing dengan lapak sebelah. Tersedia size 37 sd 43. Kami tidak main KW. Hanya ORI BNIB. Bisa COD daerah depok dan sekitarnya.

    Selengkapnya di….

  • Kasih Ditaningtyas

    Jujur saya sedih baca esai ini yang ditulis orang Indonesia sendiri, bahkan ditulis oleh pegawai pemerintahan yang mungkin paham tentang asal sumber dana beasiswa. Miris lagi bahkan dengan opini menggampangkan mendapatkan beasiswa LPDP daripada diklat apa yg saya juga nggak tau apa itu. Saya pikir untuk kesulitan, nggak apple to apple dan nggak intelek membandingkan dua hal ini, yg mana Anda nggak merasakan dua-duanya. Pun saya disini tidak membandingkan proses mendapat beasiswa dengan diklat Anda.

    Saya juga mantan pegawai swasta, yang bekerja dan rutin dipotong gaji saya untuk membayar pajak. Dan merasa senang sekali ada kesempatan menimba ilmu di LN dengan beasiswa dari negara Indonesia. Saya sempat gagal 2x seleksi beasiswa dan di tahun terakhir berhasil. Untuk bisa tes IELTS, saya harus mencicil kartu kredit 3x dan untuk tes kesehatan di RS Pemerintah pun saya harus rela makan ngirit. Seleksi beasiswa juga nggak gampang, banyak orang pintar yg belum beruntung. Seleksi univ juga nggak gampang. Untuk masuk ke univ tempat saya belajar, tidak hanya dari seleksi dokumen saja, tapi juga wawancara. Kalau nilai wawancara tidak mencukupi bisa gugur.

    Kembali ke topik plesiran, Anda mempermasalahkan mahasiswa yang rasanya jalan-jalan mulu, dan ngehabisin lahan Anda sebagai travel blogger. Duh mas, rezeki sudah ada yang atur! Kalau mas mau nulis sok aja, yg lain juga punya hak menulis kan.

    Para penerima beasiswa mendapatkan living allowance. Idealnya seperti gaji dan kami harus mengatur itu agar cukup untuk bisa hidup. Yang mas lihat foto-fotonya di social media atau tulisan indah di blog-blog mereka, belum tentu kehidupan mereka disana juga indah. Tapi rasanya gimana gitu mengabadikan momen susahnya kuliah di LN, nanti dianggap netizen tidak bersyukur.

    Saya kuliah di Jerman, negara yang kaya banget sampai mahasiswa Internasional di beberapa univ digratisin biaya kuliahnya. Uangnya darimana? Dari pembayar pajak. Hebat ya, bahkan pembayar pajak nggak cuman ngasih privilege ke orang lokal, tapi juga ke pendatang. Bersyukur juga belum menemui orang lokal yang mengeluh gara-gara ngebiayain kami-kami yang belajar di Jerman. Namun hidup disini nggak murah juga. Saya kuliah di Munich, kota termahal di Jerman. Tuition fee saya memang gratis, namun hampir setengah living allowance saya habis untuk biaya kos disini. Belum juga saya harus mengatur untuk biaya transport dan makan yang harus saya akali dengan memasak. Belum lagi dengan beberapa fakta teman saya tidak benar-benar lulus dalam waktu 2 tahun. Lulus tepat waktu 2 tahun di tempat saya, untuk defence tesis bisa 2 bulan setelah semester 4 berakhir, yg artinya buat worst case, saya mesti menabung untuk bisa membayar rent kos dan juga biaya hidup lainnya. Itu kalau lulus tepat waktu ya, kalau memang extend semester, bakal mesti berjuang menabung lebih, atau terpaksa juga nantinya internship untuk membiayai kelebihan semester disini. Fyi, di Jerman, penilaian setiap mata kuliah hanya satu di akhir, sekali nilai ujian di bawah standar, nggak lulus. Walau ada PR ataupun presentasi selama kuliah, nggak bakal kehitung apabila ujian di bawah standar. Kebayang nggak gimana pressurenya? :)

    Untuk bisa melanjutkan hidup sebagai penerima beasiswa dan mendapat LA, kami harus melapor nilai-nilai kami tiap semester. Ada peringatan apabila nilai kami tidak mencukupi. Jadi bukan cuma “menadah tangan” saja. Kebayang nggak target kami ujian bukan cuma buat lulus mata kuliah, tapi juga dapet nilai bagus? :) Mungkin mas bisa bilang, toh itu sudah kewajiban kami. Dan memang iya, itu kewajiban. Toh kami juga nggak mengeluh di social media.

    Kalaupun kami bisa jalan-jalan, itu pun mas apakah sudah riset dan mewawancarai para penerima beasiswa bagaimana bisa seperti itu, dan lalu bisa menuangkan opini bahwa penerima beasiswa hanya plesiran saja? Apa mas sudah paham bagaimana mereka mengatur living allowance mereka, yang mungkin mereka makan super ngirit atau bagaimana? Mas juga nggak tau apakah foto-foto indah itu mereka dapatkan ketika sedang seminar/workshop di negara lain, atau bahkan field trip. Bahkan ada yang ke negara lain untuk ikut kompetisi, yang seperti itu masnya ngerti nggak sebelum bikin opini begini? :)
    Lagipula kalau pun kami bisa jalan-jalan, tentu setelah kewajiban kami belajar terpenuhi, karena seperti yang saya katakan di point di atas, kami akan dapat peringatan kalau nilai di bawah standar. Lagipula siapa yang tidak butuh refreshing selepas ujian, dengan jalan-jalan misalnya? Sama halnya dengan pegawai yang butuh cuti dari pekerjaan untuk liburan? Menurut saya sih itu hak selama kewajiban terpenuhi, dan kami bisa mengatur keuangan. :)

    Perihal pengabdian, sudah sewajarnya penerima beasiswa mengabdi untuk negara setelah tugas belajar selesai. Tapi mengintegrasikan poin ini ke topik plesiran, rasanya kok kurang relevan. Apa ada keterkaitan? Dari segi waktu saja sudah berbeda. Lagipula seperti yg saya jelaskan di atas, ada juga yang ikut kompetisi ke negara lain, atau di negara tempat ia belajar. Selain bawa nama univ, kan bawa nama asal negara tuh, Indonesia. Selagi belajar pun juga masih bisa mengharumkan nama negara, salut buat teman-teman yang bisa begitu :)

    Dari kata-kata saya di atas, rasanya mas perlu meluangkan waktu untuk riset dulu baru bikin esai seperti ini. Atau rasanya mas perlu dapet beasiswa LPDP dulu terus belajar di negara luar. Coba Jerman deh biar paham yg saya utarakan :)

  • Dyah ayu putri

    Mas PNS? PNS kok nulis ginian sih? Lahan saya sebagai blogger berkurang dong. Mas kemaruk!!!

  • Pingback: Klarifikasi dari Farchan Noor Rachman – Birokreasi()

  • Pingback: Bagaimana Birokreasi Mewadahi Pertentangan – Birokreasi()

  • Muhammad Asdar Nur

    Kang, ayoo kita berembuk… ngobrol santai sambil minum kopi. Ntar bisa sharing luar biasa nihh sama akang soal pelesiran.

  • Farakka Sari Prasetiadi

    Emangnya kalo dapet beasiswa harus belajar 24 jam ya? Knp tidak bisa liat dari sisi yg lebih positif? Koq kesannya jadi “sirik tanda tak mampu” yeeeee kasiaaaan deh yg ga dapet beasiswa

  • Pingback: Mrs. Mom. Me.()

  • Fissilmi Hamida

    Meski Mas Farchan sudah menuliskan klarifikasinya, semoga curhatan saya ini bisa kembali mengingatkan kita bahwa hidup tak sebatas yang terlihat di social media, bahwa seringkali bukan mereka yang tak jelas, tapi memang pengetahuan kita yang terbatas.

    https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10210157630206432&id=1508996135&set=a.1536614944511.2070156.1508996135&notif_t=feed_comment&notif_id=1502630624192688&ref=m_notif

  • Lalita Fitrianti

    Terima kasih untuk masukannya, Mas Farchan. Hanya mau kasih pandangan aja.

    Menurut saya, dana beasiswa itu sudah dianggarkan dan di-acc di pemerintah manapun yang mengedarkan beasiswa tersebut. Umpamanya gaji: kalo ada sisa, bisa ditabung. Mungkin beda untuk PNS, tapi sebagai (waktu itu) mantan pegawai swasta yang resign, sisa dana beasiswa ini membantu saya agar punya tabungan lebih agar saya punya cukup pegangan saat saya kembali jadi pengangguran. Btw, komponen dana beasiswa yang saya pakai ini dari living allowance. Tuition fee biasanya tidak pernah singgah di mahasiswa sepeser pun. Kalo mau dipertanggungjawabkan, mungkin sistem pelaporan living allowance harus kayak pemberian cash advance dan pelaporan expense report di kantor-kantor ya? Kalo misalnya sistemnya seperti itu, sah-sah aja sih jika penerima beasiswa bisa dituduh “menyelewengkan” duit. Tapi apa kenyataannya sistem ini diberlakukan? Oh ya, sepengalaman saya, living allowance beasiswa itu jumlahnya ngepas atau kadang di bawah UMR negara tempat awardee ditempatkan.

    Soal pelesir, menurut saya tidak masalah selama awardee masih ingat tujuannya utamanya: menuntut ilmu. Saya tidak membenarkan jika tidak ada awardee yang beneran melenceng dari tujuan utama. Dan awardee-awardee kayak gini memang memberikan citra buruk bagi awardee yang sungguh-sungguh menuntut ilmu. Tapi percayalah, masih banyak awardee yang menyelesaikan pendidikannya. Tidak sedikit pun yang tumbang di tengah jalan, tapi alasannya bukan karena kebanyakan main. Intinya, perjalanan tiap orang beda, tapi selama tidak melenceng dari tujuan, tidak bisa disalahkan. Lagian buat awardee yang tetap kuliah tapi juga melesir, ya kita juga butuh reward toh?

    Alangkah baiknya memang jika awardee kembali ke negaranya untuk berkontribusi ke tanah air. Memang untuk hal ini, beberapa beasiswa mungkin masih longgar kontrolnya. Tapi ini kembali lagi ke kesadaran masing-masing. Ada orang Indonesia di negeri tetangga yang pernah mengatakan bahwa beliau merasa berkontribusi bagi bangsa meskipun dari negeri seberang karena kemajuan ilmu yang sudah berbeda. Kalo saya sendiri sih, kembali ke tanah air :)

  • Lalita Fitrianti

    Terima kasih untuk masukannya, Mas Farchan. Hanya mau kasih pandangan aja.

    Menurut saya, dana beasiswa itu sudah dianggarkan dan di-acc di pemerintah manapun yang mengedarkan beasiswa tersebut. Umpamanya gaji: kalo ada sisa, bisa ditabung. Mungkin beda untuk PNS, tapi sebagai (waktu itu) mantan pegawai swasta yang resign, sisa dana beasiswa ini membantu saya agar punya tabungan lebih agar saya punya cukup pegangan saat saya kembali jadi pengangguran. Btw, komponen dana beasiswa yang saya pakai ini dari living allowance. Tuition fee biasanya tidak pernah singgah di mahasiswa sepeser pun. Kalo mau dipertanggungjawabkan, mungkin sistem pelaporan living allowance harus kayak pemberian cash advance dan pelaporan expense report di kantor-kantor ya? Kalo misalnya sistemnya seperti itu, sah-sah aja sih jika penerima beasiswa bisa dituduh “menyelewengkan” duit. Tapi apa kenyataannya sistem ini diberlakukan? Oh ya, sepengalaman saya, living allowance beasiswa itu jumlahnya ngepas atau kadang di bawah UMR negara tempat awardee ditempatkan.

    Soal pelesir, menurut saya tidak masalah selama awardee masih ingat tujuannya utamanya: menuntut ilmu. Saya tidak membenarkan jika tidak ada awardee yang beneran melenceng dari tujuan utama. Dan awardee-awardee kayak gini memang memberikan citra buruk bagi awardee yang sungguh-sungguh menuntut ilmu. Tapi percayalah, masih banyak awardee yang menyelesaikan pendidikannya. Tidak sedikit pun yang tumbang di tengah jalan, tapi alasannya bukan karena kebanyakan main. Intinya, perjalanan tiap orang beda, tapi selama tidak melenceng dari tujuan, tidak bisa disalahkan. Lagian buat awardee yang tetap kuliah tapi juga melesir, ya kita juga butuh reward toh?

    Alangkah baiknya memang jika awardee kembali ke negaranya untuk berkontribusi ke tanah air. Memang untuk hal ini, beberapa beasiswa mungkin masih longgar kontrolnya. Tapi ini kembali lagi ke kesadaran masing-masing. Ada orang Indonesia di negeri tetangga yang pernah mengatakan bahwa beliau merasa berkontribusi bagi bangsa meskipun dari negeri seberang karena kemajuan ilmu yang sudah berbeda. Kalo saya sendiri sih, kembali ke tanah air :)

  • Prima B Kartikasari

    Tulisan selalu tidak pernah bohong, menggambarkan sudut pandang dan pola pikir penulisnya. Mas Farchan ini sangat disayangkan, menyebarkan pemikiran sempit yang mungkin selama ini sudah membunuh logika sendiri sehingga tidak mampu ditahan dan harus dikeluarkan. Facebook, instagram, dan sosial media lainnya hanya 0, sekian perden dri gambaran hidup orang sebenarnya. Kalau dari gambar saja mas sudah sibuk menjeneralisasi, mengambil benang merah kehidupan orang, betapa tidak tenangnya Mas Farchan akan seliweran status orang (yang kebanyakan menggunakan media sosial sebagai wadah entertainment mereka). Apa mas Farchan tidak pernah pergi ke negeri tetangga atau negeri lainnya? Jika sudah, Mas pasti lebih paham bagaimana pemerintah setempat menciptakan ruang terbuka berupa taman-taman cantik yang sepenuhnya untuk kebutuhan mental penduduknya. MasyaAllah. Tidakkah itu bagus untuk diadopsi oleh teman2 Indo yang belajar di sana, agar mereka berekreasi pikiran sejenak, membuang kepenatan, dan mungkin melepaskan kecenderungan pikiran sempit yang kadang menghantui orang yang sedang stress atau yang kurang piknik. “Barakallah para penerima beasiswa, berbesar hatilah kalian. Murnikan ibadah studi kalian, tidak perlu kalian terpengaruh tulisan sempit seperti mas Farchan, dan berubah sibuk mengupload tugas2 berjibun, revisi bimbingan yang belum juga kelar. Hanya kalian yang berhak atas ibadah yang sudah ditetapkan Allah untuk kalian. Jauhi rita’. Sehat-sehatlah di sana, pulanglah dan siaplah berkompetisi dengan para lulusan dalam negeri yang sama kualitasnya dengan kalian. Allah memberkati.”

  • Prima B Kartikasari

    Tulisan selalu tidak pernah bohong, menggambarkan sudut pandang dan pola pikir penulisnya. Mas Farchan ini sangat disayangkan, menyebarkan pemikiran sempit yang mungkin selama ini sudah membunuh logika sendiri sehingga tidak mampu ditahan dan harus dikeluarkan. Facebook, instagram, dan sosial media lainnya hanya 0, sekian persen dari gambaran hidup orang sebenarnya. Kalau dari gambar saja mas sudah sibuk menjeneralisasi, mengambil benang merah kehidupan orang, betapa tidak tenangnya Mas Farchan akan seliweran status orang (yang kebanyakan menggunakan media sosial sebagai wadah entertainment mereka). Apa mas Farchan tidak pernah pergi ke negeri tetangga atau negeri lainnya? Jika sudah, Mas pasti lebih paham bagaimana pemerintah setempat menciptakan ruang terbuka berupa taman-taman cantik yang sepenuhnya untuk kebutuhan mental penduduknya. MasyaAllah. Tidakkah itu bagus untuk diadopsi oleh teman2 Indo yang belajar di sana, agar mereka berekreasi pikiran sejenak, membuang kepenatan, dan mungkin melepaskan kecenderungan pikiran SEMPIT yang kadang menghantui orang yang sedang stress atau yang kurang piknik. “Barakallah para penerima beasiswa, berbesar hatilah kalian. Murnikan ibadah studi kalian, tidak perlu kalian terpengaruh tulisan sempit seperti mas Farchan, dan berubah sibuk mengupload tugas2 berjibun, revisi bimbingan yang belum juga kelar. Hanya kalian yang berhak atas ibadah yang sudah ditetapkan Allah untuk kalian. Jauhi riya’. Sehat-sehatlah di sana, pulanglah dan siaplah berkompetisi dengan para lulusan DALAM NEGERI yang SAMA kualitasnya dengan kalian. Allah memberkati.”

  • jaxassss

    Mindset orang Indonesia adalah pergi ke luar negeri pasti jalan-jalan. Jadi kesannya tetap salah meskipun ada awardee posting di medsos foto dirinya (selfie) di lingkungan kampus pun kesannya jalan2 karena diambil di luar negeri. Jadi apapun aktivitas dan bentuk fotonya tetap dianggap pelesiran.
    Jadi yang salah siapa? Tidak ada yg salah sebenarnya, cuma budaya nyinyir kita yang sebaiknya dikurangi. Budaya susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah sudah begitu mendarah daging di generasi kita; alangkah baiknya dikurangi sedikit demi sedikit. Bukan begitu Mas Farchan? Enak toh?

  • Moch Syahri Romdhani

    Duh kok makin banyak org mirip afi nihaya di negri ini ya ? yg kemaren cuman jd semacam balajaer komen singkat – singkat eh sekarang hillariously nulis panjang – panjang ..

  • Karang Wedatama

    TS nya mana nih? Tulisan Anda dikritisi lho mas

    • WW

      Kayaknya lagi mikir nih mau balesin apa kan uang beasiswa buat belajar aja, ga boleh buat pelesiran. Jadi kita disuruh stress belajar aja, gausah plesiran gitu lho. Terlalu dangkal untuk mengatakan ga boleh plesiran

  • Aswin Suharsono

    Yg “menghakimi” materi tentang alokasi beasiswa & kegiatan mahasiswa sudah banyak. Saya mau bahas dari sisi TKInya saja. Hihihihii..
    Saya mahasiswa di Taiwan, dengan beasiswa pemerintah Taiwan & sehari-hari berinteraksi dengan TKI-TKI di Taiwan. Tau gak sih, gajinya TKI di Taiwan itu 2-3 kali lipatnya beasiswa kami di sini. Jadi apalah arti kami yang cuma remah-remah rempeyek ini. Pernah satu ketika saya tanya ke Mbak-Mbak TKI, “Mbak kalau ke Carrefour naik bis nomer berapa ya?”, kemudian Mbaknya jawab, “waduh aku gak apal rute bis, Mas. Aku sih telpon taksi biasanya”.

    WHAT ??
    Kalau saya naik taksi ke Carrefour, ongkosnya bisa dipakai makan 3 hari dengan menu layak, bukan sekedar mie & vege, santapan kami sehari-hari. Jadi kehidupan TKI di sini itu tidak sesuram seperti yang digambarkan Mas Farchan: menderita, disambut dengan kehinaan, dsb. TKI yang bermasalah memang ada, tapi saya yakin lebih banyak yang tidak bermasalah. Memang Taiwan termasuk yang lebih baik dalam memperlakukan buruh migran di negaranya. Perlakuan di negara lain mungkin berbeda.

    Setiap Sabtu-Minggu, TKI-TKI ini juga pelesir. Main aja ke Taipei Main Station tiap weekend. Atau ke pusat-pusat perbelanjaan di kota lain. Isinya bakal TKI semua. Trus mas Farchan berani gak bikin tulisan: “TKI itu tugasnya kerja, bukan pelesir”. Dengan konten, TKI ini seharusnya menabung pendapatannya di luar negeri dan dikirim sebesar-besarnya ke Indonesia untuk memajukan perekonomian Indonesia. Hayoo,, berani gak? Jangan beraninya sama mahasiswa aja. Kami ini sudah beasiswa pas-pasan, tiap hari kena project, dimarahi Professor sudah menu sehari-hari, eh masih dipermasalahkan juga pelesirannya. Eh, cukup, ntar dikira playing victim lagi. Hahaha..

    Tapi sebagai pendapat pribadi, tulisan Mas Farchan ini sah-sah saja. Kami membalas tulisan juga dengan tulisan juga sah-sah saja, kan. Justru adu tulisan inilah yang harus dibudayakan. Cuma, sekarang jadi gak imbang karena puluhan mahasiswa yang studi di luar negeri jadi turun gunung kesini. Pukpuk buat Mas Farchan. Yang sabar ya..