Mahasiswa Itu Kuliah, Bukan Pelesir

*Tanggapan untuk tulisan El Nugraheni, Pelesir, Dosa Besar Penerima Beasiswa.

Mak El yang baik,

Tugas mahasiswa penerima beasiswa itu kuliah, lulus, dan memberikan ilmunya ke masyarakat. Kalau pelesir, itu kerjaan traveler. Jangan kemaruk. Nanti kalau mahasiswa pelesir, jadi traveler, lalu menulis dan jadi travel-blogger, saya kehabisan lahan. Masa sudah dapat beasiswa masih kemaruk?

Lagipula, kenapa membuat apologi dengan playing victim? Dari tulisan itu, seolah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa paling menderita. Mbok bikin apologi yang lebih intelek. Apa pelesir jadi obat untuk itu semua? Lebih menderita mana mahasiswa penerima beasiswa dibanding Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, yang hampir tiap saat kita dengarkan berita kenestapaannya?

Anda hidup di negeri orang dan negara percaya dengan Anda. Kuliah sebaik-baiknya, pikir rencana apa yang akan diberikan kembali kepada negara. Begini lho, dengan penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, sekian ribu penerima beasiswa itu harapan. Pulang ke Indonesia masa depan cerah menjelang. Mak El bisa saja langsung menjadi eselon IV hingga eselon III dengan lebih cepat. Apalagi lulusan luar negeri yang stratanya dianggap lebih tinggi dari kampus dalam negeri. Anda kebanggaan bangsa, orang Indonesia bangga pada Anda. Eh, Anda malah pelesir!

Bandingkan dengan para TKI yang jelas-jelas pahlawan devisa pulang ke Indonesia, di bandara saja, kadang disambut dengan kehinaan. Padahal, mereka sudah berbilang tahun tidak bertemu keluarga demi memperbaiki nasib.

Mak El dan para TKI sama, mendapatkan previlese yang tidak didapat di dalam negeri. Namun, perlakuannya kan beda? Apa karena mahasiswa penerima beasiswa itu intelek sehingga lebih bebas untuk jalan-jalan? Ya tidak, lebih pantas para TKI untuk jalan-jalan dan pelesir. Mereka pakai uang hasil jerih payah sendiri. Jangan menyamaratakan? Jelas tidak. Namun, coba jelaskan, itu jalan-jalan pakai uang apa? Tidak usah ngomong soal transparansi, akuntabilitas, atau apologi aneh-aneh lainnya. Cukup jelaskan itu uang jalan-jalan dari mana. Ini era keterbukaan informasi, makanya mahasiswa penerima beasiswa juga harus terbuka. Berani jujur jalan-jalan itu uang siapa atau … ? Bukan kebanyakan apologi seperti Mak El.

Mak El yang baik,

Anda kan di birokrasi, pasti tahu persis bagaimana memperlakukan uang negara. Seseorang kudu diklat Pengadaan Barang dan Jasa, harus menghafal banyak pasal aturan, dan ketika bekerja pun gemetaran karena takut dengan pemeriksaan Inspektorat Jenderal atau Badan Pemeriksa Keuangan. Sementara, penerima beasiswa menerima uang dari negara dengan cara yang mudah. Eh, dihabiskan begitu saja untuk pelesir? Apa tidak sedih itu para pejabat pengadaan, yang kalau mau mengeluarkan uang negara satu rupiah saja berpikir hingga stres? Lha para penerima beasiswa tinggal duduk manis menunggu transferan, kok ya enak saja menghabiskan uang negara dengan gampangnya.

Saya sih berharap kotak empati mahasiswa penerima beasiswa dibuka sedikit saja. Lihat, Indonesia masih banyak masalah. Harapan saya sederhana, kuliah saja yang benar lalu giving back ke negara dan bangsa. Penerima beasiswa, apalagi yang dibiayai negara, memanggul kewajiban bagi bangsa dan negara. Bukan malah previlesenya diemplok sendiri demi mempercantik CV di Linkedin. Dan tahu tidak, ada pembayar pajak yang tulus dan ikhlas membayar pajak dan berharap negara ini menjadi lebih baik? Ada pegawai pajak yang bekerja sampai larut malam demi tercapainya penerimaan negara yang sebagian uangnya dipakai untuk Anda-Anda kuliah? Opo yo tumon kalau situ malah pelesir-pelesir? Mbok ya empati sedikit.

Akan tetapi, kalau Mak El dibiayai negara sono, karenanya merasa gapapa pelesir, ya bebas sih. Anggap saja menghabisi uang kapitalis dan liberalis. Yang penting tak mengambil uang rakyat Indonesia, dan setelah lulus cepat menjadi pejabat. Enak toh? Kuliah sambil jalan-jalan, pulang-pulang menjadi pejabat.