Klarifikasi dari Farchan Noor Rachman

Tulisan saya berjudul “Mahasiswa Itu Kuliah, Bukan Pelesir”, yang dimuat oleh Birokreasi pada 8 Agustus 2017 lalu, ternyata menuai kontroversi. Secara pribadi, sebagai penulis yang bertanggung jawab atas isi tulisan, saya meminta maaf kepada El Nugraheni juga seluruh mahasiswa penerima beasiswa dari Indonesia di mana pun berada.

Dalam tempo yang nisbi singkat, banyak masukan dengan berbagai sudut pandang saya terima. Awalnya, saya tujukan tulisan tersebut sebagai satire. Dalam arsip-arsip tulisan saya di blog pribadi di tahun-tahun yang lalu, saya memang sering menulis dengan nada seperti itu. Saya memaksudkannya sebagai kritik dengan nada sindiran. Namun, melihat banyaknya masukan tempo hari, saya merasa berkewajiban melakukan introspeksi. Sebagai penulis, ada beberapa kesalahan yang saya lakukan, antara lain :

  1. Saya berniat membuat paragraf pembuka secara satire tetapi kekurangtepatan diksi ternyata membuat paragraf tersebut menjadi lain maknanya. Kesalahan ini semata karena ketidakmampuan saya menjalin kata-kata dengan runtut menjadi satu paragraf utuh, sesuai maksud dan makna yang saya kehendaki. Tambahan terkait tulisan tersebut adalah, saya sebagai seorang travel-blogger sebenarnya tidak ada masalah terkait nafkah atau apa pun. Menjadi travel-blogger bagi saya adalah hobi, dan saya tidak tergantung dengan penghasilan dari predikat travel-blogger tersebut. Istilah travel-blogger dalam paragraf, pada awalnya, saya maksudkan sebagai satire tetapi ternyata justru menimbulkan makna yang tidak akurat. Walaupun saya menyerahkan sepenuhnya pemaknaan kepada pembaca tetapi—seperti kata Paman Yusi Avianto Pareanom—nilai dari opini adalah argumennya. Dalam paragraf tersebut, saya membangun argumen yang lemah dan jauh dari makna yang saya inginkan.
  2. Saya terjebak dalam kegagalan berlogika dengan melakukan ad hominem kepada El Nugraheni alih-alih membangun argumen yang baik untuk melawan argumennya.
  3. Saya membuat perbandingan yang tak sesuai dengan membawa-bawa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan para pejabat pengadaan. Untuk itu, secara khusus, saya meminta maaf juga kepada para TKI dan pejabat pengadaan yang saya jadikan perbandingan secara serampangan.
  4. Terakhir, saya kurang melakukan riset dan tidak melakukan verifikasi terkait kondisi yang saya beberkan. Walaupun tulisan tersebut memang bukan sebuah karya jurnalistik tetapi opini saya lemah dan tak didukung riset dan verifikasi yang memadai.

Tulisan tersebut saya buat sebagai opini pribadi. Walaupun label Pegawai Negeri Sipil ataupun travel-blogger tidak bisa dilepaskan begitu saja, saya berusaha sejenak membuat jarak dari dua label ini saat membuat tulisan tersebut. Saya tidak bermasalah dengan teman-teman awardee yang ingin jalan-jalan di sela kuliah. Melepas kepenatan adalah hak. Saya juga tidak melarang apalagi iri kepada awardee yang bisa jalan-jalan sambil kuliah. Niat awal saya adalah membuat himbauan agar bersikap bijak, sekadar pengingat bahwa ada banyak mata yang memandang. Bukan hanya saya. Tulisan tersebut berusaha mendiskusikan sisi etis atas penggunaan dana beasiswa dari berbagai sudut pandang dan membangun kekritisan. Meski pada akhirnya, kacamata orang untuk melihat suatu hal pastilah berbeda-beda. Cara pandang juga akan berkembang terkait dari mana sumber beasiswanya.

Saya tetap percaya Birokreasi sebagai ruang untuk berdemokrasi. Saya menanggapi pendapat orang lain, orang lain pun boleh menanggapi gagasan saya. Saya hanya mencoba memanfaatkan ruang demokrasi tersebut. Terkait pendapat bahwa argumen saya buruk atau sampah sekalipun, saya terima dengan baik. Segala opini, komentar, koreksi yang saya terima sebelumnya, merupakan pelajaran berharga bagi saya untuk menulis lebih baik lagi.

Saya mengucapkan terima kasih secara khusus kepada tim Birokreasi atas ruang yang disediakan untuk menuangkan gagasan. Juga kepada Paman Yusi yang secara runtut menjelaskan kesalahan saya dan sudi mengoreksi tulisan saya.

Sekali lagi, sebelum menutup, saya meminta maaf jika tulisan tersebut menyinggung Anda semua. Juga untuk para awardee yang sedang berjuang di luar sana, selamat berjuang. Indonesia menunggu Anda pulang, rakyat menanti dharmabakti Anda dengan ilmu yang didapat dari luar sana.

  • bngpy

    ntap~ nga papa~

  • Pingback: Menerima Beasiswa – metanoia()

  • Pingback: Bagaimana Birokreasi Mewadahi Pertentangan – Birokreasi()

  • Ria Arista Asih

    gapapa Mas.. makasih koreksinya.. saya pribadi juga berterima kasih sudah diingatkan, benar banyak mata yang memandang.. sama2 bangun negeri sekarang, wes rasah tukaran

  • Reza Anggriyashati Adara

    Masnya kan pns ya? Kok sempet sih travel blogger? Ga kerja ya? Mas bisa aja membuat alasan ini itu tapi kalau dibalikin kita ga beda jauh. Mbaknya dapet beasiswa kan? Kok jalan2 mulu? Empati. Hal yg kayaknya kurang mas miliki.

  • Resa Setodewo

    Mas coba upload tulisan ilmiah orijinal sesuai dgn bidang ilmu Mas tapi pake Bahasa Inggris, 5000 kata aja. Biar bisa merasakan apa yg saya rasakan setiap bulan selama satu tahun sehingga Mas pun bisa mengira-ira apa yg akan terjadi dgn jiwa Mas jika melalui masa2 tersebut tanpa libur.

  • Rifqi Ikhwanuddin

    sudah minta maaf paragraf berikutnya masih nambah ngeles lagi.. mantap! lanjutkan wes!

  • bngpy

    Ehe ehe ehe ngapapa