Tax Cafe 6

Nek ono Tax Cafe, melu ya. Dadi pembicara,” pesan yang saya terima dari Gita.

Mahasiswa yang baru saja gagal drop out itu, mengirimi pesan sekitar dua atau tiga minggu lalu. Langsung saya tolak, tentu saja. Lha wong tak diberi tahu temanya. Penolakan tersebut saya tukar dengan janji menjadi moderator. Meski tak terlalu paham dengan tema yang dibahas, beban moderator pasti lebih ringan daripada pembicara. Di Tax Cafe (mengutip kalimat Yustinus Prastowo), sebenarnya, semua yang datang adalah pembicara. Semua punya hak menyampaikan pendapat sesuai tema. Bedanya, terdapat dua orang yang bertugas menjadi pemantik diskusi untuk menghidupkan gairah dan semangat rekan-rekan lain.

Keputusan saya nyatanya tepat. Tema yang dibawa Tax Cafe malam itu begitu berat, “Digital Economy and Its Tax Discontent”. Dua pemantik diskusi yang hadir, jelas lebih relevan karena memang hidup di dunia itu. Pertama, Hari Santosa Sungkari. Dia adalah Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang kebetulan background sebelumnya adalah pengusaha di bidang teknologi dan informasi. Kedua, Farchan Noor Rachman. Pada flyer yang disebar oleh panitia, dia disebut social media specialist. Informasi yang saya berikan kepada peserta, ia adalah salah satu admin media sosial DJP. Ternyata itu seharusnya rahasia. Rahasia umum. Karena sebenarnya sudah banyak yang tahu. Selain itu, dia lebih terkenal sebagai travel blogger. Bahkan salah satu yang terkondang di negeri ini.

Bandingkan dua orang itu dengan saya, yang kalau di media sosial, paling banter cuma upload foto dengan caption tidak nyambung.

Sedikit berbeda dengan edisi sebelumnya, Tax Cafe kali ini diadakan di toko buku yang ‘kebetulan’ ada warung kopinya. Periplus Villa Kemang. Toko yang menjual buku-buku berbahasa Enggres ini sendiri sudah menjadi sponsor sejak beberapa gelaran sebelumnya. Namun, entah kenapa di edisi kali ini, kita seolah disuruh rehat sejenak dari kopi. Drink coupon yang diberikan panitia hanya bisa ditukar dengan segelas milk tea, bukan kopi.

Laiknya Tax Cafe edisi-edisi sebelumnya, diskusi dibuka oleh Yustinus selaku penggagas acara yang sangat menarik ini. Kutipan dari beberapa ahli perpajakan dan ekonomi internasional tidak sempat terekam di kepala, saya terlanjur takjub. Dia seolah tak pernah kehabisan kutipan.

Acara yang sedikit terlambat dari jadwal (dikarenakan macetnya lalu lintas menuju lokasi acara) itu, ternyata tidak menyurutkan antusiasme peserta. Mereka tetap khidmat menyimak paparan para pemantik diskusi. Hari memulai diskusi dengan menjelaskan posisi dan apa saja tanggung jawab Bekraf. Dari situ, ia bercerita bagaimana kondisi ekonomi digital di Indonesia. Ia juga menjelaskan tentang harga paket internet di Indonesia dibandingkan dengan berbagai negara di dunia, ternyata kita hanya kalah murah dari India. Di sisi lain, meski kecepatan internet kita sering bikin kita mengucap istighfar, ajaibnya internet kita masih lebih baik daripada India dan Cina. Padahal dua negara itu terkenal sebagai salah dua negara yang sangat concern dengan perkembangan teknologi informasi. ‘Prestasi’ kita yang agak lumayan, adalah pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu di dunia maya hampir dua kali lebih lama ketimbang Amerika Serikat.

Banyak infografis menarik yang ia tampilkan terkait komposisi pengguna internet Indonesia beserta perilakunya, revenue para pelaku e-commerce, ekosistem ekonomi kreatif, tantangan yang harus dihadapi, serta bagaimana cara memenangkan persaingan di zaman digital, di mana segala perubahan terjadi sangat cepat. Penjelasannya ditutup dengan potensi ekonomi digital Indonesia, juga berbagai terobosan yang sudah dan akan dilakukan oleh Bekraf untuk mencapai potensi maksimal tersebut. Meskipun angka-angka dan istilah yang dipaparkan cukup rumit, ia berhasil membumikan hal tersebut dengan kalimat yang gampang dicerna. Sehingga pesan dapat ditangkap dengan baik oleh peserta. Selain itu, beberapa guyonan yang ia selipkan berhasil mengundang gelak tawa.

Jeda sejenak, peserta menikmati berbagai camilan yang disediakan panitia. Acara kemudian dilanjutkan oleh pemantik diskusi kedua, Farchan. Dia membuka diskusi dengan perbandingan dunia ekonomi digital sebelum dan sesudah 2010. Pengalamannya menyelami berbagai thread di Forum Jual Beli Kaskus guna mencari berbagai barang ajaib, disampaikan dengan canda. Mungkin efek barang ajaib yang dia dapat dari Kaskus masih terasa sampai tadi malam. Barangkali kita harus bertanya siapa nama akun yang sering menjadi langganannya.

Farchan melanjutkan dengan lima pelaku bisnis e-commerce terpopuler di Indonesia dan kenapa mereka bisa meraih kepopuleran tersebut. Selanjutnya, hasil survei yang dibuat oleh wearesocial pada Januari 2016. Ternyata 20 persen dari pengguna internet di Indonesia melakukan pembelian secara on line dari mobile device mereka pada 30 hari terakhir. Tidak menutup kemungkinan, sepuluh dari keseluruhan peserta Tax Cafe 6 malam itu, juga melakukan belanja on line saat survei tersebut dilakukan.

Setelah materi selesai dipaparkan, sesi selanjutnya adalah tanggapan dari peserta. Jalannya diskusi berjalan dengan asyik. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat menarik dan memancing jawaban yang tidak kalah apik. Diselingi tambahan penjelasan dari peserta diskusi menghasilkan alur yang mengalir. Sekiranya tidak dibatasi waktu, diskusi seperti malam tadi barangkali tak akan selesai hingga ujung malam. Maklum, suasana yang dibangun memang menghadirkan keakraban bagi semua orang. Dibuka oleh Yustinus Prastowo, eloknya juga ditutup oleh orang yang sama. Sembari merangkum hasil dari diskusi, tak lupa dia menyisipkan beberapa kutipan lagi dari ahli perpajakan internasional.

Catatan redaksi: versi asli tulisan ini dapat dilihat di blog pribadi penulis. Untuk rekaman Tax Cafe 6 (26 Juli 2017), bisa dilihat di sini.