Nyoto Roso dan Pertaruhan di Tol Pantura

Rumah Makan Nyoto Roso di Plelen, Batang
Rumah Makan Nyoto Roso di Plelen, Batang (gambar dari Openrice)

Jarum jam baru saja berlari dari angka 12. Sayup-sayup, suara perut terdengar beberapa kali. Cuaca kota kecil di garis pantura ini, Batang, seolah mengirim keroncongan langsung ke perut orang-orang.

“Nanti siang makan di Nyoto Roso ya. Ayamnya enak,” istri saya memberi tanda kalau perutnya juga ikut berontak.

“Jauh nggak dari sini?”

“Lumayan. Deket perbatasan Batang-Kendal.”

Duh, Gusti! Mobil kami saja baru sampai di alun-alun Batang. Kalaupun saya memancalnya sekarang, perlu setidaknya tiga perempat jam sebelum lidah saya bertemu makanan. Saya ingin protes kenapa tidak mencari tempat makan yang lebih dekat saja, lengkap dengan deretan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, saya teringat nasehat Paman Yusi kepada Irwan Bajang: mengiyakan kata-kata istri adalah kemuliaan paripurna yang bisa dilakukan seorang lelaki.

“Kalau lagi tugas di sini, aku selalu ke Nyoto Roso. Pokoknya nanti cobain, deh. Enak.”

Istri saya makin bersemangat meyakinkan saya meski dengan cara yang betul-betul tidak meyakinkan. Saya memilih sendhiko dhawuh karena ia juga terlihat lapar sekali. Saya curiga, bulan ini saya belum memberinya cukup nafkah. Setelah sampai di Rumah Makan Nyoto Roso, istri memesan ayam goreng, teh hangat, juga seperangkat alat salat. Ya, ia bersegera salat zuhur. Saya? Tentu saja leyeh-leyeh menanti makanan. Bukankah hidup memang harus seimbang, ma chérie? Jika salah satunya beribadah, apa tidak lebih baik yang lainnya tetap mengunyah?

makanan yang tersedia di Nyoto Roso (gambar dari http://kulinermudikddb.ucontest.info/)
makanan yang tersedia di Nyoto Roso (gambar dari http://kulinermudikddb.ucontest.info/)

Tak sampai lima belas menit, pesanan kami datang. Ayam goreng, teh hangat, juga dua jenis sambal hadir di atas meja. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencabik daging ayam yang kuning kecokelatan itu. Kalimat takbir dan tahmid bergiliran keluar dari mulut saya. Ayam goreng yang svnggv ntap! Selain empuk, bumbunya pun merasuk. Satu mulut saya tidak berhenti makan.

Kalau saja tidak harus menyetir, saya tak akan ragu menambah nasi dan sepotong ayam lagi. Nyatanya lapar belum juga padam. Saya pun mengudap tempe dan tahu goreng.  Terlihat beberapa rombongan pengunjung baru masuk ke dalam restoran. Meski jarum jam sudah menunjukkan angka 13.30 lewat, tidak ada tanda-tanda keramaian pengunjung hendak berkurang.

Keramaian sebenarnya tidak hanya dimonopoli oleh rumah makan Nyoto Roso. Sepanjang Jalan Raya Plelen, aneka rumah makan dengan konsep tak jauh berbeda juga dipadati keramaian serupa. Saya mencatat rumah makan Sopo Nyono dan Moro Mampir yang bersebelahan dan berhadapan dengan Nyoto Roso juga tak kurang repotnya melayani pengunjung masing-masing. Ada juga beberapa rumah makan lain yang saya lupa namanya.

“Makanan di rumah makan sini enak-enak, po? Soale banyak dan ramai he’,” Saya iseng bertanya kepada istri.

“Lumayan kok. Setiap hari ya ada saja yang mampir. Bus sama truk banyak yang beristirahat di sana. Kan Pantura.”

“Besok kalau tol Batang beroperasi, kira-kira masih pada ramai nggak, ya? Masih bisa survive nggak mereka?”

“Lho memang kenapa dengan tol Batang?”

Saya tidak buru-buru menjawab pertanyaan istri yang terakhir itu. Sepanjang yang saya tahu, pengerjaan jalur Pemalang–Batang Tol Road  (PBTR) dan Batang–Semarang Tol Road (BSTR) masih jauh dari kata selesai. Akan tetapi, imbas pengoperasian tol ini entah mengapa sudah membayangi pikiran saya. Saya teringat pada Cipali, jalur tol yang berjarak dua kota dari Pemalang. Hanya butuh beberapa saat setelah lahir, ia ibarat menjelma predator. Yang dimangsa bukan hanya nyawa (tragedi Brexit 2016 silam), melainkan juga rezeki para penjaja penganan di sepanjang Pantura.

Nasrullah, salah satunya. Ia adalah pemilik Suka Menanti, rumah makan yang berdiri sejak 40 tahun lalu di kawasan Ciasem, Kabupaten Subang. Dulu, usaha rumah makannya selalu ramai disinggahi bus antarprovinsi dan mobil-mobil pribadi yang melalui jalur Pantura selepas Jakarta. Setelah ruas tol Cipali beroperasi, bus dan mobil tidak lagi singgah ke rumah makan khas Padang itu. Mereka lebih memilih ruas tol dibandingkan jalur Pantura.

Persembahan yang sudah diberikan kepada perusahaan otobus pun tak banyak berguna. Padahal harga kontrak yang Nasrullah tawarkan agar masing-masing armada mampir membawa penumpang, berkisar Rp27 juta hingga Rp50 juta per tahun. Alhasil, omzet Suka Menanti pun amblas. Nasrullah mulai merumahkan karyawan dan mengurangi belanja bahan. Pelan tapi pasti, tol Cipali menggulung usaha Nasrullah. Ia kalah. Dan rumah makan itu akhirnya betul-betul tutup 2016 lalu.

Ada banyak ‘Nasrullah lain’ di sepanjang Pantura. Kejadiannya pun sama. Kendaraan-kendaraan yang tadinya membawa berkah tidak lagi lewat. Pelanggan berkurang berarti omzet juga berkurang. Kalau cukup punya waktu luang melewati jalur Pantura (non-tol Cipali), kau akan menemukan bangunan-bangunan bekas rumah makan yang ditinggalkan.

salah satu bangunan rumah makan di daerah Indramayu yang tutup setelah beroperasinya Tol Cipalisalah satu bangunan rumah makan di daerah Indramayu juga tutup setelah beroperasinya tol Cipali

Pembangunan tol memang penting untuk menekan biaya transportasi, terutama untuk angkutan barang. Tol mampu mengurai macet yang berlebih. Kelancaran arus barang tentu berakibat pada menurunnya biaya transportasi dan makin terjangkaunya harga barang. Dalam jangka panjang, muaranya adalah laju inflasi yang berhasil ditekan dan ekonomi bertumbuh. Pendeknya, tol memang perlu agar ekonomi bergerak maju.

Akan tetapi, yang saya sayangkan adalah pembangunan tol terkadang juga menghasilkan ekses di sekitar tempatnya berdiri. Rumah makan tutup diikuti perumahan karyawan, jelas memberi pukulan telak kepada ekonomi kecil warga sekitar. Solusi yang sama-sama menguntungkan, semisal menawarkan rest area di dalam tol untuk rumah makan, juga tak pernah mengemuka. Apakah para ahli bisa menjamin, angka-angka perhitungan mereka memang menunjukkan lesunya ekonomi kecil di sekitar jalan tol akan tertutupi oleh pertumbuhan ekonomi yang dihadirkannya?

“Aku kepikiran aja kalau tol Batang nantinya akan membunuh rumah-rumah makan seperti di sekitar Cipali.”

“Lho, emang rumah makan yang di Cipali kenapa?”

“Pada tutup. Udah nggak ada yang mampir lagi. Semua kendaraan masuk tol.”

“Wah, eman-eman kalau Rumah Makan ini tutup. Makanannya enak je.”

Kali ini, saya sepakat dengan istri saya tanpa sedikitpun “tapi”. Makanan di sini sungguh enak. Kisah tentang kelezatan dari para pengunjung saja sudah cukup membuat rumah makan ini menekan biaya promosi. Pengakuan dari mulut ke mulut nyatanya lebih manjur untuk memanggil pengunjung baru. Pun jika kurang, plang yang dipajang besar-besar di depan rumah makan adalah tanda bagi para musafir bahwa di sana ada oase untuk berhenti sejenak. Mereka akan takjub pada rasanya, lalu menceritakannya kepada musafir lainnya.

Jika kelak tol Batang beroperasi, apakah tuah itu masih bisa memanggil para musafir? Terlebih kalau di dalam tol sendiri ada kafetaria franchise (meski di mana-mana rasanya ya begitu-begitu saja)? Entahlah. Yang jelas, tol ini sepertinya akan menjadi pertaruhan besar-besaran bagi para penjaja penganan di Pantura. Kini dan nanti.