Ndeso!

Enam kali kata ndeso diucapkan Kaesang dalam vlog yang dipublikasikan 27 Mei lalu. Lima disensor, satu tidak. Penulisan ndeso sebenarnya tidak baku dalam tata bahasa Jawa. Yang baku adalah ndesa. Saya sendiri kurang sreg dengan tata bahasa ini. Saya lebih mashok dengan pendapat Iqbal Aji Daryono saat mengomentari status Puthut EA. Untuk selanjutnya, saya tetap  memilih menulisnya sebagai ndeso ketimbang ndesa, dan deso untuk desa dalam bahasa Jawa.

Kaesang tentu tahu cara yang benar mengucapkan makian ini. Jelas, kata ndeso berasal dari bahasa Jawa, Kaesang orang Jawa, dibesarkan di tengah masyarakat yang juga berbahasa Jawa. Lumrah saja jika makiannya begitu marem. Fasih. Sama sekali tak terdengar wagu seperti aktor FTV yang bicaranya dimedhok-medhokkan. Pertanyaan untuk Kaesang, memangnya apa sih dosa orang desa sampai kata ndeso menjadi makian? Memangnya orang kota lebih genah tinimbang yang ndeso?

Boleh-boleh saja Anda membela Kaesang seperti yang dilakukan Iqbal. Silakan berkilah bahwa makian ndeso bukan berarti mendiskreditkan orang-orang desa, orang desa belum tentu ndeso dan orang kota bisa saja ndeso. Seperti kata Iqbal, “Tapi ‘kampungan’ tidak selalu lekat dengan ‘kampung’. Banyak orang kampung yang tidak kampungan, sebagaimana banyak orang kampungan yang lahir dan besar di perkotaan.”

Dan kita semua tahu, itu omong kosong.

 

Apakah Makian Ndeso Selalu Sejahat Itu?

Ndeso adalah variasi dari kata deso. Dalam tata bahasa Jawa, penambahan awalan n- berfungsi membentuk kata benda, artinya “menjadi desa” atau “menuju ke desa”. Ia juga bisa berfungsi membentuk kata sifat yang berarti “bersifat kedesaan”. Yang dimaksud Kaesang tentu yang terakhir. Dalam bahasa Indonesia, ndeso bisa disetarakan dengan kampungan. Seperti kampungan, ndeso sebagai makian bisa berarti macam-macam dan semuanya buruk: dari ngisin-ngisini, kurang wawasan, tak berpendidikan, terbelakang, kolot, bodoh, jorok, norak, busik, penguk, rembes, mblawus, dan seterusnya, dan seterusnya. Bisa ditambah sendiri sesuai keinginan si pemaki. Yang jelas, apa pun artinya, yang namanya makian pasti bukan bertujuan menyenangkan penerimanya.

Kata punya sejarahnya sendiri, makna tidak jatuh dari langit. Pun setelah terbentuk, kata dan makna tetap bukan benda yang statis. Ia akan berubah, bergeser ke kiri dan kanan, naik dan turun. Bahasa berevolusi, kata bermetamorfosis. Tentu Iqbal tahu itu. Ia pasti juga tahu, makna-makna buruk dari makian ndeso adalah sifat yang diasosiasikan kepada orang-orang desa. Ia dilatarbelakangi oleh keangkuhan mereka yang bukan orang desa (katakanlah orang kota), bahwa orang desa tak tahu adat dan adab masyarakat perkotaan. Stereotip yang bertendensi melecehkan.

Pertanyaan untuk Iqbal dan para pembela Kaesang: bagaimana mungkin makian ndeso tak boleh dihubungkan dengan desa, dan kampungan tidak selalu lekat dengan kampung? Kata-kata netral yang menjadi akar pembentuk makian itu sendiri? Lalu dari mana kata-kata ini kemudian memperoleh makna yang buruk? Bagaimana ia bisa berfungsi sebagai makian? Dan pernahkah bertanya pendapat orang-orang ndeso tentang makian ini?

Sebenarnya Iqbal dan para pembela Kaesang tak perlu repot-repot menyiapkan pembelaan jika yang dimaksud dengan ndeso ‘cuma’ itu. Orang yang benar-benar berasal dari desa, rasanya tak akan tersinggung lagi dimaki ndeso. Kebal. Masyarakat desa itu semeleh. Nerimo. Tidak membesar-besarkan gengsi, ambisi, dan harga diri. Orang desa sadar gaya hidup mereka memang tak seberkilauan masyarakat kota.

Mereka juga sudah kelewat sering dimaki ndeso. Makian ini sudah populer dalam lingkup lokal Jawa sejak lama, jauh sebelum pelawak Tukul menjadikannya dagangan di lingkup nasional. Dan begitulah ciri guyonan Tukul dan banyak pelawak Indonesia yang tak lucu-lucu amat lainnya. Kalau bukan kecabulan, ya makian. Dari katrok, norak, kampungan, kere, goblok, jelek, gembrot, dan banyak lagi. Terlepas sedang memaki dirinya sendiri atau orang lain, penggunaan ndeso oleh Tukul tak lantas membuat makian ini menjadi baik-baik saja.

Ndeso sebagai makian bisa ‘tak terlalu bermasalah’ jika dipakai sebagai internal jokes. Oleh orang desa kepada orang desa lainnya, atau sesama teman yang diyakini sejak awal tak akan tersinggung. Dan di situlah letak permasalahannya, adakah yang tersinggung? Makian ndeso bisa jadi perkara jika diucapkan oleh bukan orang desa, atau orang yang tak saling akrab. Tukul bisa menyebut penontonnya ndeso, dan mereka tak akan protes. Namun, Tukul harus ingat, di luar penontonnya, ada jutaan orang yang berbagi identitas yang sama sebagai orang desa. Mereka belum tentu fine-fine saja dengan itu.

Atau dengan logika pembelaan yang sama dengan Iqbal, bagaimana jika identitas lain dipakai sebagai makian? Gender, etnis, atau agama, misalnya? Kalau tak salah ingat, Iqbal juga pernah mengutuk orang yang menggambar lambang Garuda Pancasila dengan sorban, jenggot, dan celana cingkrang, bukan? Menurutnya itu adalah generalisir terhadap Islam, sembari mengatakan tak semua yang bersorban, berjenggot, dan bercelana cingkrang adalah golongan yang gemar memaksakan kehendak dan anti-perbedaan.

 

Orang Ndeso Tak Sekurang-Kerjaan Itu Kok

Kaesang tentu tidak ndeso karena berasal dari Solo (FYI: Solo itu juga kota loh!). Begitu juga para pembelanya yang berasal dari Semarang, Yogya, Surabaya, Bandung, Jabodetabek, dan kota-kota lain. Berbeda dengan Iqbal yang ‘cuma’ orang Bantul, ia tentu boleh mengaku ndeso dan punya otoritas untuk membicarakan makian ini. Kalian, orang-orang kota yang tiba-tiba mengaku ndeso, silakan tutup mulut. Pendapat kalian tak dibutuhkan. Kalian tidak relevan.

Seperti Iqbal, saya juga ndeso secara harfiah. Saya berasal dari desa yang namanya terdengar lucu: Ngeluk. Jika naik motor dari Solo ke arah utara selama dua jam, Kaesang akan sampai di daerah yang jalannya terkenal selalu nggronjal dari tahun ke tahun. Itulah Grobogan, daerah yang kalau ketigo, nelo; kalau rendheng, mathol. Desa saya ada di pelosoknya. Jelek-jelek begitu, orang-orang di desa saya tak peduli-peduli amat dengan Jakarta. Saat tujuh juta orang berkumpul di Monas karena merasa agamanya dilecehkan oleh Ahok, orang di desa saya ya adem ayem saja. Padahal, 90 persen lebih warga desa saya beragama sama dengan yang tujuh juta itu. Apalagi kalau dibilang minta-minta proyek, mengajari anak-anak pawai sambil menyanyi “bunuh Ahok”, tidak mau menyalati sesama Islam. Enggaklah, orang-orang desa tidak sejahat itu.

Mereka tak punya urusan dengan Jakarta dan segala tetek bengeknya yang trendi. Mereka sudah kelewat sibuk dengan kesehariannya yang bersahaja. Anak-anak di desa saya, lebih senang menonton biduan dangdut koplo ketimbang mengurusi Ahok. Anak-anak mudanya sibuk jadi TKI di luar negeri. Sementara orang-orang tuanya kerepotan memikirkan biaya kuliah anaknya, pupuk dan bibit yang mahal, panen yang gagal, atau berhasil tetapi harganya anjlok. Kalaupun masih punya waktu lebih, mereka sibuk berzikir dan mengunjungi tonggo teparo. Seperti saya.

Tentu orang desa juga punya akun media sosial. (Memangnya cuma orang kota saja yang kuat beli kuota?) Bedanya, mereka tak punya cukup energi untuk menyebarkan HOAX dan kebencian. Mereka memakai media sosial untuk bertukar kabar dengan sanak famili, atau sekadar gojek kere dengan teman-teman. Saya kira yang seperti itu tak hanya di desa saya saja. Semua masyarakat desa di mana pun saya yakin sama. Kalaupun ada satu-dua yang ikut-ikutan menyebarkan HOAX, pasti ketularan saudara-saudara mereka yang merantau dan merasa telah menjadi bagian dari kota.

Gegeran di negeri ini, baik di media cetak dan elektronik, media sosial, maupun dunia nyata itu, sebenarnya milik siapa sih? Tak pernah menjadi milik orang-orang desa kok. Semuanya mainan orang kota. Para politisi, makelar proyek, pemilik media, aktivis abal-abal, yang gembar-gembor seolah paling tahu segala hal lalu merasa menjadi pahlawan yang telah menyelamatkan dunia. Mereka adalah orang-orang kota, sama seperti Kaesang dan para pembelanya. Soal besar-kecilnya kota, itu lain perkara.

Jadi kalau lain kali mau menyinggung soal desa, ada baiknya bahas saja tentang pemerataan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi; pemberantasan tengkulak dan mafia pertanian; perdayaan masyarakat desa agar generasi mudanya tak perlu pergi luar negeri; bagaimana Dana Desa bisa tepat guna dan tak dikorupsi; bagaimana sawah dan ladang tak diserobot oleh perusahaan sawit; bagaimana lingkungan mereka tidak dirusak oleh perusahaan-perusahaan ekstraktif. Akan lebih wangun seandainya negeri ini punya anak presiden yang seperti itu.

Omong-omong, para pembela Kaesang yang orang kota itu masih juga menyebut diri sebagai ndeso? Kalian semua telo!

  • arief irwanto

    Brb nyusun tulisan tentang telo