Ibu-Ibu Pekerja Sedunia, Bersatulah!

Namanya Teh Bunga, bukan nama sebenarnya. Ia adalah pengasuh anak kami selama hampir tiga tahun. Segala pekerjaan rumah sudah kami percayakan padanya. Anak kami juga kelihatannya sayang dengan Teh Bunga. Bila hari Minggu tiba, anak kami kadang bertanya, “Di mana budhe Bunga?”

Oh iya, Teh Bunga memang libur setiap Minggu tetapi bukan karena mau turut ayah ke kota (meski kebetulan Teh Bunga adalah warga kampung, di belakang komplek kami). Bulan ini, selepas lebaran, Teh Bunga pamit untuk ikut suaminya pindah ke kota lain yang masih di sekitar Jabodetabek. Tentu kami tidak punya kuasa untuk menahannya. Kami melepas dengan haru, terlebih saya pribadi, perasaan saya kacau balau. Siapa yang akan mengasuh anak kami setelah ini.

Hari masuk kerja akhirnya tiba. Saya tak kunjung mendapat pengasuh lain. Sementara saya juga harus tetap bekerja. Pilihan saya cuma ada satu, anak harus dititipkan di penitipan anak. Bagi rekan-rekan saya, ibu pekerja yang pernah melakukan ini, tentu paham bagaimana rasanya menitipkan anak di penitipan. Selain sedih yang menggelayuti hati, juga kerepotan menyiapkan bekal dan perlengkapan untuk di bawa ke penitipan. Belum lagi, bila pagi hari ketika anak akan kita antar ke penitipan tiba-tiba hujan turun dengan deras. Adegan ini mengalahkan adegan sedu sedan ala Noah dan Allie di film The Notebook yang tersohor itu.

Malam harinya, setelah seluruh tenaga kita habis dimakan pekerjaan kantor, setelah kesabaran dikikis habis-habisan oleh jalanan Jakarta yang durjana, kita harus menjemput anak dari penitipan. Setibanya di rumah, jangan bayangkan kondisi santai yang akan kita dapat. Kita tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari cuci-mencuci, tebah-menebah, masak-memasak, dan what-so-called ‘kodrat ibu rumah tangga’ lainnya. Lupakan duduk manis sambil mencemil edamame gurih nan lembut dan menyaksikan drama keluarga Kardashian di televisi. Lupakan. Cuciannya, Bu, sudah menunggu dijemur itu.

Dua minggu tanpa Teh Bunga, sedikit banyak menyadarkan saya bahwa saya bukan apa-apa. Saya boleh saja punya pekerjaan yang keren di kantor bergengsi. Namun, saat mata tertumbuk gunungan setrikaan, saya hanyalah makhluk lemah dan tak berdaya. Saya boleh saja berkoar di media sosial sebagai pendukung kesetaraan gender, atau pewaris ibu kita Kartini. Namun, saya tidak sanggup beres-beres rumah tanpa menggerutu. Oh ya, kalian mungkin bertanya, suaminya ke mana? Kok seolah-olah ibu ini adalah orang tua tunggal? Variabel suami sengaja saya keluarkan. Biar saja. Memangnya suami saja yang boleh mengeluarkan? Eh!

Hidup, kata orang, selalu wang sinawang. Kata saya juga begitu. Kita tidak pernah paham pergumulan orang lain setiap hari. Bisa jadi, seseorang bisa terlihat bahagia di kantor, tertawa terbahak dan tidak mudah sakit hati. Namun, tak ada yang benar-benat tahu beban hidup yang menggumulinya dari pagi hingga malam hari. Beban hidup, mi amor, selamanya akan menjadi kesunyian masing-masing.

Baiknya, kita memang tetap selalu menaruh empati terhadap orang lain. Daripada menggerutui pekerjaannya yang selesai dengan lambat, misalnya, kita bisa mengubah pertanyaan menjadi “apa yang bisa saya bantu?” atau “bolehkan saya mentraktirmu secangkir kopi?” Itu pasti bikin tambah semangat. Dan untuk rekan-rekan sesama ibu pekerja di luar sana, terkhusus bagi yang belum mendapat pengasuh sampai sekarang, jangan sedih. You’ll never walk alone.

Ibu-ibu pekerja sedunia, bersatulah!