Harry Styles, Sebuah Paradoks

Ingatkah kau, saat 2011 lalu, lahir sebuah english boyband besutan Simon Cowell yang mengguncang dunia remaja putri kala itu. Single pertama mereka, “What Makes You Beautiful”, bercerita tentang kegelisahan perempuan muda mengenai kecantikannya sendiri. Perempuan itu lantas diyakinkan oleh sekumpulan pria imut-imut bahwa ia tidak perlu lagi begitu. Karena pada dasarnya, dia cantik. Dengan musik easy listening dan ketukan yang membuat jejingkrakan, lagu itu sukses menduduki posisi pertama tangga lagu dunia. Kombinasi yang pas, lagu yang pas, kena di telinga pendengar yang pas. Semua pas. Strategi marketing Simon Cowell memang tidak perlu dipertanyakan. Pada kelanjutannya, boyband bernama One Direction itu langgeng selama lima tahun dengan produktivitas luar biasa. Lima album dalam lima tahun. Lima tur raksasa dengan rekor stadium yang selalu sold out. Ka-ching!

Mungkin kau sudah skeptis dengan alinea di atas. Tahan dulu. Jangan berhenti di sini. Aku janji tulisan ini tidak akan menyia-nyiakan tiga menitmu yang berharga.

Racikan sukses Simon Cowell tidaklah sulit dipahami. Sekumpulan pria muda dengan tampang manis dan mendebarkan hati. Lagu-lagu pop dengan lirik ringan dan seolah selalu mengena bagi setiap perjalanan cinta siapa pun. One Direction digadang-gadang sebagai boyband terbesar sepanjang abad ini. Fanbase-nya yang paling kuat dan solid adalah dari kalangan remaja. Tentu, mari kita tidak melupakan fakta bahwa beberapa lagu mereka adalah pesan tersembunyi yang mendukung komunitas LGBTQ. Semua isu internasional yang hidup subur di dunia anak remaja terangkum jadi satu. Harry Styles dan kawan-kawan berhasil mencuri perhatian dunia. Dan jangan tanya penghasilan mereka.

Sayang, sampai mereka menyatakan rehat, tak satupun penghargaan berharga Grammy mereka kantongi. Akhir 2015, mereka resmi menyatakan rehat dari band. Tiap personilnya memulai proyek solo masing-masing. Adalah Harry Styles, yang kemudian digadang-gadang akan menjadi solois tersukses dari semua (mantan) anggota band yang lain.

Mei 2017, Harry Styles resmi meluncurkan album debutnya sebagai penyanyi solo. Album yang dinamai dengan namanya sendiri itu, sudah mendapat penghargaan Gold kurang lebih dua bulan sejak diluncurkan. Itu berarti, album ini terjual lebih dari seratus ribu kopi di Inggris sendiri. Berita terakhir yang kulihat di akun fanbase-nya, sebentar lagi mereka akan mendapat Platinum. Tentu itu belum resmi.

Dalam album solonya, Harry berani menulis apa yang selama ini tidak bisa dia ekspresikan dalam One Direction. Dengarkan saja Single pertama, “Sign of The Time”. Ini bukan musik yang easy listening, jauh dari karakter lagu-lagu One Direction selama ini. Dengan mengusung rock klasik, seluruh lagu di album ini menggunakan instrumen musik asli tanpa tambahan efek atau remix macam-macam. Fakta bahwa Harry memilih tidak berkolaborasi dengan musisi ternama lain, membuktikan dia cukup percaya diri dengan musikalitasnya sendiri. Harry tampil organik. Baik dari penulisan lagu, aransemen, lirik, hingga kualitas vokalnya sendiri. Cobalah dengar lagu “Kiwi” dan “ Woman”, kau akan dibawanya mundur ke tahun 60-an dan 70-an.

Pasti kau bertanya-tanya di mana letak paradoks itu? Begini, dengan stereotipe boyband (tampan, kemampuan bernyanyi pas-pasan, dan senyum menawan) yang pernah begitu melekatinya, Harry yang baru justru membuktikan dia jauh dari itu semua. Cek saja penampilan live-nya di youtube, kau akan mendapati bahwa karakter vocal yang sungguh rock n roll. Dengan pengaruh dari musik David Bowie, Pink Floyd dan Prince, Harry memberi suguhan yang tak lazim dilakukan oleh musisi populer zaman sekarang.

Pertama kali mendengarkan seluruh album, kubilang, “Apaan nih?” Namun, semakin mendengarkan liriknya berulang-ulang, aku semakin paham bahwa Harry Styles sudah dewasa. Boleh jadi, aku yang tidak ikutan dewasa.

  • bngpy

    Lagunya nga bisa buat goyang~