Wonder Woman: Sebagus Itukah?

Obrolan tentang “Wonder Woman” sekarang ini, mungkin tidak sehangat saat ia baru dirilis beberapa minggu lalu. Namun, “Wonder Woman” selamanya adalah legenda. Ia memecahkan rekor film terlaris yang dibuat oleh sutradara wanita, dengan jagoan utama yang juga wanita.

Hanya dalam tiga hari pertamanya, ia meraih pendapatan lebih dari 100 juta dolar. Tidak hanya di pasar domestik Amerika Serikat tetapi juga di pasar internasional. Indonesia sendiri menjadi pasar terbesar kedelapan. “Wonder Woman” telah mengubah paradigma: film superhero wanita, yang dibuat oleh sutradara wanita, ternyata bisa laku di pasar. Lebih dari sekadar perolehan box office, adaptasi komik DC ini juga mampu membius penggemar film dengan euforia feminisme berkat tokoh tituler yang begitu memesona, siapa lagi kalau bukan Gal Gadot?

Saya yakin, per tulisan ini terbit, Anda sudah menonton “Wonder Woman”. Kalaupun belum (seriously?), percayalah, apapun opini yang saya tulis, Anda harus tetap menontonnya. Saya mendukung Anda tetap menonton film ini tanpa terpengaruh baik-tidaknya opini saya.

Kalau kata teman-teman saya baik yang benar-benar penggemar film maupun yang sekadar ngaku-ngaku, “Wonder Woman” sebenarnya tak sebagus itu. Barangkali teman-teman gaul saya yang kelewat kritis. Padahal, kapan lagi film DC bisa mendapat skor 8,2 di IMDB? Saya sendiri cukup menikmatinya sampai kemudian berpikir, apakah saya benar-benar menikmati estetika filmnya atau pesona Gal Gadot?

Tanpa tendensi menjatuhkan, saya ingin mengajak Anda menjernihkan pikiran sejenak dari fantasi liar atas kecantikan Gal Gadot dan menganalisis apa resep kejayaan “Wonder Woman”. Terlepas dari ulasan yang beredar di media atau dari mulut ke mulut, barangkali kita akan menemukan bagaimana sebenarnya selera kita dikonstruksikan, dan menyelisik apa yang menggiring konsumen menontonnya beramai-ramai.

Film DC Terbaik

Terlepas dari perolehan box office­-nya, saya kira ada sedikit latar historis dari kesuksesan “Wonder Woman” yang perlu kita maklumi, yakni duel antara Marvel dan DC. Saya kira ini lebih layak didiskusikan dari “Wonder Woman” daripada sekadar determinisme biologis terkait kecantikan Gal Gadot. Dua raksasa komik superhero ini punya fanboy masing-masing. Anda sendiri barangkali pengggemar salah satunya. Namun, saya berani bertaruh, probabilitas orang menyukai Marvel lebih besar daripada DC. Dari jam terbang saja, jelas terlihat bedanya: Marvel terlebih dahulu menancapkan kukunya di perfilman Hollywood melalui Marvel Cinematic Universe (MCU). Sejak film “Iron Man” (2008), MCU terus berkembang menjadi begitu kompleks. Baik dari segi hak cipta, wewenang produksi, maupun segi ceritanya sendiri.

Sementara DC baru memulai DC Extended Universe (DCEU) setidaknya pada 2013. Itu adalah saat mereka membangkitkan kembali karakter Superman dalam “Man of Steel”, yang sebenarnya cuma mendapat tanggapan hangat-hangat kuku baik dari penonton maupun kritikus. Berbeda dengan Marvel yang filmografinya lebih luas dan kreativitasnya lebih terasah, DC tampak terengah-engah. Film-film DC selanjutnya, “Batman v. Superman: Dawn of Justice” dan “Suicide Squad” (sama-sama rilis 2016), malah ditanggapi lebih buruk. Alasannya macam-macam: gaya penyutradaraan mudah ditebak, plot lemah, sampai perbedaan antara versi yang tayang di bioskop dan versi asli sutradara. Semuanya mencapai box office—tentu saja—tanpa memberikan harapan bahwa DC mampu menciptakan universe-nya sendiri.

Dugaan itu nyatanya dipatahkan oleh “Wonder Woman”. Di internet dan media sosial, Anda akan mudah melihat respon publik yang secara aklamasi menobatkannya sebagai film DC terbaik hingga saat ini. Tidak hanya kritikus, artis-artis Hollywood pun melemparkan pujian melalui akun media sosial kepada Gal Gadot dan sang sutradara, Patty Jenkins.

Pertanyaannya, apakah “Wonder Woman” memang sedemikian bagus?

Kembali ke Dasar

Saya setuju “Wonder Woman” adalah film DC terbaik hingga saat ini, dengan catatan, kualitas tiga film pendahulunya di DCEU secara kumulatif memang di bawah rata-rata. Terutama “Suicide Squad”—yang, ya Tuhan, kenapa plotnya begitu acak-acakan? Jika Anda tanya apakah saya penggemar DC atau Marvel, saya dengan pasti menjawab tidak keduanya. Namun, jika dipaksa membandingkan, saya kira “Wonder Woman” adalah film yang biasa saja dibandingkan film-film Marvel.

Dari segi cerita, “Wonder Woman” punya kisah yang sangat linear. Klasik, malah. Kita disuguhi kisah Diana (Gal Gadot) sang putri kerajaan Amazon. Ia berlatih sejak kecil untuk menjadi pejuang pelindung Amazon dari Ares (dewa perang) sebagaimana diceritakan oleh ibunya di buku dongeng. Kerajaan Amazon sendiri bukanlah yang terletak di pedalaman Brazil, melainkan suatu tempat yang tersembunyi dari peta dunia. Di sana, hanya ada wanita yang merupakan keturunan dewa-dewa sesuai mitologi Yunani.

Kehidupan damai Diana dan penduduk Amazon rusak saat Steve Trevor (Chris Pine) datang. Ternyata, kala itu, tengah berlangsung Perang Dunia I. Trevor merupakan mata-mata Inggris yang sedang buron dari pasukan Jerman karena mencuri buku formula senjata biologis Jerman. Diana menyelamatkan Trevor. Mendengar cerita betapa dunia tengah kacau balau akibat perang, idealisme memanggilnya turun ke bumi manusia demi menumpas Ares, yang ia sangka menjadi dalang di balik perang tersebut.

Jujur, saya tidak melihat ada sesuatu yang spesial dari cerita semacam itu. Hitam dan putih terpisah begitu jelas, juga pesan-pesan moral bahwa kekuatan cinta kasih akan membinasakan kejahatan di dunia ini. Naif dan kekanak-kanakan. Di paruh ketiga menjelang pertarungan besar Diana dengan si antagonis, kenaifan yang klasik itu sedikit diolah-alih menjadi sesuatu yang hampir blunder bagi pesan moral itu sendiri. Beruntung, plot kembali ke bentuk standarnya dan dalam sekali kibasan rambut Gal Gadot yang tak jua lepek diterjang debu dan peluh pertarungan itu semuanya berakhir bahagia. Seperti yang telah kita duga.

Hal lain yang perlu kita kritisi di sini adalah bahwa formula klasik justru terasa lebih ampuh daripada yang kebanyakan rekaan. Mari sejenak kita intip Marvel. Di samping sekadar menceritakan kisah tumbuh-kembang suatu karakter superhero dari kecil sampai besar seperti yang dilakukan “Wonder Woman”, banyak hal-hal nonformulaik yang dilakukan Marvel. Misalnya saat mereka mengadu dua superhero mereka untuk saling memusuhi satu sama lain dalam “Captain America: Civil War” (2016). Marvel juga pernah mengusung konsep anti-hero, sekumpulan penjahat yang justru bersatu menumpas kejahatan lebih besar dalam “Guardians of the Galaxy” (2014). Yang terakhir di sebut ini juga dinobatkan sebagai film musik yang beken melalui penjualan soundtrack-nya. Jangan lupa dengan “Ant-Man” (2015) yang membuktikan Marvel mampu begitu menghibur berbekal superhero yang bahkan tidak kelihatan mumpuni menjadi pembela kebenaran. Lebih lanjut, Marvel telah sampai pada tahap manipulasi plot seperti dalam “Deadpool” (2016), yang mengusung konsep breaking the fourth wall dan karakterisasi pahlawan slengean.

Dari sini, sudah bisa simpulkan bahwa penceritaan “Wonder Woman” sangatlah basic dibandingkan film-film Marvel. Namun, cerita yang standar banget inilah yang nyatanya memberi kejayaan. Bisa jadi penonton tengah rindu film superhero yang biasa-biasa saja, materi film tanpa kebanyakan bumbu politis, atau realisme yang bikin kepala pusing. Seyogyanya, ini menjadi pertanda bahwa DC sebaiknya bermain santai. Maksimalkan kreativitas di level bawah dahulu tanpa harus terburu-buru menetapkan target tinggi. Saat DC berusaha menyaingi Marvel dengan konsep serupa—seperti “Batman v. Superman: Dawn of Justice” (di mana dua superhero di-setting saling bermusuhan) atau “Suicide Squad” (kumpulan kriminal membentuk tim penumpas kejahatan), DC terbukti keok.

Euforia Feminisme

Terlepas dari penceritaannya, lagi-lagi kalau harus apple-to-apple, seingat saya Marvel belum pernah bikin film berkonsep pahlawan perempuan. Padahal, mereka juga punya karakter superhero perempuan seperti Black Widow. Nah, di samping materi cerita yang sederhana, apakah semangat feminisme benar-benar menjadi unsur yang signifikan bagi “Wonder Woman”?

Saya kira, iya. Feminisme jelas menjadi aspek utama yang membawa “Wonder Woman” di tingkat kesuksesan ini. Perhatikan kalimat-kalimat saya di paragraf pertama, semuanya berkaitan dengan “film terlaris yang dibuat oleh sutradara wanita”. Seolah sutradara wanita tak pernah mampu membuat film laris. Dan sebagaimana telah saya sebutkan di atas, respon positif terhadap “Wonder Woman” datang tidak hanya dari kalangan kritikus, tetapi juga dari pelaku industri kreatif Hollywood. Khususnya selebriti wanita. Deretan nama seperti Oprah Winfrey, Lupita Nyong’o, Ellen Degeneres, hingga Michelle Obama memiliki cara masing-masing untuk mendukung “Wonder Woman” di media sosial. Bukan sesuatu yang jarang, memang. Namun, sepenglihatan saya, dukungan para pesohor itu bukan hanya karena unsur intrinsik film tetapi juga karena ada pesan yang ingin disampaikan terhadap penggemar mereka masing-masing.

Perhatikan saja, belakangan apresiasi terhadap film telah meluas tidak hanya sekadar atas materi cerita atau filmografi belaka. Melainkan juga aspek sosial-politis yang melatarbelakangi dibuat dan dirilisnya film ini. Apalagi menjelang musim penghargaan perfilman, di mana pertimbangan film pantas diganjar piala tidak hanya didasarkan kualitas estetis, melainkan juga seberapa berpengaruh film tersebut kepada masyarakat luas.

Saya sendiri tak paham-paham amat soal feminisme, bagaimana ia memengaruhi budaya pop, juga sejauh mana ia berhasil membongkar relasi kuasa dalam masyarakat. Namun, kita harus mengingat beberapa hari sebelum “Wonder Woman” rilis, Hollywood sedang dimabukkan oleh kemenangan Sofia Coppola di ajang Festival Film Cannes, Perancis. Anak perempuan Francis Ford Coppola (pembuat film “Godfather” yang masyhur itu) menjadi sutradara wanita pertama sejak 1961, yang berhasil membawa piala palem emas dari festival tersebut. Dalam lebih dari lima puluh tahun terakhir festival bergengsi ini, baru tahun ini sutradara terbaik direbut oleh seorang wanita. Bukan karena sutradara wanita belum pernah berhasil, melainkan memang sedikit sekali sutradara wanita yang ikut berkompetisi tiap tahunnya. Betapa ini menunjukkan kurangnya representasi wanita di industri perfilman dunia, bukan hanya Hollywood.

Dari materi film sendiri, apakah “Wonder Woman” memang sefeminis itu?

Nyatanya tidak. Ia tak terlihat punya misi berbasis gender, tidak ada adegan yang dapat dilihat sebagai pesan resistensi atas laku patriarkal di masyarakat. Kita bisa membandingkannya dengan “Ghostbusters” (2016). Karakter baik dan jahat di “Wonder Woman”, tersebar dalam rentang yang hampir merata antara laki-laki dan perempuan. Adegan final antara Diana (perempuan) sebagai protagonis dan Ares (laki-laki) sebagai antagonis juga jauh dari kemungkinan salah-tafsir, bahwa adegan itu ialah metafor untuk perjuangan gender. Ia murni berfungsi sebagai adegan yang membenturkan kebenaran dengan kebatilan.

Akan tetapi, jika dilihat dari luar materi, film ini memang layak dirayakan sebagai pesan simbolik atas perjuangan gender. “Wonder Woman” berhasil menorehkan rekor per-superhero-an Hollywood: bahwa film yang disutradarai oleh wanita, dengan tokoh protagonis jagoan wanita, ternyata mampu menembus box office dan direspon positif oleh masyarakat dan kritikus.

Wanita di Depan dan Belakang Layar

Kesuksesan ini tentu juga dikarenakan oleh andil wanita-wanita hebat di depan dan belakang layar. Di belakang layar, ada Patty Jenkins yang baru satu kali menyutradarai film layar lebar. Seiring dengan proses pembuatan “Wonder Woman”, banyak media berpendapat bahwa Warner Bros (sebagai distributor “Wonder Woman”) seolah ‘mempertaruhkan’ budget lebih dari 150 juta dolar dengan menyerahkan proyek film ini kepada seorang sutradara wanita. Tentu saja, ‘mempertaruhkan’ adalah kata yang menyakitkan.

Melihat tren belakangan ini, kita juga akan menemukan fakta studio-studio Hollywood banyak mengincar sutradara yang tergolong debutan, untuk mengepalai produksi film-film blockbuster. Ini mungkin simbiosis mutualisme. Bagi studio, menyewa sutradara baru seperti Jordan Vogt-Roberts untuk membuat “Kong: Skull Island” (2017) mungkin lebih murah daripada memanggil sutradara kawakan macam James Cameron. Sementara bagi sutradara-sutradara baru, kesempatan memimpin produksi film blockbuster tentu akan meningkatkan nilai jual mereka di bursa perfilman Hollywood.

Tentu saya tak bisa benar-benar menebak apa yang ada dalam kepala para petinggi Warner Bros saat memilih Patty Jenkins. Saya kira mereka memikirkan mutualisme yang sama. “Wonder Woman” sebenarnya pernah diniatkan untuk sutradara pria tetapi urung, Patty Jenkins yang akhirnya mendapat kesempatan itu. Bukan tidak mungkin dampak feminisme juga telah diprediksi oleh Warner Bros untuk meraih box office, bukan? Yang jelas, semoga saja “Wonder Woman” benar-benar dapat memetakan-ulang kesempatan sutradara-sutradara debutan nan berkualitas secara merata. Terlepas pria atau wanita.

Sekarang tentang wanita di depan layar. Sebelum kemunculannya sebagai Wonder Woman di “Batman v. Superman: Dawn of Justice”, saya tidak ingat kapan Gal Gadot pernah muncul di sebuah film. Dari catatan filmografinya, ia pernah sekali-dua menjadi pemeran utama atau pemeran pendukung di film-film produksi studio besar. Jadi, aman untuk saya berpendapat bahwa sebelum menjadi Wonder Woman, ia sejatinya adalah pendatang baru yang cukup menjanjikan.

Ada satu hal yang ingin saya garis bawahi tentang penampilan Gal Gadot: ia punya karisma. Akui saja, salah satu alasan utama Anda menonton “Wonder Woman” adalah karena ia Gal Gadot, bukan?

Entah kenapa saya teringat pada Christopher Reeves dan Brandon Routh, aktor yang sama-sama pernah memerankan Superman. Keduanya jelas-jelas memainkan karisma. Bukan berarti peran sebagai superhero tidak cukup menantang. Maksud saya, seberapa besar sih seorang aktor dituntut mengeluarkan performa maksimalnya dalam berakting, ketika secara fisik sudah sangat mampu mengejawantahkan aura pahlawan?

Dan jika Anda benar-benar ingin melihat kemampuan akting Gal Gadot, saya kira “Wonder Woman” bukan film yang tepat. Tak banyak karakterisasi yang menyembul dalam film ini. Ia lebih banyak memainkan karisma untuk membuat kita bersimpati, bersemangat, kecewa, atau emosi apa pun yang ia inginkan saat menjadi Diana. Hanya waktu yang akan menguji kualitasnya di Hollywood. Apakah di luar Wonder Woman, ia mampu beradaptasi dalam karakter-karakter lain? Ataukah selamanya Hollywood hanya memandang Gal Gadot sebagai Wonder Woman?

Penutup

“Memangnya film Wonder Woman bagus banget, ya?”

Jika pertanyaan itu Anda ajukan setelah membaca tulisan ini, saya dengan pasti akan menjawab tidak. Namun, jika Anda bertanya apakah “Wonder Woman” bagus? Saya memilih lumayan alih-alih dengan pasti menjawab ya. Saya sangat menikmati “Wonder Woman” tetapi saya akan dengan mudah menyebutkan film-film lain yang lebih canggih dan kaya materi. Sesuatu yang bagus bukan sekadar sesuatu yang bisa saya nikmati, bukan?

Akan tetapi, perlu saya nyatakan keberhasilan “Wonder Woman” dari segi box office maupun kritik, sebaiknya dijadikan momen membangkitkan kembali kepercayaan kita terhadap kisah superhero. Pertama, kita sama-sama tak usah sok tahu ngebela-belain Marvel atau DC. Nikmatilah proses kreatif industri film melalui hasil yang mereka buat.

Kedua, ternyata sekarang tidak hanya anak laki-laki, anak perempuan juga punya superhero yang bisa mereka gemari. Anak laki-laki boleh saja menyebut Batman, Iron Man, atau Spiderman, tetapi anak perempuan kini bisa dengan bangga menyebut Wonder Woman sebagai superhero favorit. Bahkan laki-laki dewasa pun tak lagi salah menjadikan superhero wanita sebagai jagoan mereka (meski kita juga tak tahu apakah itu tetap berlaku jika bukan Gal Gadot yang menjadi Wonder Woman). Apa pun politik yang tengah dimainkan, kita sepatutnya bersyukur, di zaman modern ini, hal-hal yang tanpa sadar telah menjadi arus-utama sejak lama perlahan-lahan mulai dibongkar dari dalam. Baik itu tentang formula penceritaan maupun kesetaraan hak dalam berkreativitas.

Dan untuk industri film, cara kita bersyukur adalah dengan datang ke bioskop, membeli tiket, duduk manis sebagai penonton yang baik, membuat kritik yang relevan, dan tentu saja: tidak membajak.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r