Taksi Biru dan Ramadan Kedua

Aplikasi pemesanan taksi pada layar gawaiku menunjukkan pengemudi taksi kali ini adalah seorang wanita. Wah, jarang nih, pikirku. Tak berapa lama, taksi biru itu menjemputku di Stasiun Bandung sore itu. Anak-anak antusias. Mereka bergegas masuk dan sibuk mengomentari (mengagumi lebih tepatnya) Honda Mobilio yang tampak baru itu. Kebetulan siang tadi di Jakarta, mereka membahas ‘taksi tinggi’ yang mereka lihat sepanjang perjalanan menuju Stasiun Gambir, dan keinginan mereka mencobanya suatu saat. Taksi tinggi adalah istilah mereka untuk taksi biru yang memakai Mobilio, yang memang lebih tinggi dibanding sedan lain.

Anak-anak memang selalu ceria. Perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung selalu mereka anggap piknik semata. Berbeda dengan emaknya yang masih galau mellow saja. Pun sore itu, kepulangan pertama di Ramadan pertama jauh dari rumah. Ramadan yang mengaduk-aduk rasa. Ramadan yang biasanya jadi ajang kumpul keluarga, sahur bersama, buka bersama, tarawih bersama, saat itu (dan sekarang pun masih) harus kami jalani berpisah-pisah kota.

“Selamat sore, Bu. Ke Antapani, ya? Mau lewat mana?” sapa pengemudi taksi ramah.

Kujawab seperlunya. Rute pun kuserahkan padanya. Aku malas mengobrol. Perasaaanku masih campur aduk, meratapi (sebenarnya ini diksi yang lebay tetapi aku tak menemukan istilah lain yang lebih tepat) nasibku yang harus bekerja jauh dari rumah, dan menjalani Ramadan jauh dari suami dan dua anakku yang lain (aku punya empat anak).

“Anak-anaknya lucu-lucu ya, Bu. Akur pula. Anak-anak saya dulu seusia segitu mah ribut wae. Rebutan mainan lah, cubit-cubitan lah, iri-irian lah.”

“Ah sama aja, Mbak. Kalau lagi akur, ya akur. Kalau lagi berantem, ya bisa sampe nangis dua-duanya.” jawabku.

Kuperhatikan wanita yang berada di balik kemudi itu. Namanya Dian. Kuperkirakan ia sepantaran denganku. Kulitnya kuning langsat dan nampak bersih terawat. (Jangan pernah remehkan mata perempuan soal membedakan kulit yang terawat dan tidak.) Make up-nya minimalis tetapi polesannya rapi dan pas, membuat wajah cantiknya yang terbalut jilbab tampak cantik elegan. Seandainya aku bertemu wanita ini di mall, aku tak akan menyangka dia seorang sopir taksi. Tiba-tiba aku jadi kepo dan ingin mengobrol lebih jauh dengannya.

“Emang anaknya berapa Mbak? Ooh gitu. Udah berapa lama jadi sopir taksi? Ooh.. belum lama ya. Sebelumnya kerja di mana? Blablabla …,” dan mengalirlah ceritanya.

Tiga tahun lalu, keluarga kecil Dian mendapat musibah. Mereka menjadi korban penipuan rekan bisnis suaminya. Bisnis itu terpuruk, utang bisnis pun menumpuk. Pemberi pinjaman tidak mau tahu, harta terkahir mereka berupa rumah pun disita. Dian dan keluarga kecilnya pun terusir dari rumah yang mereka tinggali.

“Bayangin, Mbak …,”

Kami saling memanggil ‘mbak’ setelah mengobrol akrab. Yang membuatku iri, ternyata Dian lima tahun lebih tua dariku tetapi tampak jauh lebih muda.

“… magrib-magrib kami pulang ke rumah, tau-tau barang-barang udah ada di luar rumah semua. Dia memang sudah minta kami segera pergi sih. Tapi kami minta waktu karena belum dapat rumah kontrakan yang cocok. Eh, ternyata tetep diusir. Akhirnya kami numpang di rumah teman sampai kami dapat kontrakan di daerah Kawaluyaan.”

Padahal rumah Dian, suami, ketiga anak, serta ibunya yang disita itu, berada di perumahan elit di daerah Buah Batu Bandung.

“Putus asa pernah lah, Mbak, tapi alhamdulillah mama nyemangatin Dian terus. Suami down banget, jadi Dian harus bangkit. Apalagi lihat anak-anak. Anak-anak kan butuh makan, butuh sekolah, masa kita diem aja? Pasrah nunggu suami bangkit lagi yang entah kapan? Alhamdulillah Dian bisa nyetir, Mbak. Kan biasa nganterin anak-anak ke sekolah. Ya sudah, cuma ini keterampilan yang Dian miliki, ya ini yang Dian manfaatkan untuk mencari nafkah. Kalau daftar kerja kantoran, mana ada yang mau nerima ya, udah tua hahaha.”

“Awal-awal ya sedih lah, Mbak. Apalagi kalau nganter penumpang ke Bandara. Inget dulu Dian sering banget ke Bandara karena sering jalan-jalan, eh, sekarang ke Bandara nganter penumpang. Roda berputar ya, Mbak. Kita gak tau berapa lama kita berada di atas atau di bawah. Tapi pasti berputar. Jadi buat apa sedih berlama-lama?”

“Ya pernah juga ada temen masuk. Dian udah diem aja. Awalnya dia gak sadar, terus lama-lama curiga. Liat foto dan nama Dian di dashboard, terus ngelihatin. Tadinya pangling karena Dian pake jilbab, terus nanya. Ya udah, Dian ngaku. Jadinya kami nangis bersama hahahaha. Tapi ada juga yang pura-pura gak kenal. Sodara pun ada yang dulu deket jadi menjauh.”

“Memang keraslah kehidupan di jalanan. Apalagi kita wanita, Mbak. Tapi mau bagaimana lagi? Ini yang Dian bisa jalani, ya sudah Dian jalani saja. Mengeluh gak ada gunanya, malah tambah capek.”

Memang, tak terdengar nada mengeluh sama sekali dari ceritanya. Dari awal, suaranya lancar mengalir ceria. Hanya sesekali tercekat ketika menceritakkan anak-anaknya.

Jalanan di Bandung sore itu macet luar biasa. Satu jam sudah berlalu sejak kami meninggalkan Stasiun, dan kami belum sampai ke tujuan. Obrolan kami sudah panjang ke mana-mana. Azan magrib pun sudah terdengar berkumandang.

“Shaum kan Mbak?” tanyaku.

“Iya, nih udah siap bawa kurma dan Aqua,” jawabnya.

Kutawarkan Bubur Gempol yang kubawa dari Jakarta. Dan kami pun berbuka bersama di atas taksi, menikmati Bubur Gempol di gelas masing-masing.

“Baik banget, Mbak, mertuanya. Dibekelin buat buka segala. Enak banget ini, Mbak, buburnya.”

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan tanpa percakapan, sibuk dengan bubur masing-masing. Dian sibuk dengan bubur dan setir yang dipegangnya, aku sibuk dengan bubur dan perasaanku yang baru, perasaan yang penuh rasa syukur. Sangat banyak hal yang pantas kusyukuri. Sungguh, aku tak pantas mengeluh. Ini adalah Ramadan kedua yang kujalani jauh dari rumah. Aku tak sedih lagi, cuma kangen.