LRT, Hoax, dan Google Ads

Seorang kawan, sebut saja Topiq, meminta saya menulis tentang puasa atau bulan puasa (?). Saya lupa persisnya karena saya sedang belanja saat pesan darinya saya terima. Saya hanya iya-in aja biar cepat. Saya memang sempat memberi tau, tulisan saya rada-rada satir. Takutnya saya akan langsung dihakimi beramai-ramai. Masih mending kalau cuma dilaknat sebagai kafir. Kalau dipersekusi? Saya belum siap seterkenal itu.

Pada akhirnya, saya putuskan menulis hal yang lebih ramah. Tak perlu satir-satiran, yang penting bisa curhat terselubung. Apalagi Ramadan tahun ini terasa sekali lebih berat dari tahun yang lalu-lalu.

Semua orang tahu, ketika berpuasa, kita harus menahan hawa nafsu. ‘Nafsu’ sendiri artinya nyawa, jiwa, atau tubuh. Kalau ditempeli kata ‘hawa’ yang artinya keinginan atau cinta, arti hawa nafsu akan menjadi cinta dengan jiwa. Kalau untuk saya, supaya gampang, hawa nafsu adalah keinginan jiwa. Lebih simpel lagi, kepengenan. Kata ustad-ustad, manusia dikendalikan oleh nafsunya sendiri saat puasa karena setan-setan pembisik yang jahat-jahat itu lagi dikurung di neraka. Jadi di bulan Ramadan seperti ini, semua orang menampilkan karakter aslinya.

Lantas apa hubungannya dengan LRT, HOAX, dan algoritma Google?

Beberapa hari ini, saya selalu misuh-misuh setiap kali menyetir ke kantor. Banyaknya ruas jalan yang di tutup dan dialihkan ke ruas jalan yang lain, membuat saya terlambat sampai kantor. Dan itu berarti tunjangan kinerja saya harus dipotong. Sudah berangkat pagi-pagi buta, eh, tahunya jalan ditutup karena ada crane di tengah jalan. Kan sebal. Sebenarnya, saya bisa saja menyalahkan Pak Gubernur yang memaksa membangun Light Rail Transit (LRT) demi sebuah legacy. Namun, daripada misuh-misuh karena terlambat dan menyalahkan orang lain supaya merasa lebih baik, saya putuskan mengomel saja ke tiang LRT. Itu jelas lebih gampang daripada ngamuk-ngamuk ke gubernur.

Bayangkan saja, saya memulai pagi di bulan penuh Ramadan yang semestinya syahdu itu, dengan tidak kuat menahan “kepengenan” marah-marah. Saya yakin malaikat Atid geleng-geleng kepala melihat saya memarahi tiang LTR sepanjang perjalanan ke kantor.

Sampai di kantor, sebagai humas pemerintahan sejati, saya harus menjadi yang paling update soal semua berita terbaru tentang pemerintahan dan, utamanya, gosip selebriti. Tentu saja. Tidak mustahil selebriti juga menjelek-jelekan pemerintah, bukan? (#MencariPembenaran). Dan apalah arti membaca berita kalau tidak didiskusikan dengan teman sejawat? Di negeri ini, membaca berita berarti juga mempersiapkan diri untuk berghibah. Karena berita tak akan seru untuk didiskusikan tanpa dibumbui HOAX. Lucu, ya? Artikel yang saya baca saja belum tentu benar, malah ditambah panas dengan HOAX yang beredar.

Setelah berghibah, tentu rasanya hati sedikit enakan karena ada pihak lain yang bisa kita hina dina bersama-sama. Mau orang itu benar atau salah, sekali kita tak suka ya tetap tak suka. Bahkan saat mencari berita di Google sekalipun, kita tetap memakai kata kunci yang sesuai keinginan kita, bukan? “Artis X banci kebon penista ayam goreng”, misalnya. Kalau kata Om Paulo Coelho, tak usah repot-repot memberi penjelasan. Orang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Sekali lagi malaikat Atid geleng-geleng kepala sambil mencatat amal buruk saya.

Sembari Google-an mencari berita yang saya inginkan, saya melirik iklan di Google Ads. Masya Allah, kok ada yang sesuai banget dengan yang saya inginkan selama ini: baju lebaran seragam untuk keluarga, warna putih gading pakai bordir kembang kol, diskon 70 persen, dan bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Kok bisa pas begitu ya? Hati saya mendadak berbunga-bunga karena merasa ada yang perhatian atas keinginan saya. Seperti iklan minuman ringan, “Kutahu yang kau mau”.

Iklan yang mengetuk pintu hati saya itu pun nyatanya terbukti berdampak positif bagi perekonomian: saya jadi mengeluarkan kartu kredit dan belanja banyak-banyak. Pedagang on line shop mendapat laba, kapitalis perbankan mendapat bunga, negara mendapat pajak, uang beredar, ekonomi tumbuh, GDP meningkat, tax ratio naik, dan pemerintah bisa menjalankan proyek-proyek yang bermanfaat bagi rakyat. Mulia sekali memang perpaduan antara on line shop dan agenda konsumerisme itu.

Bayarnya? Nanti saja kalau tunjangan kinerja ke-13 cair. Bahkan kawan saya yang anti-riba pun ikut-ikutan browsing sambil menitip belanja. Dan malaikat Atid pun pasti sudah mencatat: sudahlah tidak kuat menahan nafsu belanja, mengajak orang terjerumus riba pula.

Benar kata kawan saya, Wahyu, “Jangan belanja ketika lapar karena bisa menyebabkan overlimit pada kartu kredit anda.”

Dan Anda tahu? Overlimit kartu kredit itu selalu bisa memprovokasi saya untuk menghabiskan isi ATM yang harusnya disetor ke rekening haji. Ya, biar begini-begini, saya juga menyimpan keinginan dipanggil dengan predikat ibu hajjah lho!

Ramadan, oh Ramadan. Dirimu yang datang dengan limpahan peluang untuk mendapat pahala berlipat ganda, saya malah menghasilkan banyak-banyak dosa. Kalau begini, wajar saja kalau saya merasa Ramadan tahun ini lebih berat dari Ramadan-Ramadan sebelumnya, bukan?