Kita Serba-Terbatas, Tuhan Tidak

Seberapa paham kau dengan frasa “tidak mungkin”?

Aku paham betul. Dibesarkan di tengah segala keterbatasan, aku jadi terlampau karib dengan frasa itu. Dan Ramadan selalu berhasil menyeretku kembali ke masa-masa itu, dua belas tahun yang lalu, saat aku masih kuliah tingkat satu. Bersepeda menuju kampus setiap hari, mengayuh hampir dua puluh kilometer pulang-pergi, termasuk di bulan puasa seperti ini. Jangan tanya bagaimana kuyupnya bajuku sepanjang kuliah.

Sejak awal, aku tidak pernah bersekolah di tempat yang istimewa. Sekolah negeri terlalu mewah, apalagi yang favorit. Selama paham agama dan ongkosnya tidak mahal, sudah cukup bagi orang tuaku. Jadilah aku bersekolah di Madrasah Aliyah yang begitu bersahaja.

Tak jarang muncul juga keinginan memberontak. Namun, aku paham segala keterbatasan itu bukanlah salah orang tuaku. Tak ada orang yang ingin hidup susah. Selain itu, kami bukan satu-satunya. Ada jutaan keluarga lain seperti kami di negeri ini. Aku justru bersyukur punya orang tua yang tetap mendorong anak-anaknya bersekolah. Walaupun tertatih-tatih, kami berusaha. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Sampai aku selesai Madrasah Aliyah, barulah pendidikan benar-benar menjadi persoalan. Seperti umumnya anak-anak lain, aku ingin kehidupan jadi lebih baik, aku ingin kuliah. Namun, dinding kampus adalah batas kemampuan orang tuaku. Mereka menolak tanpa kekurangan alasan: dari tidak ada uang, biaya hidup dan kuliah mahal, hingga adik yang juga butuh biaya sekolah.

Sumber keuangan keluarga kami memang hanya bapak yang seorang petani. Sementara ibu kami hanya ibu rumah tangga. Kau tahu bagaimana cara uang bekerja di keluarga petani kecil? Layaknya panen, ia datang musiman. Pun tidak setiap musim pasti datang. Bagi keluarga seperti kami, kuliah adalah persoalan.

“Tahu diri, kita bukan orang berada!”

Kata-kata semacam itu yang selalu disampaikan oleh saudara dan kerabat. Mereka merayuku agar melupakan keinginan kuliah tetapi aku berkeras. Aku tak hendak menyerah. Sembari menguatkan tekad, aku berusaha meyakinkan mereka. Aku akan mencari beasiswa dan berjanji tidak merepotkan. Mereka luluh. Meski harapan kuliah di kampus favorit sudah tak mungkin terwujud, nyatanya janji itu kupenuhi. Aku benar-benar memperoleh beasiswa. Tinggal biaya sehari-hari, buku kuliah, dan kebutuhan lain yang harus kucari sendiri. Aku pun berjualan buku, jasa les, atau apa pun yang bisa dijual.

Pada 2006, musibah besar itu datang juga. Tanpa pertanda sebelumnya, bapak mendadak sakit dada sepulang mengimami salat tarawih di masjid. Mantri di kampung menyarakan dia dibawa ke rumah sakit karena kondisinya tak kunjung membaik. RSUD Ciamis tidak dapat menangani, ia dilarikan ke RSUD Banjar. Di tengah perjalanan, bapak meninggal.

Posisi bapak digantikan oleh ibu yang sebenarnya juga sudah terkena stroke. Untuk berjalan saja, kaki kanannya harus diseret. Begitu juga tangan kanannya, terasa berat untuk diangkat. Namun, ia tetap melakukan apa pun demi anak-anaknya tanpa mengeluh. Aku masih duduk di tingkat satu saat itu. Seluruh keluarga ragu dan menyarankan aku berhenti kuliah. Aku sendiri yakin bisa. Aku percaya rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Memberi. Pasti akan selalu ada jalan keluar. Untuk kedua kalinya, aku berhasil meyakinkan mereka.

Musibah kedua datang pada 2009, tepat saat aku sedang Kuliah Kerja Nyata. Kami bahkan tak sempat bercakap-cakap. Ibu sudah koma selama dua hari ketika kami bertemu. Lantunan ayat-ayat Alquran dan tangisan sajalah yang menghubungkanku dengan ibu yang terbaring di ruang ICU. Setiap kali selesai salat isya, doa terurai untuknya di surau rumah sakit,

“Ya Rabbi, jika ibu bisa sehat kembali seperti sedia kala, maka sembuhkan. Tapi jika tidak bisa Kau sembuhkan seperti sedia kala, jangan Kau lamakan sakitnya, ya Rabbi. aku ikhlaskan.”

Tak lama kemudian, ibu memang menyusul bapak. Praktis aku menggantikan posisinya sebagai tulang punggung. Semua orang mengkhawatirkan masa depan kami. Sekarang aku jadi ragu. Itu adalah awal semester delapan (tingkat akhir), apakah aku bisa melanjutkan kuliah? Bagaimana dengan adik yang masih Sekolah Dasar?

Nyatanya, Allah tak pernah tidur. Pertolongan-Nya datang tepat di awal semester. Aku dipercaya untuk ikut mengaudit laporan keuangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tak cukup sampai di situ, aku juga mendapat rezeki lain berupa beasiswa. Ini berarti kali ketiga aku mendapat beasiswa. Aku tinggal mencari tambahan lain untuk menambal biaya hidup sehari-hari, biaya kuliah, dan biaya untuk adik. Tak lama kemudian, lagi-lagi pertolongan Tuhan datang. Aku mendapat proyek survei PDAM dan menjadi pengawas ujian Universitas Terbuka yang lumayan dapat menyambung hidup.

Meski banyak biaya yang keluar saat tingkat akhir, kuliah akhirnya dapat kuselesaikan. Dan peringkat terbaik kupersembahan untuk almarhum kedua orang tua yang begitu banyak berkorban. Keluarga yang dulu memintaku menyerah ikut menangis haru di tengah acara wisuda. Anak petani yang keras kepala ini, benar-benar menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Satu janji berhasil kutunaikan.

Ramadan selalu mengingatkanku, perjuangan memang tidak manis dan punya harga yang harus dibayar. Namun, ia sekaligus menjadi bukti bahwa Allah selalu hadir.