Be a Driver, not a Passenger!

“Kamu lulusan mana?”

Pertanyaan itu yang kuperoleh saat pertama kali bekerja. Aku menjawab apa adanya, ‘cuma’ lulusan diploma satu. Reaksi yang muncul kemudian akan berulang pada penanya-penanya selanjutnya di kesempatan yang berbeda: sebuah “o” panjang. Lengkap dengan raut muka meremehkan yang berusaha ditutup-tutupi dan gagal. Hal itu terekam dengan baik dalam ingatanku sampai sekarang.

Awalnya, kupikir itu hanya perasaanku saja. Atau barangkali hanya reaksi spontan satu-dua orang yang tanpa disengaja. Lagipula aku memang masih sangat belia saat itu. Kupikir wajar saja aku dianggap belum mumpuni mengerjakan ini dan itu. Seiring waktu berjalan, nyatanya aku tetap mengalami perlakuan semacam itu. Baik dari para pegawai senior maupun pihak-pihak lain. Aku pun menyimpulkan mereka benar-benar menilai seseorang hanya berdasarkan strata pendidikan alih-alih kinerja atau kemampuannya.

Semakin sering, perlakuan itu jadi terasa serba-biasa. Aku tak lagi ambil pusing. Hingga akhirnya aku sampai juga pada titik di mana diskriminasi itu menjelma sebagai penghambat karier. Saat penilaian kinerja, misalnya. Seorang kawan yang jelas-jelas kinerjanya kurang baik, diberi kesempatan memperoleh posisi lebih baik hanya karena berpendidikan lebih tinggi. Atau tiba-tiba muncul aturan yang menghapus kemungkinan penyesuaian jabatan bagi golongan dengan pendidikan tertentu. Yang semacam itu tentu menghilangkan kesempatan bersaing secara sehat berdasarkan kinerja.

Bagi pegawai yang merasa kariernya tak bisa berkembang, diikuti dengan ketidakpuasan terus-menerus, besar kemungkinan akan menjadi seorang toxic employee. Sering juga disebut bad passenger. Pegawai yang sakit dan sangat mungkin menulari. Mereka bisa menjadi apatis dan menyulitkan orang lain. Dari kehilangan motivasi bekerja, tidak sepenuhnya menjalankan tugas atau menjalankan seperlunya saja, hingga sering tidak masuk kantor. Sependek pengalamanku, tipe pegawai seperti ini cukup banyak.

Toxic employee biasanya diawali oleh rasa kecewa karena kurangnya apresiasi dan kesempatan menunjukkan kinerja yang sebenarnya. Rasa kecewa dan menurunnya motivasi kerja memang hal lumrah. Namun, itu bisa sungguh berbahaya jika tidak dikelola dengan baik, khususnya di tempat kerja yang dituntut selalu dinamis.

Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan oleh pegawai?

Tentu kita mudah saja menjawab pertanyaan di atas dengan uang, gaji, honor, atau istilah serupa lainnya. Namun, aku yakin ada yang lebih dibutuhkan oleh pegawai ketimbang apreasi yang bersifat materi semacam itu. Yakni, apreasi berupa ruang aktualisasi diri. Dari kesempatan melanjutkan kuliah, kesempatan bersaing berdasarkan kinerja (bukan jenjang pendidikan), penempatan sesuai dengan keinginan, hingga yang lain-lain.

Barangkali kita tak menemukan yang semacam itu, lalu berharap adanya perubahan di tempat kita bekerja. Namun, sebelum berusaha mengubah kondisi eksternal, sebenarnya lebih mudah jika kita mulai mengubah diri sendiri untuk merespon hal tersebut. Hal itu yang membuatku bertanya kepada diri sendiri ingin menjadi pegawai seperti apa? Apakah ikut arus dalam barisan patah hati? Atau memberi yang terbaik terlepas apapun perlakuan yang kuterima? Memilih tampil di depan dan menjalani segala tantangan dengan penuh kesungguhan? Atau diam saja dan tinggal duduk manis di belakang?

Dalam buku “Self Driving”, Rhenald Kasali membagi tipe manusia menjadi dua: seseorang yang bermental penumpang (passenger) dan pengemudi (driver). Kerja seorang bermental passenger memang hanya menumpang. Ia boleh mengantuk, tertidur, makan dan minum, tidak perlu merawat kendaraan, bahkan marah jika pengendara membawanya ke tempat yang salah, tanpa perlu memberi solusi. Singkatnya, seorang penumpang adalah follower yang tidak perlu repot dan mudah dipengaruhi kondisi eskternal.

Di sisi lain, ada manusia bermental driver. Dialah yang mengemudikan kendaraan, harus tahu tujuan dan jalan untuk ke sana, dilarang mengantuk apalagi tertidur, beberapa bahkan wajib merawat kendaraan, dan menanggung lebih banyak risiko. Menjadi driver adalah sebuah sikap hidup yang mengambil tanggung jawab atas keputusan-keputusan yang dipilihnya sendiri, memiliki disiplin, selalu belajar, berani memberi yang terbaik, dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi eksternal. Dengan kata lain, pegawai bermental driver memiliki nilai tambah (value) dibanding seorang passenger.

Dari situ, kuputuskan tidak ingin menjadi pegawai bermental passenger. Aku ingin menjadi seorang driver. Pegawai yang hidup dan semangat menjalani pekerjaan. Bukan menjadi pegawai yang hidup tetapi hati dan semangatnya mati seperti zombie hanya karena rasa kecewa. Aku ingin bekerja setulus dan sebaik mungkin, tahu ke mana arah yang harus kuambil, dan tidak asal ikut-ikutan. Belajar bekerja secara tulus, belajar menjadi seorang driver.

Aku ingin membuktikan seseorang tak semestinya hanya dinilai berdasarkan label pendidikan. Ada nilai lain yang lebih relevan untuk dipertimbangkan. Aku ingin membuktikan dengan tindakan yang lebih keras daripada perkataan. Aku ingin membuktikan dengan kualitas yang akan membuat orang-orang tak lagi memandangku sebelah mata. Aku ingin menjadi pribadi yang bisa diandalkan. Tentu bukan untuk dipuji, melainkan tulus ingin memberi yang terbaik, selain kuniatkan pula sebagai ibadah. Sejak itu, hatiku menjadi lebih tenang dan pekerjaan lebih menyenangkan.

Pepatah bilang ikan tidak menjadi asin meski hidup di lautan. Meski lingkungan kerja tidak mendukung, meski terus didera kekecewaan, tak pernah sekali pun terbersit dalam pikiranku untuk memberi hasil yang buruk. Aku sadar, yang akan merugi bukan hanya instansi tetapi juga diri sendiri. Percayalah, diri kita butuh kebanggaan semacam itu. Kebanggaan dan rasa percaya dari diri kita sendiri. Bukan penghargaan, kebanggaan, pujian dari orang lain, termasuk instansi. Aku ingin bisa berdiri tegak esok hari dan bercerita pada anak-cucu, bahwa aku telah memberikan segala yang kumiliki. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Ketika niat tulus, aku yakin rasa kecewa tak akan pernah hadir.

Tentu aku merasa beruntung bertemu dengan orang-orang yang memandangku sebelah mata. Aku jadi bisa banyak belajar bahwa cara yang benar dalam melihat orang lain bukanlah berdasarkan atribut apa pun selain karakternya. Aku bersyukur bisa termotivasi dan membuktikan diri sebagai pribadi yang lebih baik dan menang melawan diriku sendiri.

Aku percaya kita semua adalah pemegang mandat kehidupan. Yang Mahakuasa memberi kita waktu yang, meski terbatas, sebenarnya adalah kesempatan tak terhingga untuk memilih hidup seperti apa. Aku juga percaya setiap jiwa adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Kita memang bukan pengendali takdir tetapi kita adalah pengendali ikhtiar kita sendiri. Aku ingin bersungguh-sungguh menjalani kehidupan dan menjadi seorang pembeda.

I want to be a  driver, not a passenger.