Tahu Bakso

“Sampai sekarang, aku tak pernah mengerti mengapa kau begitu menggandrungi tahu.”

Perempuan berwajah penyayang itu bicara tanpa menoleh kepada lelaki di sampingnya. Tangan yang dulu berkilau dan wangi itu meraih cangkir hijau di hadapannya. Aroma teh melati menyeruak di udara, bergiliran dengan aroma tahu bakso, otak-otak, dan kopi Pagar Alam.

“Tentu saja tak mudah buatmu untuk mengerti hal itu. Kemengertian tak bisa begitu saja kau peroleh hanya dengan mengamati, atau bahkan hanya dengan membaca buku. Setebal dan sebanyak apa pun buku kau baca, kemengertian belum tentu kau peroleh.”

Lelaki itu menyesap kopinya. Sejenak matanya memejam. Tarikan nafasnya dalam, seraya ia dekatkan bibir gelas kopinya ke ujung hidung. Itu adalah hidung melayu dengan tulang penyangga yang rendah. Hidung yang kerap dimainkan perempuan berwajah penyayang itu.

“Maksudmu?” perempuan itu mengejar.

“Kemengertian hanya bisa sempurna kau peroleh bila pernah mengalami sendiri apa yang ingin kau mengerti. Dalam kasus betapa aku begitu terikat dengan tahu, hanya akan kau pahami jika kau tumbuh dewasa dengan cara sepertiku. Setidaknya, lebih dari 20 tahun aku tumbuh dengan fakta bahwa tahu adalah lauk paling mewah yang kukenal. Selama itu, aku tak bisa membayangkan bagaimana rasa telur, apalagi sepotong ayam. Impianku setiap lebaran hanyalah bisa menikmati opor tahu. Itu sudah impian luar biasa.”

Sorot mata lelaki itu berkelana jauh ke masa yang jauh. Masa di mana ia kerap menyaksikan raut kegelisahan di wajah ibunya. Gelisah memusingkan siasat, memikirkan apa yang akan menjadi teman nasi esok hari. Untung saja beras jatah bapaknya selalu berlebih. Meski dibarter murah, sisa beras itu bisa berganti cabe dan bawang. Itu sudah lebih dari cukup. Masa itu orang tak terlalu peduli siapa gubernur mereka, siapa presiden mereka, maupun apa program-programnya.

“Kau tahu,” lelaki itu melanjutkan, “kau tak akan pernah memperoleh kemengertian betapa nikmatnya makan nasi yang masih mengepul dengan lauk sambal yang masih di cobek. Ya, hanya sambal. Kau tak akan bisa memperoleh kemengertian saat melihat seorang anak menangis hanya karena kehabisan sambal. Maka kau pun tak akan pernah mendapatkan kemengertian bagaimana sepotong tahu bisa menjadi sebuah kemewahan tak terkira.”

Lelaki itu lagi-lagi menarik nafas dalam. Pikirannya mengangkasa, bercampur dengan kepulan asap kopi. Perempuannya menampakkan gestur menunggu. Ia tahu, lelaki di sampingnya belum selesai. Ia hanya sedang mengumpulkan semacam kosakata. Kosakata tajam yang dulu menikam hatinya dan membuatnya jatuh cinta. Ia selalu suka momen menunggu seperti itu.

“Kau tahu, tiap orang pada dasarnya hanya bisa berempati. Sebab empati tidak membutuhkan kemengertian. Ia hanya butuh kepedulian. Itu pun jika orang itu berkenan memperturutkan kepeduliannya. Tetapi kemengertian berbeda. Ia berasal dari kesadaran, sedangkan kesadaran lebih banyak dibentuk dari pengalaman-pengalaman. Itulah sebabnya, Marx bilang kesadaran tak pernah tercipta dari atas singgasana.”

“Tetapi apa salahnya bila rakyat mengharapkan perubahan hidup dari pemimpinnya?”

“Orang-orang yang hanya bergaul dengan gawai itu? Aku kira terlalu sopan jika mereka hanya disebut sebagai pemimpi. Mereka mengira gubernur yang mereka dukung gila-gilaan itu bisa memperbaiki nasib mereka. Mereka samakan gubernur dengan sinterklas. Aku kira mereka adalah kumpulan orang putus asa. Mereka memilih menggantungkan harapan pada manusia. Padahal, mereka gemar menyitir kitab suci. Mereka bertuhan tetapi selalu menempatkan Tuhan di urutan bawah. Mereka larikan ketidakberdayaan sebagai takdir Tuhan tetapi mengharap perbaikan hidup kepada gubernur. Mereka telah memasuki gerbang depresi. Tekanan modernisme tak mampu mereka saring. Mereka terdogma bahwa hidup harus sukses, hidup harus bahagia. Tetapi mereka menggunakan definisi sukses yang bukan berasal dari Tuhan. Padahal, sekali lagi, mereka gemar menyitir kitab suci.”

Untuk kesekian kali, lelaki itu meraih gelas kopinya. Kali ini ia langsung meneguknya. Perempuan itu dengan diam menatap lembut lelakinya. Tangan yang pernah lembut dan wangi itu meraih lengan lelakinya yang matanya sedang berkelana. Itu adalah lengan yang tertempa kerasnya hidup, ia didekatkan pada bibirnya. Diciumnya lembut-lembut punggung telapaknya. Digelayutinya lengan itu dalam dekapan.

“Aku selalu jatuh cinta bila kau mulai bicara seperti itu. Entah mengapa aku selalu merasa aman sekaligus seperti sedang mendengarkan dongeng,” si perempuan berkata sambil menyenderkan kepala di bahu lengan yang masih digamitnya itu.

“Aku juga selalu suka melihat caramu menikmati kopi. Kau terlihat begitu maskulin saat memegang gelas dan mendekatkannya ke bibirmu.”

Lelaki itu kembali menyesap kopinya. Diraihnya kembali sepotong tahu. Citarasa kopi membaui tahu bercampur bakso.

“Kau tahu, kita harus memiliki berbagai definisi yang mesti kita bangun sendiri. Entah itu definisi tentang sukses, tentang bahagia, juga tentang berbagai ukuran dalam memaknai hidup lainnya. Hanya dengan cara seperti itu kita bisa tetap mempertahankan kewarasan.”

Aroma kopi Pagar Alam yang tinggal separuh kembali menguar di udara, kali ini beriring aroma teh melati.

“Aku ikut definisimu, apa pun itu. Aku percaya padamu.”