Puasa, Bom Kampung Melayu, dan Pasar Kordon

Lagi-lagi Jakarta diguncang teror. Di sebuah halte, di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, ledakan bom mengoyak kedamaian ibukota. Tiga orang polisi tewas di tempat, puluhan orang menderita luka-luka. Seolah tak ingin melihat Jakarta damai, para durjana itu beraksi tak lama setelah ingar-bingar Pilkada yang begitu menguras energi, persis tiga hari menjelang puasa! Mereka seolah mengejek kita dengan sinis, “Eh, manusia! Hidupmu tak terlindung apa pun. Jangan sombong dengan Ramadanmu!”

Duh Gusti, gerangan apa yang tengah Engkau skenariokan pada kami?

Lamat-lamat, ingatan membawaku ke bulan puasa tahun lalu. Ramadan yang harusnya menjadi bulan penuh kedamaian itu, tiba-tiba ingar-bingar oleh pertikaian. Adalah penggerebegan Warteg milik Mbok Saeni di Serang yang menjadi pangkal kehebohan itu. Satpol PP kota Serang menyita dagangan milik perempuan tua tersebut. Pertarungan opini paling seru tentu saja di media sosial. Publik geger. Orang-orang terbelah sikapnya. Sebagian mendukung tindakan Satpol PP, sebagian yang lain menentang. Tentu masing-masing membawa dalil pembenaran yang sulit dikalahkan.

Pada titik tertentu, aku berpikir kita ini sedang apa sebenarnya? Tak bisakah menahan diri sejenak sebelum bicara agar tak tercemari emosi?

Kemudian waktu berlalu. Lebaran memungkasi puasa, sekaligus pertikaian yang lebih seru dari perang Syiria.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Albaqarah 183)

Titah lugas dan sederhana itu memang bukan untuk sembarang manusia. Yang Maha Agung hanya berseru kepada orang yang beriman. Dengan demikian, keimanan adalah syarat mutlak pelaksanaan rukun Islam ketiga ini. Jika dikaji lebih jauh, ia akan menghasilkan sebuah konklusi bahwa puasa tak sekedar berhenti pada definisi an sich, yakni menahan diri dari segala hal yang membatalkannya. Puasa tak hanya menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh sejak Adzan Subuh hingga Adzan Magrib. Puasa adalah penyerahan diri secara total kepada Sang Pencipta, bahwa kita ingin menjadi orang yang bertakwa.

“Apakah merokok dapat membatalkan puasa?” seorang teman pernah bertanya pada suatu kali.

“Jika keinginan merokok masih mendominasi pikiranmu sehingga mengganggu konsentrasi puasa, lebih baik kamu berbuka saja,”

Pertanyaan si teman berangkat dari pemikiran bahwa mengisap asap bukan kategori makan atau minum. Bisa saja kukutip dalil untuk memanjang-manjangkan jawaban tetapi jelas bukan itu yang ia butuhkan. Jika jawabanku kurang intelektuil, kau bisa buka kitab “Bughyah al-Mustarsyidin” halaman 111 atau “Bujairimi’ala al-Khatib” juz dua halaman 327. Di sana, secara tegas disebutkan merokok sebagai hal yang membatalkan puasa.

Bicara puasa adalah bicara soal kesunyian. Jika ibadah lain bisa secara kasat mata diketahui orang lain, maka puasa adalah jalan sunyi yang dipilih orang beriman untuk tunduk kepada penciptanya. Puasa, oleh karenanya, menjadi sebuah simbol penyerahan diri. Ia bukan semata-mata perkara melunasi rukun. Jika puasa hanyalah ritual menahan diri dari segala yang membatalkannya, bisa dipastikan kita akan kembali menjadi manusia yang buas dengan makanan dan minuman selepas berbuka, lalu kekenyangan sehingga tak terpanggil untuk pergi ke masjid untuk Tarawih.

Memaknai puasa sebagai ritual menahan lapar dan dahaga hanya akan menjadikan kita pendendam. Tak rela melihat orang lain makan dan minum. Menganggap diri paling tinggi. Merasa paling benar sehingga layak menghakimi orang lain. Memaknai puasa sebagai pengekangan diri berujung pada balas dendam di ujung Ramadan. Lebaran menjadi ajang pamer, festival untuk tampil hedonis, dan lupa kewajiban berbagi terhadap sesama. Puasa, bagi sebagian orang, hanyalah sekian jam tanpa makan dan minum.

Tahun ini, untuk kesekian ratus kalinya, sebagian kita menjalani ibadah puasa. Mari belajar beribadah dalam kesunyian. Mari menciptakan perdamaian dari diri kita sendiri. Tak ada kebaikan yang datang dari keburukan. Tak ada perdamaian yang lahir dari pertempuran.

Jika itu pun terlalu sulit, boleh kapan-kapan kuajak kau ke Pasar Kordon. Itu adalah sebuah pasar tradisional di Bandung. Para pedagang di sana amat pintar menjaga perdamaian. Dengan mudah, kau akan menemui lapak penjual pakaian dalam berdempetan dengan lapak penjaja cabe. Ia tak takut dikomplain oleh pelanggan yang takut alat vitalnya kepanasan setelah memakai celana dalam dari lapak tersebut.

Puasa adalah selalu soal berdamai dengan diri sendiri, belajarlah.